
Diandra merasa tubuhnya lemas mendengar ucapan Adit, apa lagi di tambah pandangan yang tidak bersahabat dari kedua orang tua Galen.
"Aku tidak bohong. Buat apa aku mengarang cerita itu. Bang Adit mencegat aku saat pulang jualan dan membiusku. Lalu melakukan pelecehan di rumah kosong. Kamu percaya aku'kan, Galen?"
"Untuk apa aku melakukan itu. Aku bisa mengajak wanita berhubungan tanpa harus memaksanya. Pasti akan banyak wanita yang mau aku tiduri!" ucap Adit dengan menatap Diandra tajam.
"Aku nggak bohong ... aku nggak bohong," ucap Diandra dengan suara gemetar.
"Sekarang aku tanya dengan kalian semua, mana yang kalian percaya aku atau wanita ini. Wanita yang baru masuk ke dalam keluarga kita. Entah apa maksudnya menuduh aku."
"Papa, Mama, Galen ... aku memang tidak ada bukti. Namun, buat apa aku berbohong. Tidak ada keuntungan bagiku menuduh bang Adit. Aku serahkan semuanya pada Tuhan. Jika memang tidak ada yang percaya dengan ucapanku, aku bisa apa."
"Diandra, apa kamu sebelum menikah dengan Galen, sudah kenal Adit?" tanya Mama.
"Aku tidak mengenalnya," jawab Diandra.
"Kenapa Adit melecehkan kamu jika tidak pernah bertemu? Apa Adit malam itu mabuk? Kenapa kamu tidak melapor ke polisi?"
"Aku tidak tahu apa motif sebenarnya Abang Adit melakukan itu. Hanya dia yang tau alasan sebenarnya. Namun Abang Adit pernah bilang kalau semua itu dia lakukan karena ingin membalas Galen,"jawab Diandra.
"Membalas Galen? Kenapa Adit membalas Galen? Selama ini anak mama tidak pernah bertengkar. Diandra, sudahlah. Jangan buat drama lagi. Tidak lucu. Jika emang benar Adit melakukan itu, seperti kata Papa, apa kamu sudah melapor ke polisi atas kasus pelecehan yang kamu alami?" tanya mama lagi.
"Aku bersumpah, Ma. Aku tidak bohong. Aku tidak melapor kasus itu karena aku malu. Lagi pula saat itu aku syok hingga sempat tidak bisa bicara."
__ADS_1
"Tidak bisa bicara? Kebohongan apa lagi ini. Katakan saja apa maksud kamu berbohong. Kamu suka aku?" tanya Adit.
Diandra tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia merasa sangat terpojok. Tangisannya tumpah membasahi pipi.
"Diandra tidak bohong. Aku saksinya jika dia pernah diperkosa dan sempat tidak bisa bicara. Aku yang menunggunya saat trauma. Aku percaya semua yang dikatakan Diandra. Dia tidak mungkin bohong!" ucap Galen.
Galen mendekati Diandra dan memeluk istrinya itu. Tangisan Diandra akhirnya pecah dipelukan Galen.
"Kalau emang dia pernah diperkosa, dan kamu saksinya. Kenapa kamu masih mau menikahinya, Galen?" tanya Mama.
Ucapan mama itu tambah membuat Diandra kaget. Dipandangnya wajah Galen.
"Karena aku sangat mencintai Diandra. Aku tidak peduli masa lalunya."
Diandra melepaskan pelukan Galen. Dia menghapus air matanya dengan kasar. Diandra menatap tajam ke arah Adit.
"Ingatlah Bang Adit, kebohongan hanya akan menyelamatkanmu sementara, tapi akan menghancurkanmu selamanya.Kau bisa bersembunyi dari kesalahanmu, tapi tidak dari penyesalanmu. Kau bisa bermain dengan dramamu, tapi tidak dengan karmamu. Hukum alam itu adil, siapa pun yang menyakiti suatu saat akan tersakiti."
"Kita lihat saja, Diandra. Siapa yang sebenarnya berbohong!" ucap Adit.
"Sudahlah hentikan, ini sudah malam. Mama harap semua ini hanyalah kesalah pahaman. Diandra, kamu bisa minta maaf pada Galen dan Adit karena telah berbohong dan membuat mereka berdua kelahi," ucap mama.
"Kenapa aku harus minta maaf, Ma. Aku tidak berbohong. Demi Tuhan. Jika aku berbohong, aku akan mendapat balasannya. Maaf jika karena kejujuran aku ini membuat keluarga mama jadi bertengkar. Maaf, mungkin benar aku yang salah. Tapi bukan salah karena telah berbohong, tapu salah masuk ke dalam keluarga ini. Sekali lagi maaf."
__ADS_1
Diandra membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan semuanya. Diandra tidak mau memperpanjang masalah lagi. Kehadiran dirinya mungkin memang sudah tidak diinginkan mama dan papa Galen.
Melihat Diandra yang mulai menjauh, Galen ikut melangkah. Namun, langkahnya tertahan. saat mendengar ucapan Mama.
"Biarkan saja wanita itu pergi. Masih banyak wanita lain yang bisa kamu jadikan pengganti. Baru saja menikah dia telah membuat keluarga ini bertengkar. Jangan terlalu dibutakan cinta Galen. Jika emang dia korban pelecehan dari seorang pria. Dia tidak pantas untukmu. Pisahlah segera!" ucap Mama.
Galen membalikkan badannya, kembali menghadap papa,mama dan Adit.
"Diandra tidak seperti yang mama pikirkan. Aku percaya semua yang Diandra katakan, aku mencintainya. Maaf jika mama tidak setuju. Tapi aku tidak akan pernah berpisah dari Diandra."
"Jika kamu lebih memilih wanita itu, kamu tau kan konsekuensi-nya. Mama tidak mau melihat wajah dia ada dihadapan mama lagi. Kamu pasti mengerti ucapan mama ini."
"Aku sangat mengerti, aku tidak akan pernah membawa Diandra lagi ke rumah ini. Sekali lagi aku minta maaf, Ma, Papa. Aku lebih percaya ucapan Diandra dari Adit," ucap Galen. Dia menarik napasnya dan memandangi Adit.
"Saat ini mungkin kau bisa mengelak, Bang. Namun, aku bersumpah, kau akan menyesalinya. Kau telah merenggut paksa kehormatan seorang wanita yang tidak bersalah. Ingat, Diandra tidak ada hubungannya dengan Tasya. Kenapa kau tega menyakitinya hanya untuk membalasku? Aku berdoa, semoga kau dihantui penyesalanmu seumur hidup!"
Galen melangkah meninggalkan keluarganya, dengan langkah cepat dia berjalan untuk menyusul Diandra.
...****************...
Bersambung
Apakah Galen dapat menyusul Diandra? Jangan lupa nantikan terus kelanjutan dari novel ini.
__ADS_1
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN. 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩