CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Empat Puluh Satu. CTK.


__ADS_3

Galen menemani Diandra tidur. Hatinya sangat bahagia karena di rahim Diandra mulai tumbuh benih cinta mereka.


Tidak hentinya Galen mengucapkan syukur. Dia teringat kedua orang tuanya.


Jika saja Papa dan Mama tau, aku akan memiliki buah hati, pastilah mereka sangat senang.


Hingga jam makan siang tiba, barulah Galen bangun. Dia juga membangunkan istrinya.


"Sayang, kamu mau dibelikan apa buat makan siang?" tanya Galen sambil mengguncang lengan Diandra pelan.


Diandra membuka matanya perlahan dan tersenyum melihat suaminya.


"Selamat pagi, Mas Galen," ucap Diandra manja dan mengecup pipi Galen.


"Selamat siang, Sayang."


"Selamat siang?" tanya Diandra.


"Iya, Sayang. Udah siang. Waktunya makan siang. Kamu mau aku belikan apa buat makan siangnya."


"Aku mau bebek cabe hijau. Masakan Padang."


"Serius mau makan dengan lauk itu?" tanya Galen.


"Emangnya kenapa?"


"Itu makanan pedas, loh. Nanti kamu sakit perut."


"Tapi aku pengennya itu."


"Baiklah, aku belikan. Namun, kamu nggak boleh makan sambalnya. Hanya bebeknya aja."


Dengan cemberut Diandra mengangguk tanda setuju. Galen mencubit pelan hidung istrinya itu.


"Aku pergi belikan bebek cabe ijo-nya dulu. Kamu tetap di lantai atas. Jangan turun ke bawah. Apa lagi dengan pakaian begini. Tubuh kamu itu hanya boleh aku yang lihat."



"Aku juga akan marah jika kamu genit dengan wanita lain. Awas aja kalau senyum-senyum sama wanita lain nanti."

__ADS_1



"Aku itu tidak akan mencari wanita lain, 5ayang. Kamu udah secantik ini. Mau cari yang bagaimana lagi?"


"Pergilah, Mas. Jangan lupa jus buah naga dan kembali secepatnya."


"Oke, Sayang. Tidurlah lagi. Nanti. aku bangunkan saat kembali."


Galen membantu Diandra berbaring kembali dan diselimuti tubuh mulus istrinya itu. Sebelum pergi, Galen mengecup dahi Diandra..


...----------------...


Di perusahaan milik Papa Galen, pria itu menghubungi semua rekan kerjanya satu persatu dan mengatakan jika membutuhkan servis motor dan mobil datangi bengkel Galen.


Papa telah meminta orang kepercayaannya untuk menyelidiki Galen sehingga tau di mana Galen tinggal dan apa yang dilakukan anaknya itu.


Diam-diam beberapa hari ini Papa sering mendatangi bengkel Galen dan memperhatikan dari kejauhan.


Galen yang baru kembali dari rumah makan Padang mencarikan masakan bebek cabe Ijo kaget melihat seseorang yang dikenalnya sedang berada dibengkel miliknya.


"Selamat siang,Om," sapa Galen. Orang tersebut membalikkan badan dan tersenyum melihat Galen yang menyapanya.


"Iya, Om. Saya Galen." Galen mengulurkan tangannya. Papa Galen telah berpesan agar jangan mengatakan jika dirinya yang merekomendasikan bengkel milik Galen.


"Ternyata ini bengkel milik kamu. Kenapa tidak meneruskan usaha Papa kamu saja."


"Saya lebih senang usaha ini,Om.Ingin mandiri. Saya ingin tahu,berapa kemampuan jika buka usaha sendiri."


"Papa kamu emang pria hebat. Bisa mendidik anaknya. Tidak mengharapkan harta orang tua saja. Om lihat bengkel kamu ini cukup ramai. Kenapa tidak minta modal dari Papa kamu dan membuka usaha lebih ke kota. Pasti akan lebih rame."


"Saya ingin memulai dan mencoba dari nol, Om. Seperti yang tadi saya katakan. Saya ingin menguji seberapa kemampuan saya dalam usaha."


"Baguslah. Om suka anak muda yang bersemangat seperti kamu. Nanti Om rekomendasi pada teman-teman, Om."


"Terima kasih, Om. Maaf, Om mau minum apa? Kita mengobrol sambil duduk di sana aja."


"Lain kali aja, Galen. Om masih ada jadwal pertemuan dengan seseorang. Om mau pamit. Setelah selesai hubungi Om aja."


"Baik, Om."

__ADS_1


"Om pamit dulu." Pria itu berjalan meninggalkan Galen yang masih bingung dan heran, kenapa Om teman Papa-nya itu bisa sampai ke bengkel miliknya. Pastilah sebelumnya dia telah memiliki bengkel langganan.


Galen bertanya dengan salah seorang karyawannya. Dia mengatakan juga tidak tahu dari mana Om itu. Tiba-tiba datang mengatakan ingin servis mobilnya yang telah karang digunakan.


Galen naik ke lantai atas, karena tidak juga mendapat jawaban atas pertanyaannya. Saat Galen masuk ke ruang televisi, nampak Diandra sedang menonton. Menantikan kedatangannya.


Galen merasa bersalah melihat istrinya. Pasti Diandra sudah sangat lapar.


"Sayang, maafkan aku ya. Kamu pasti udah lapar." Galen mengecup pipi Diandra.


"Dapat bebek cabe ijonya,Mas?" tanya Diandra.


"Tentu saja. Aku mencarinya hingga ketemu. Aku tak mau anak kita ileran nanti karena ngidam ibunya tidak kesampaian. Aku ambilkan nasi dulu ya."


Galen meletakkan bungkusan bebek itu ke meja. Dia mengambil nasi sepiring dan mangkuk buat bebek. Diandra menyalin bebek itu ke mangkuk yang dibawa Galen.



"Sayang, tadi aku bertemu teman papa di bengkel."


"Mau ngapain ke sini, Mas?"


"Mau servis mobilnya yang telah lama tidak digunakan. Yang menjadi pertanyaan aku dari tadi, dari mana Om itu tau bengkel ini? Dia sepertinya emang telah berencana membawa mobilnya ke bengkel kita, karena mobil yang mau di servis dibawa oleh supirnya."


"Mungkin dia tahu bengkel ini dari Papa," jawab Diandra.


"Apa itu berarti Papa tau semuanya?"


"Bagus dong jika Papa tau semuanya. Itu berarti ternyata Papa diam-diam mengawasi kamu."


Galen termenung mendengar ucapan Diandra.


Apa mungkin selama ini ternyata Papa mengawasi dirinya. Papa tau semua yang dia lakukan.


...****************...


Bersambung


Selamat Pagi semuanya. Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini.

__ADS_1



__ADS_2