Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Kebahagiaan Yang Tidak Bisa Diungkapkan


__ADS_3

Devan turun dari mobil dengan wajah yang benar benar lelah. Bukan lelah karena bekerja, tapi hati dan otak nya yang lelah karena ambisi kedua orang tuanya.


Bisa bisa nya setelah enam tahun berlalu, gadis itu datang lagi dan masih saja ingin melanjutkan pernikahan itu.


Kenapa semua datang secara bersamaan seperti ini???


Enam tahun lalu saat Devan koma selama sebulan lebih, mereka membatalkan pernikahan karena menunggu Devan untuk sembuh dan pulih kembali. Tapi setelah Devan pulih, Adinda pergi ke London untuk melanjutkan studi nya. Devan merasa tenang saat itu, apalagi ketika dia pulih fokusnya hanya mencari Shabrina.


Tapi kenapa sekarang Adinda kembali lagi?


Benar benar menjengkelkan. Baru saja Devan ingin merajut benang yang sempat terputus dan menguntai kembali kebahagiaan bersama keluarga kecil nya. Tapi cobaan sudah datang lagi.


Tidak...


Kali ini apapun yang terjadi, tidak akan ada lagi yang boleh memisahkan dia dengan cintanya. Apalagi kini Devan sudah memiliki anak anak yang membutuhkan dia.


Langkah kaki Devan langsung menuju kamar Nesya. Mungkin ketika melihat anak anak nya semangat nya akan kembali bangkit.


Dengan pelan Devan membuka pintu, dan senyum langsung mengembang diwajahnya saat melihat Nesya sudah tertidur, apalagi dia tertidur bersama Shabrina.


Devan menutup pintu dengan pelan dan berjalan mendekat kearah mereka.


Ya Tuhan...


Kebahagiaan ini jangan lagi diganggu. Hal yang tidak pernah Devan bayangkan sebelumnya. Masih ingat jelas diingatan nya bagaimana dia yang setiap malam tidak dapat tertidur sebelum membayangkan senyuman Shasa nya. Dan sekarang, dia sudah ada disini, dirumah Devan. Dan kebahagiaan Devan bukan hanya itu saja, tapi juga dengan kehadiran dua buah hatinya.


Devan tersenyum dan mengusap wajah Shasa yang nampak tertidur dengan lelap. Wajah yang terlihat lelah dan penuh luka. Betapa besar beban yang Shasa tanggung sendirian selama enam tahun ini, dan semua itu karena Devan.


Maka sekarang, tugas Devan adalah membahagiakan dia dan anak anak nya.


Devan menoleh pada Nesya, wajahnya perpaduan antara Devan dan Shabrina. Gadis kecil yang juga memiliki mata indah seperti bunda nya.


Devan mengecup dahi Nesya dengan lembut, mengusap kepala nya dengan penuh sayang. Dan setelah itu, dia juga mengecup kepala Shabrina yang tertidur memeluk Nesya. Tapi karena ciuman Devan, Shabrina malah menggeliat membuat Devan langsung beranjak dan pergi menuju kamar Arsya. Jangan sampai Shabrina kesal karena ulah nya. Cukup sudah saat dia mau pergi tadi melihat wajah kesal itu.


Devan duduk diranjang Arsya. Anak lelaki nya ini juga nampak tertidur begitu pulas. Sepertinya mereka semua nampak kelelahan karena perjalanan panjang hari ini. Dan ketika sampai dirumah, sama sekali tidak ada beristirahat karena asik bermain.


Devan langsung merebahkan tubuhnya disamping Arsya. Memeluk anak lelaki yang sangat mirip dengan nya.


Ah... rasanya nyaman dan tenang sekali.


Hal yang lagi lagi tidak pernah dibayangkan nya. Bisa tidur dengan anak nya sendiri.


Mungkin nanti setelah menikahi Shabrina barulah dia bisa memeluk dan melepaskan rindu dengan Shasa nya itu.


Devan sudah tidak sabar.

__ADS_1


Dan karena lelah, akhirnya Devan tertidur disamping Arsya.


Tidur dengan nyenyak dan melupakan semua masalah yang akan menerpa.


...


Keesokan harinya....


Matahari sudah mulai menghangat. Dan Devan masih betah dalam tidur nya. Hingga sebuah seruan dan pelukan ditubuhnya membuat dia terbangun.


"Ayah.....!!!"


Suara kecil Nesya membuat Devan membuka mata. Dia langsung tersenyum saat melihat Nesya sudah naik keatas tubuhnya.


"Oh sayang ayah sudah bangun" ucap Devan dengan suara yang serak. Dia langsung memeluk Nesya dengan gemas.


"Ayah curang, kenapa tidur dengan kakak, kenapa tidak dengan Nesya saja" ucap Nesya terlihat begitu kesal.


Devan terkekeh dan mencium gemas pipinya. Dia menoleh pada Arsya yang juga baru terbangun karena teriakan Nesya.


"Nesya sudah ada bunda yang menemani. Tempat tidurnya tidak muat kalau harus tidur bertiga sayang" jawab Devan.


Nesya mengerucutkan bibirnya dan malah duduk diatas perut Devan.


"Lain kali ayah harus tidur dengan Nesya" pinta Nesya.


"Ayah tidur disini ya?" tanya Arsya yang sudah duduk sembari mengusap mata nya.


Devan tersenyum dan mengusap kepala Arsya.


"Iya, kamu gak tahu?" tanya Devan.


Arsya menggeleng pelan.


"Ayah pulang jam berapa, kenapa tidak bangunkan Nesya" tanya Nesya pula


"Memang nya kenapa? Ayah sudah sangat malam baru pulang" jawab Devan


"Kan kalau ayah bangunkan Nesya. Nesya bisa tukar tempat tidur dengan kakak" ucap Nesya.


"Enak saja, sudah punya tempat tidur masing masing juga" sahut Arsya.


"Tapi kan Nesya mau tidur dengan ayah kakak!" seru Nesya. Wajah cemberut nya itu sangat menggemaskan.


"Tidak boleh, ayah cuma boleh tidur sama kakak" ucap Arsya yang langsung tidur dan memeluk lengan Devan.

__ADS_1


Devan terkekeh geli melihat kelakuan Arsya. Dia pendiam tapi senang sekali menggoda adiknya.


"Kakak.... ini ayah Nesya... pergi sana!!" teriak Nesya seraya memukul lengan Arsya.


"Ini ayah kakak!!" sahut Arsya pula


"Ayah Nesya!!" teriak Nesya lagi.


Devan tertawa dan menarik Nesya untuk bersandar didada nya, sedang tangan satu nya, masih dalam pelukan Arsya.


"Hei... ayah berdua oke. Harus berbagi" ujar Devan seraya mengecup kepala Nesya yang nampak cemberut.


"Kakak jahat" ucap Nesya.


"Mana ada, dari semalam kamu terus yang bersama ayah" sahut Arsya


"Tidak juga" jawab Nesya.


"Ya ampun... sudah sudah. Kenapa jadi bertengkar hmm... oh kita belum ada yang mandi kan. Nesya juga masih bau" ucap Devan


"Biar saja, walaupun bau, tapi Nesya cantik seperti bunda" jawab Nesya dengan angkuh nya. Devan dan Arsya langsung tertawa mendengar itu.


"Mana ada, bunda yang paling cantik. Kamu jelek" goda Arsya lagi.


"Enggak, Nesya paling cantik. Ya kan ayah" Nesya memandang Devan dengan mata yang melebar. Membuat Devan kembali tertawa dan mengangguk.


"Iya Nesya cantik, dan paling cantik" jawab Devan


"Tuh dengar ... wkk" Nesya langsung menjulurkan lidah nya pada Arsya


Arsya langsung memasang wajah jelek nya dan beranjak duduk. Dia langsung menarik Nesya dan menggelitik perut adik nya.


"Aaaahhh kakak geli!!!!" teriak Nesya dengan tawa terbahak bahak nya. Bahkan dia menggeliat diatas perut Devan sekarang.


"Ayah... kakak !!" seru Nesya lagi


Devan tertawa dan memeluk Nesya, menggulingkan nya kesamping hingga Arsya tak dapat lagi menyentuh nya.


"Curang!!" teriak Arsya yang langsung naik ke tubuh Devan.


Mereka bercanda dan tertawa bersama sama diatas tempat tidur. Bahkan tubuh Devan menjadi bulan bulanan Nesya dan Arsya. Tapi dia bahagia, sungguh, kebahagiaan yang tiada terkira dan tidak dapat di ungkapkan dengan kata kata. Tawa dan senyum kedua anak nya adalah hal yang terindah yang membuat semangat hidupnya semakin membara.


Dan karena keasikan bercanda, mereka tidak sadar jika Shabrina sejak tadi memperhatikan mereka dengan mata yang berkaca kaca penuh haru.


Ya dia bahagia, sangat bahagia melihat pemandangan ini.

__ADS_1


Bisakah mereka selalu seperti ini setiap saat????


__ADS_2