
Galen mengecup dahi istrinya itu. Merasa bersyukur memiliki istri seperti Diandra yang dengan mudah memaafkan kesalahan seseorang. Padahal kedua orang tuanya jelas-jelas tidak menerima kehadiran Diandra, namun istrinya tidak pernah sekalipun mengatakan hal buruk tentang mereka.
Diandra selalu berkata, apa yang kedua orang tuanya lakukan, itu pasti tujuannya demi kebaikan anak-anak mereka. Suatu saat jika kami memiliki anak, mungkin kelak akan melakukan hal yang sama.
Pemikiran Diandra inilah, yang membuat Galen makin mencintai istrinya itu. Bersyukur dipertemukan dengan wanita seperti Diandra.
"Sayang, aku boleh coba menghubungi Papa atau mama?" tanya Galen pelan.
"Cobalah. Siapa tau nomor kamu udah dibuka blokirnya."
"Kenapa aku jadi gugup, Sayang?"
"Itu biasa karena kamu udah lama tidak menghubungi mereka."
Galen mencoba menghubungi nomor mamanya, masih tidak ada nada sambung.
"Mama masih memblokir nomor aku, Sayang," ucap Galen. Tampak kekecewaan di wajahnya.
"Coba nomor ponsel Papa," ujar Diandra.
"Mama aja masih memblokir nomor aku. Apa lagi Papa, Sayang!"
"Coba aja dulu. Siapa tau malah papa yang telah membuka blokir nomor kamu. Buktinya Papa sering. mengawasi kamu."
"Udahlah, Sayang. Kita tidur aja."
"Cobalah dulu. Jika belum mencoba, mana tau hasilnya. Nanti kamu jadi penasaran dan kepikiran. Kalau udah di coba, lebih enak."
Galen mengambil kembali ponselnya yang tadi dia letakkan di atas nakas. Galen memencet nomor papa dengan lagu.
"Sayang, tersambung. Apa yang aku katakan jika Papa mengangkatnya?" bisik Galen.
"Tanyakan kabar dan beri kabar kehamilanku."
"Baiklah, Sayang."
Tidak begitu lama, terdengar suara Papa Galen menyapa.
"Selamat Malam."
"Selamat malam, Pa. Apa kabarnya Papa," ucap Galen gugup.
"Papa sehat. Kamu dan Diandra bagaimana?" tanya Papa.
__ADS_1
Galen memandangi Diandra karena tidak menyangka Papa-nya menanyakan kabar Diandra. Istrinya itu tersenyum mendengarnya. Galen memang sengaja menghidupkan pengeras suaranya. Diandra menganggukkan kepala mengisyaratkan agar Galen menjawab pertanyaan Papa.
"Aku dan Diandra sehat. Mama apa kabarnya,Pa?"
"Sekarang mama sering sakit."
"Sakit apa,Pa?" tanya Galen kuatir.
"Mungkin memikirkan kamu."
"Memikirkan aku?"
"Kamu datanglah. Lihat mama kamu. Bawa Diandra."
"Aku boleh bawa Diandra,Pa?" tanya Galen.
"Tentu saja boleh. Bukankah dia istrimu."
"Baiklah,Pa. Besok aku ke sana dengan Diandra. Aku juga ingin mengatakan kabar baik,Pa."
"Kabar baik, apa?"
"Diandra saat ini sedang mengandung anakku, Pa. Cucu Papa dan Mama."
"Baik, Pa. Sampaikan salam dariku dan Diandra buat mama. Udah dulu, Pa."
"Iya."
Galen memutuskan sambungan ponselnya. Air mata jatuh membasahi pipinya. Galen tidak menyangka Papa akan mau menerima Diandra.
"Sayang, Papa udah bisa menerima kamu," ucap Galen terbata karena menahan tangisnya.
Mata Diandra juga tampak berkaca menahan tangisnya. Dia tidak pernah berpikir akan secepat ini Papa Galen bisa menerimanya kembali.
Papa menemui mama yang sedang menonton, dan duduk di samping Mama.
"Ma, ada yang ingin Papa sampaikan."
"Apa, Pa? Serius amat wajah Papa."
"Besok Galen dan Diandra mau berkunjung melihat keadaan Mama."
"Masih ingat juga Galen dengan mamanya. Kenapa harus membawa Diandra?"
__ADS_1
"Ma, Diandra sedang hamil. Papa harap Mama udah bisa memaafkan, jika perlu meminta maaf."
"Apa Galen yakin itu anaknya?"
"Ma, jangan bicara begitu. Satu lagi yang harus mama ketahui," ucap Papa.
"Apa lagi, Pa? Masih tentang Diandra. Kenapa bukan berita Galen aja?"
"Diandra tidak berbohong mengenai pelaku pelecehan dirinya."
"Maksud Papa?"
"Papa meminta orang kepercayaan buat menyelidiki semua. Ternyata memang Adit yang telah melecehkan Diandra. Adit juga telah mengakui perbuatannya dengan Papa."
"Tak mungkin, Papa jangan bercanda," ucap Mama.
"Papa tidak bohong,Ma."
"Bagaimana mungkin ini terjadi," ucap Mama. Tampak tubuh Mama lemas. Dia menyandarkan tubuhnya dengan tangan berada di kepala sambil menarik rambutnya.
"Ma, jangan mama pikirkan. Biar Papa yang selesaikan semua ini. Jangan sampai Galen mendengar jika kita telah tau siapa pelaku pelecehan itu. Kita akan tetap bicara dengan Galen dan memintanya agar dia tidak menuntut Adit."
Mama masih duduk dengan bersandar di sofa. Pikirannya menerawang entah kemana.
...****************...
Bersambung.
Selamat siang semuanya. Masih setia menunggu kehadiran Galen dan Diandra?
Di bawah ini ada novel teman mama, bisa dijadikan bacaan sambil menunggu novel ini update.
Nama Pena : AdindaRa
Judul Novel : Complicated Mission
Blurb :
BrigPol Rychelle Olyvia harus menjalankan misi khusus yang memang dipersiapkan bersama kakaknya selama 6 tahun yang lalu saat ia kehilangan ayahnya (Iptu Ryan One). Ayahnya menghilang saat hendak menguak perjudian dan perdagangan narkoba terbesar di Kota Metropolitan.
Kini ia memutuskan untuk mengubah identitasnya agar dapat masuk di Kantor Besar Bank One Point yang mana dulunya adalah gedung tua yang digunakan sebagai tempat untuk berjudi dan perdagangan narkoba.
Misinya kali ini membuat Rychelle harus berhadapan dengan CEO Bank One Point, Alarick Berwyn yang dikenal berdarah dingin dan kejam. Rychelle juga harus berhadapan dengan Molly, tunangan Alarick yang juga menjabat sebagai Chief Financial Officer (CFO) Bank One Point.
__ADS_1