
Galen meminta Diandra menyandarkan kepala dibahunya. Sambil menonton tangan Galen terus mengusap rambut Diandra.
Galen berharap Diandra cepat melupakan trauma pelecehan yang terjadi padanya, karena jika Diandra telah pulih dari trauma, suaranya akan bisa kembali lagi.
Hanya perhatian dan empati dari orang terdekat yang dapat memulihkan trauma dengan cepat.
Satu jam berlalu, Galen melihat Diandra telah terlelap. Dikecupnya pipi wanita itu dengan lembut.
Galen perlahan menggendong Diandra dan membawanya menuju ranjang dan meletakkan perlahan ke atas ranjang.
Saat Galen akan pergi, Diandra menahannya dengan memeluk tubuh Galen erat, namun matanya masih terpejam.
Galen akhirnya ikut berbaring di samping tubuh Diandra dengan posisi miring menghadap wanitanya itu.
Setelah melihat Diandra benar-benar terlelap, Galen melepaskan pelukan Diandra dan mengambil ponselnya.
Galen masih berusaha menghubungi kedua orang tuanya. Ponsel keduanya tidak bisa dihubungi.
Galen akhirnya memutuskan besok menghubungi kembali. Jika tidak bisa juga, Galen telah memutuskan akan tetap menikahi Diandra.
Galen ingin menemani Diandra tanpa ada yang mengganggu dan menghalangi. Karena matanya yang telah ngantuk, Galen akhirnya tertidur di samping Diandra.
Pagi hari Diandra bangun dan melihat Galen di sampingnya. Diandra memiringkan tubuhnya menghadap pria itu. Diandra mengusap wajah Galen yang tampan tanpa cela. Dengan rahang tajam dan wajah bersih.
Tiba-tiba mata Galen terbuka dan langsung mengecup bibir Diandra membuat wanita itu kaget dan membesarkan bola matanya.
Galen membalas dengan tersenyum semringah dan menarik pinggang Diandra hingga tubuh mereka kini berpelukan tanpa jarak.
"Aku ingin menikah denganmu secepatnya, agar pemandangan pertama aku saat bangun tidur adalah wajah indahmu," ucap Galen.
__ADS_1
Diandra memandangi wajah Galen yang berjarak tidak lebih dari sejengkal dari wajahnya dengan tersenyum.
"Aku bersyukur kepada Tuhan karena sudah diberikan satu hati untuk mencintaimu, satu otak untuk selalu memikirkanmu dan satu mulut yang tak pernah berhenti untuk selalu mendoakanmu untuk jadi istriku. Sekarang semoga doa ku terkabul.Tidak lama lagi, kamu akan jadi milikku,"ucap Galen menggesek hidungnya ke hidung Diandra.
"Berjuta rasa yang tak mampu diungkapkan kata-kata. Dengan beribu cara-cara kau selalu membuat ku bahagia. Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu di sini ada untukku. Maukah kau tuk menjadi pilihanku? menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau tuk menjadi yang pertama? Yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata?" tanya Galen.
Diandra menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku atau kamu mandi duluan. Kita gantian dulu mandinya, kalau mau bareng tunggu kita nikah," ucap Galen sambil tertawa.
Diandra yang mendengar ucapan Galen langsung menghujani Galen dengan cubitan.
"Geli, Sayang," ucap Galen. Tanpa sadar telah memanggil Diandra dengan kata sayang.
Diandra kembali kaget mendengar ucapan Galen. Galen yang menyadari ucapannya menangkup wajah Diandra.
"Kenapa kaget? Kamu emang kesayanganku. Jangan memandangi aku seperti itu Diandra. Aku nggak kuat. Ingin rasanya mencium dan meluk kamu hingga siang nanti."
"Aku mandi duluan, setelah itu baru kamu," ucap Galen. Dia berjalan cepat masuk ke kamar mandi.
Sampai di kamar mandi Galen berdiri di depan kaca, dan bicara sendiri.
"Astaga! Apa yang tadi terlintas dalam Pikiranku. Kenapa aku berpikir ingin mencium dan me*lu*mat bibir merah dan tipis miliknya," gumam Galen dengan diri sendiri.
Galen berjalan menuju shower dan membasahi seluruh tubuhnya.
Setelah berpakaian rapi barulah Galen keluar dari kamar mandi. Diandra memandangi Galen tanpa kedip saat pria itu keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Galen yang menyadari pandangan Diandra mendekati wanita itu.
"Kenapa memandangi aku seperti itu? Baru sadar kalau aku ini ganteng banget."
Diandra cemberut mendengar ucapan pria itu. Galen lalu mengusap rambutnya.
"Mandilah! Setelah itu kita sarapan.Habis sarapan temani aku ke kantor KUA, mengurus pernikahan kita besok."
"Hhhhaaa ...," ucap Diandra mengeluarkan suara.
"Sayang, kamu bersuara. Coba lagi," ucap Galen dengan antusias.
Diandra mencoba kembali bersuara, namun tidak bisa. Berulang kali mencoba namun masih tidak berhasil.
"Jangan dipaksakan. Aku yakin sebentar lagi suaramu kembali. Sekarang mandilah. Atau mau aku mandikan," canda Galen agar Diandra tidak sedih lagi.
Diandra cemberut mendengar kata Galen. Dia segera masuk kamar mandi, setengah jam kemudian Diandra keluar dengan pakaian rapi.
Kali ini Galen yang memandang takjub ke arah Diandra. Terpesona dengan kecantikan wanita itu.
Galen langsung berdiri dari duduknya dan memeluknya.
"Kamu cantik banget," bisik Galen dengan memeluk tubuh Diandra. Galen memeluknya erat.
"Tuhan begitu sempurna menciptakan seseorang seperti kamu, dan aku beruntung bisa memilikimu.Mungkin tak ada sebuah kata yang mampu mengungkapkan, betapa bahagianya aku saat ini, saat bersamamu," ucap Galen.
...****************...
__ADS_1
Bersambung