
Pagi ini Shabrina terbangun karena dikejutkan oleh suara Nesya yang menangis mencari ayahnya. Bahkan mata Shabrina masih terlihat sayu dan mengantuk. Dia juga bingung kenapa dia bisa tertidur begitu nyenyak malam ini.
Ya, tidur yang paling nyenyak setelah enam tahun berlalu.
Seperti ada sesuatu yang terlepas dan membuat hatinya tenang. Tapi tidak tahu apa.
Shabrina juga bingung, kenapa dia sudah ada diatas tempat tidurnya pagi ini. Padahal dia merasa jika malam tadi dia masih ada diluar bersama Devan.
Ya Devan, rasanya masih seperti mimpi lelaki itu datang lagi. Cintanya, cinta yang masih begitu lekat hingga saat ini. Namun harus terkubur dengan beban dan tanggung jawab untuk menghidupi kedua anaknya. Tapi setelah melihat lelaki itu lagi, tidak tahu kenapa, semuanya terasa mencuat kembali. Segala emosi, rindu, kecewa dan cinta yang selama ini terpendam. Semua perasaan itu seolah tahu untuk siapa dia ada.
"Bunda...."
Suara Nesya membuat Shabrina terkesiap, dia segera beranjak dan memandang kearah Nesya. Anak perempuan nya ini sudah menangis dan terlihat bersedih.
"Kenapa nak?" tanya Shabrina seraya meraih Nesya kedalam pelukannya.
"Ayah pergi lagi ya?" tanya Nesya, masih dengan Isak tangis sesunggukkan nya.
Shabrina tersenyum dan menggeleng seraya mengusap wajah Nesya yang basah.
"Enggak, ayah tidur diluar" jawab Shabrina, mobil Devan masih nampak dari jendela rumah nya yang bolong dan transparan karena kain jendela itu tersibak.
"Kenapa gak tidur didalam?" tanya Nesya lagi
"Gak muat sayang. Kan tempat tidur kita cuma satu. Ayah tidur dimobil sama om Hans" jawab Shabrina
"Nesya kira ayah pergi. Nesya takut ayah pergi lagi" ucap Nesya
"Enggak, ayah kan udah janji sama Nesya gak akan pergi. Sekarang kita mandi ya. Dari semalam belum mandi kan" ajak Shabrina, namun Nesya menggeleng pelan
"Nesya mau ketemu ayah" sahut Nesya
"Mandi dulu baru ketemu ayah. Biar Nesya cantik, ayah pasti senang" ucap Shabrina
Ah rasanya ada yang aneh dengan pembahasan mereka pagi ini. Aneh dan terasa asing, karena ayah yang mereka cari selama enam tahun ini sudah ada disini.
Ada rasa haru yang tidak bisa diungkapkan disela sela rasa kecewa nya.
"Jadi Nesya harus mandi dulu bunda?" tanya Nesya.
Shabrina mengangguk dan langsung turun dari atas tempat tidur mereka.
"Iya, yuk mandi sama bunda" ajak Shabrina lagi.
Nesya langsung masuk kedalam gendongan Shabrina yang membawanya kebelakang rumah dimana kamar mandi mereka yang ada dibelakang.
"Bunda juga mau mandi biar wangi kan?" tanya Nesya
"Iya nak" jawab Shabrina
"Biar ayah makin sayang dan gak pergi lagi?" tanya Nesya dengan polosnya.
Shabrina langsung tersenyum simpul mendengar itu.
Dia Bahkan tidak tahu, entah perasaan itu masih ada atau tidak dihati Devan. Yang Shabrina tahu saat ini adalah Devan yang hanya ingin anak anaknya tidak hidup susah lagi.
Ya hanya itu. Shabrina tidak ingin berharap lebih. Masalah perasaan itu sudah bukan lagi hal penting sekarang. Yang terpenting adalah nasib kedua anak mereka.
Dan pagi itu Shabrina langsung memandikan Nesya dan sekalian dia juga yang mandi karena dari semalam mereka memang tidak ada yang mandi. Astaga... entah sudah seperti apa bau badan nya sekarang.
Sementara Arsya masih asik tertidur ditempat tidurnya. Bahkan saat Devan masuk, Arsya masih terlelap disana.
Devan tersenyum dan duduk disamping Arsya. Mengusap kepala anak lelakinya itu dengan lembut. Suara air dibelakang sudah membuat nya tahu jika Shabrina dan putrinya pasti sedang mandi.
Usapan tangan kekar Devan membuat Arsya terbangun.
Matanya terbuka dan langsung memandang wajah Devan yang tersenyum menatapnya.
"Ayah" sapa Arsya dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Enak sekali tidurnya?" ucap Devan.
Arsya bangun dan duduk diatas tempat tidur, seraya tangan nya yang mengusap matanya dengan pelan.
Dia menoleh kearah samping, dan sudah kosong.
"Kenapa bunda enggak bangunin Arsya" protesnya
"Bunda lagi mandi sama Nesya. Ayo bangun. Kan sudah ada ayah" ucap Devan.
Arsya mengangguk dan langsung beranjak turun. Bersamaan dengan Shabrina dan Nesya yang juga baru datang. Mereka sudah terlihat segar dan harum.
"Ayah" teriak Nesya. Dia langsung berlari kearah Devan dengan cepat. Bahkan Shabrina sampai terkejut melihat nya.
"Jangan lari lari sayang" ucap Devan seraya menangkap Nesya kedalam pelukannya. Menciumi wajah Nesya dengan gemas.
"Nesya takut ayah pergi lagi" ucap Nesya yang kini memeluk leher Devan dengan erat.
Devan tersenyum dan menggeleng.
"Enggak, ayah kan udah janji" jawab Devan.
"Beneran ya ayah" pinta Nesya
"Iya sayang" jawab Devan.
"Sudah cantik dan sudah harum anak ayah" puji Devan seraya duduk ditempat tidur dan memangku Nesya.
"Udah dong, bunda juga udah cantik. Ayah makin sayang kan" ucap Nesya dengan polosnya.
Shabrina hanya diam dan terus membuka baju Arsya. Sedangkan Devan nampak tertawa dan memandang Shabrina yang nampak acuh.
"Iya, sayang sekali" jawab Devan.
Shabrina hanya diam dan mendekat kearah tempat tidur mereka untuk merapikan selimut dan bantal yang masih berserakan. Sedangkan Arsya sudah pergi kekamar mandi.
"Arsya mandi sendiri?" tanya Devan pada Shabrina
"Iya, kakak kan udah besar, jadi dia mandi sendiri" jawab Nesya.
"Nesya juga sudah besar, tapi masih dimandiin bunda" ucap Devan.
"Enggak ayah, Nesya masih kecil. Masih pendek. Maka nya dipanggil adik" protes Nesya.
Devan kembali tertawa dan mencium gemas pipi chubby Nesya. Membuat Shabrina yang melirik nya terasa begitu terharu.
Ya tuhan..
Bagaimana dia bisa memisahkan mereka. Jika inilah yang diharapkan oleh anak anak nya. Kehadiran sosok ayah yang menjadi pelengkap kebahagiaan mereka.
Tok tok tok
Suara pintu yang diketuk membuat mereka langsung memandang kearah pintu.
Shabrina langsung berjalan kearah pintu dan membukanya. Hans nampak berdiri mematung disana.
"Nona, tuan, ada orang didepan" ucap Hans.
"Siapa ?" tanya Devan yang juga mendekat kearah Hans.
Hans mundur dan membiarkan Shabrina dan Devan keluar.
Mata Shabrina langsung melebar melihat banyak nya orang yang ada didepan rumah mereka sekarang.
Tapi Devan terlihat santai saja sembari menggendong Nesya.
"Ina, kamu bisa bisanya bawa laki laki masuk kedalam rumah. Gak malu kamu?" tanya seorang wanita bertubuh gemuk. Bu Desi, tetangga Shabrina yang selalu mencaci dan menghina nya setiap hari.
Shabrina terdiam dan langsung menoleh pada Devan.
__ADS_1
Bu Sri juga ada diantara kerumunan orang orang itu, sepertinya mereka mau demo.
"Ayah... Nesya takut" kata Nesya yang langsung memeluk leher Devan dengan erat.
"Mereka orang orang yang suka jahatin bunda" adu Nesya.
Pandangan mata Devan yang tadinya tenang kini berubah menjadi tajam.
"Mau apa kalian kesini?" tanya Devan. Suara beratnya itu membuat orang orang itu merasa gentar. Tapi mereka sebenernya juga terkejut saat melihat mobil mewah yang berhenti didepan rumah Shabrina adalah orang dengan penampilan keren dan hebat seperti ini. Tapi mereka tidak tahu siapa Devan. Mereka tahu jika Shabrina adalah single parent tanpa suami. Dan jelas saja ketika Shabrina memasukkan laki laki kedalam rumah, mereka pasti mengira jika Shabrina telah berbuat zina.
"Tuan... apa anda tidak tahu jika Shabrina adalah single parent tanpa suami. Apa kalian mau berbuat mesum disini" ucap Bu Desi. Dia terlihat begitu emosi namun terkesan sinis dan licik.
"Siapa yang kau bilang mau berbuat mesum. Apa otak kotormu itu tidak bisa berfikir?" sergah Devan
Shabrina langsung meraih Nesya yang terlihat turun dari gendongan ayahnya. Dia terlihat takut saat melihat Devan marah.
"Tuan, Shabrina ini sudah membuat beberapa suami kami tergila gila sama dia. Bahkan sudah beberapa kali kami pergoki suami kami datang kerumah nya. Dan sekarang tuan malah mendatangi nya. apa tidak ada wanita lain" sahut Bu Desi.
"Tutup mulut mu itu!" bentak Devan. Membuat mereka semua langsung terkesiap kaget.
Bahkan Arsya berlari keluar saat mendengar suara ayahnya. Nesya sudah memeluk Sabrina karena ketakutan.
"Aku suaminya!! Dan mereka anak anak ku!" ucap Devan begitu lantang, membuat semua orang langsung terperangah kaget mendengar itu.
Bahkan Shabrina juga memandang Devan tidak percaya.
"Mulut kotor mu itu memang harus diberi pelajaran. Apa kau yang selama ini mengatai istriku wanita murahan ha? Siapa yang sudah berani mencaci istri dan anak ku selama ini?" tanya Devan lagi. Wajah nya sudah memerah menahan emosi.
"Mana buktinya jika anda suami Ina?" tanya Bu Desi lagi. Meski dia terlihat takut, tapi sepertinya dia memang masih mau mencari kesalahan Shabrina
Devan tersenyum sinis, dia langsung menarik Arsya kedepan.
"Apa anak lelaki ku ini tidak bisa membuka matamu ha?" tanya Devan.
Semua orang langsung terperangah kembali. Mereka baru sadar. Jika wajah Arsya memang sangat mirip dengan wajah Devan.
"Bukan karena aku tidak ada bersama mereka selama ini jadi kalian bisa seenak nya. Katakan padaku, siapa yang telah dihutangi oleh istriku selama ini" tanya Devan lagi
Semua orang yang ketakutan langsung menunjuk Bu Sri yang juga sudah memucat wajahnya. Dia juga takut melihat kemarahan Devan.
Sedangkan Shabrina masih memeluk Nesya dan memandang bu Sri dengan tidak enak. Dia juga tidak tahu dari mana Devan tahu jika dia berhutang. Apa dari Arsya?
"Mas ... Jangan marah. Bu Sri sudah begitu baik pada kami selama ini" ucap Shabrina
Bu Sri langsung memandang nya dengan perasaan bersalah.
Devan hanya diam dan memandang Bu Sri dengan lekat.
"Hans, berikan padanya" ujar Devan pada Hans.
Hans langsung mengangguk dan dengan sigap langsung mengeluarkan uang beberapa tumpuk dan menyerahkan nya pada bu Sri.
Mata Bu Sri sampai terbelalak lebar melihat itu.
"Tuan... ini .. ini banyak sekali" ucap Bu Sri. Tangan nya bahkan bergetar hebat memegang uang itu.
"Itu untuk bayaran karena kau sudah mau membantu istri dan anak ku, meskipun kau sering memarahi dia kan" tuding Devan.
"Ma... maafkan saya tuan" Bu Sri langsung tertunduk takut.
"Untuk apa meminta maaf padaku, tapi pada istriku. Kalian sudah menghina nya dengan kejam, menghina anak anak ku. Apa kalian fikir kalian sudah hebat ha?" tanya Devan. Nada bicara nya masih terdengar marah. Namun itu yang membuat Arsya nampak tersenyum senang.
Ya, dia senang melihat orang orang ini ketakutan.
"Jika aku mau, hidup kalian sudah aku hancurkan hari ini. Bahkan aku bisa membeli mulut mulut kotor kalian itu!" ancam Devan. Dan saat dia mengatakan itu, bersamaan dengan beberapa mobil mewah yang datang kerumah Shabrina.
Beberapa orang berjas dengan tampang sangar mereka turun dari dalam mobil dan mendekat kearah Devan. Menunduk penuh hormat dihadapan lelaki itu. Dan tentu saja itu membuat semua orang yang ada disana langsung gemetar ketakutan. Karena ternyata suami Shabrina yang mereka hina selama ini bukanlah orang biasa.
Bruk
__ADS_1
Bu Desi dan beberapa orang lain bahkan langsung jatuh terduduk dengan lutut yang bergetar lemas.