
Tiga bulan telah berlalu. Kesehatan mental dan jiwa Adit telah makin membaik. Saat ini Adit telah mau berkumpul jika Galen dan Diandra berkunjung.
Papa dan Mama meminta Adit untuk melanjutkan kuliahnya. Agar suatu hari nanti dia bisa memimpin salah satu perusahaan. Papa memilik dua perusahaan dan ingin anak-anaknya nanti yang akan memimpin.
Papa ingin beristirahat dari rutinitas kegiatan sehari-hari. Papa ingin menghabiskan waktu di rumah bersama cucu-cucunya kelak.
Saat ini kandungan Diandra memasuki bulan keempat. Galen berencana ingin mengadakan syukuran kehamilan Diandra.
"Sayang, Mama minta kita mengadakan syukuran di rumah kediaman mereka. Menurut kamu bagaimana? Apakah kamu keberatan?" tanya Galen.
"Aku terserah kamu aja, Mas. Mana yang terbaik aku ikuti."
"Kapan sih kamu punya pendapat sendiri. Selalu aja terserah aku."
"Karena aku yakin kamu akan memberikan yang terbaik untuk aku dan bayi kita."
"Sayang, aku jadi makin cinta denganmu. Tidak pernah menuntut, selalu menerima apapun yang aku berikan."
Galen memeluk Diandra dan membawanya ke dalam dekapan dadanya.
...----------------...
Diandra dan Galen datang berkunjung ke rumah orang tuanya Galen. Mereka ingin membicarakan tentang persiapan syukuran kehamilan Diandra.
"Mama sih maunya diadakan di rumah ini. Biar lebih leluasa. Jika diadakan di Ruko tempat kalian tinggal, selain kurang nyaman karena tempat yang kecil juga akan banyak kerjaan nantinya," ucap Mama.
"Memangnya menambah pekerjaan apa?" Aku kurang paham," tanya Galen.
__ADS_1
"Tentu saja menambah pekerjaan. Alat-alat bengkel kamu,.pastilah harus di susun dan dirapikan."
"Mama benar, Mas. Jika menggunakan Ruko untuk acara syukuran, kita harus susun dan rapikan semua barang yang ada."
"Baiklah, jika begitu. Tapi aku yang akan memesan makanan dan yang akan menentukan dekorasinya. Pembayaran semuanya aku yang tanggung. Aku cuma numpang rumah ini buat syukuran aja."
"Apa kamu tidak mengizinkan mama berbagi dengan calon cucu pertama. Mama juga ingin memberikan sesuatu untuk calon cucu mama."
"Mama bisa membantu Diandra nanti saat dia melahirkan. Pasti Mama orang yang paling direpotkan nantinya. Walau nanti akan ada seseorang yang membantu merawat anakku, tapi pasti Diandra akan membutuhkan bantuan Mama juga."
"Itu tanpa di minta pasti akan mama lakukan."
"Ma, aku pamit ke dapur dulu. Tadi aku ada bawa puding buatanku. Aku masuk kulkas mama. Aku bawa ke sini, apa mama dan papa mau mencicipi?" tanya Diandra.
"Tentu saja mau. Kenapa tak ngomong dari tadi kalau kamu ada buat puding," ucap Papa bercanda.
Saat Diandra mau menaruhnya di atas meja makan, dia dikagetkan karena kehadiran Adit. Walau pria itu telah banyak berubah, namun rasa canggung saat bertemu masih Diandra rasakan. Trauma atas apa yang pernah Adit lakukan pada dirinya, belum sepenuhnya hilang.
"Abang! Buat aku kaget aja," ucap Diandra menghilangkan kegugupan.
"Apa ini yang kamu ambil dari kulkas?"
"Puding. Bang Adit, mau? Aku potongkan?"
"Boleh, jika kamu tidak keberatan!"
"Tentu saja tidak." Diandra memotongnya dan meletakkan ke dalam piring. Diandra menyerahkan ke hadapan Adit.
__ADS_1
"Dian, terima kasih atas saranmu agar aku ke psikolog. Aku sekarang merasa lebih tenang dan lebih terasa nyaman."
"Syukurlah jika Abang merasa begitu."
"Abang rasa kamu juga perlu ke psikolog!" ucap Adit. Diandra kaget mendengar saran dari pria itu.
"Maksud Abang?"
"Aku tau Dian, kamu masih takut dan cemas jika berhadapan denganku. Namun, kamu sekuat tenaga mencoba melawan semua rasa takutmu karena menghormati Galen dan keluarga ini. Pergilah kamu ke psikolog. Hilangkan trauma yang kamu rasakan."
Diandra menghentikan kegiatannya. Dia memandangi Adit dengan tersenyum miring.
"Ternyata emang benar apa yang sering orang katakan itu, jika teori itu gampang, tapi mempraktekan susah. Aku dengan mudahnya menasihati agar Abang Adit pergi konsultasi untuk dapat melupakan dan mengikhlaskan semua yang terjadi, namun aku sendiri tidak melakukan apa yang aku katakan."
Adit tersenyum mendengar ucapan Diandra. Dia tahu betul apa yang wanita itu rasakan. Pasti sulit untuk melangkah menuju tempat praktik seorang psikolog karena stigma yang terlanjur berkembang di masyarakat, orang yang konsultasi ke psikolog itu orang tag sakit jiwanya.
"Tapi Bang Adit jangan kuatir, aku benar-benar telah ikhlas memaafkan semua yang Abang lakukan. Namun, untuk melupakan semua yang pernah terjadi, aku masih butuh waktu."
"Jika saja waktu dapat berputar kembali, aku akan minta perbaiki kesalahanku padamu. Hanya itu yang akan aku inginkan. Aku merasa sangat bersalah. Seperti yang kamu katakan, aku percaya kamu telah maafkan aku. Namun, rasa bersalah dari diri ini tidak bisa begitu saja aku hilangkan. Setiap melihatmu, rasa bersalah ini tetap hadir menghantui."
"Kalau begitu, kita sama-sama berusaha mengikhlaskan apa yang pernah terjadi."
Diandra dan Adit tersenyum. Mereka memang harus lebih mengikhlaskan semua yang terjadi agar tidak ada lagi dendam di hati.
...****************...
Bersambung
__ADS_1