CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Dua Puluh Tujuh. CTK.


__ADS_3

Galen mengecup dahi Diandra yang tertidur di sofa sambil menonton televisi. Hari ini dia harus lembur menyelesaikan pekerjaan yang tertunda selama dia cuti saat menjaga Diandra.


Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Galen menggendong tubuh Diandra dan meletakkan dengan pelan di atas ranjang.


"Pasti kamu tertidur karena lelah menunggu aku pulang kerja," gumam Galen pada diri sendiri.


Galen masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelah berganti pakaian dia langsung naik ke tempat tidur.


Galen mengecup bibir Diandra,membuat istrinya itu membuka mata. Diandra tersenyum dan memeluk Galen.


"Kamu yang pindahkan aku ke kasur?" tanya Diandra.


"Siapa lagi kalau bukan aku. Kalau ada cowok lain yang berani menggendong kamu, akan aku bunuh."


"Kejam banget,sih!"


Bagaimana jika kamu tau yang melecehkan aku abang Adit. Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama? Itu yang aku takutkan jika mengatakan kebenarannya. Aku takut kamu akan marah besar dengan Abang Adit.


"Aku nggak suka kalau ada yang menyentuh orang yang aku cintai. Aku orangnya posesif jika itu telah menjadi milikku. Beda jika dia belum menjadi pasanganku."


"Galen, seandainya orang yang menyentuh aku saudara kamu, apa kamu juga akan melakukan tindakan serupa?"


"Tentu saja, kenapa? Tapi apa mungkin abang Adit melecehkan kamu. Kamu ini pertanyaannya aneh-aneh aja."


"Aku tadi kan udah bilang, seandainya."


"Tidur lagi, jangan pikir yang macam-macam!"


"Aku tidur setelah kamu cerita tentang Tasya, kamu tadi pagi janji setelah pulang kerja."


"Kenapa kamu ingin tau tentang Tasya."

__ADS_1


"Aku ingin tau masa lalu kamu."


"Tasya bukan pacar aku. Tapi orang yang dicintai Abang Adit."


"Maksudnya?"


"Abang Adit dan Tasya itu satu sekolahan. Aku dan Abang Adit usianya cuma terpaut dua tahun. Tasya sering main ke rumah, di bawa Adit. Dia telah akrab dengan aku dan kedua orang tua."


"Tau dari mana kamu Abang Adit mencintai Tasya?" tanya Diandra.


"Dengar dulu, Sayang. Aku ini mau ceritakan dari awalnya dulu."


"Setelah satu tahun lebih sering bermain ke rumah, Tasya akhirnya memperlihatkan perubahan sikap. Biasanya Tasya selalu datang ke rumah dengan Adit, dia datang sendirian." Galen berhenti cerita. Dia menarik napasnya sejenak.


"Terus, apa lagi."


"Tasya selalu ke rumah, saat Adit tidak ada."


"Terus Tasya mencari siapa, kalau bang Adit tidak di rumah?"


"Tasya suka dengan kamu?"


"Jangan cemburu, Sayang." Galen mengecup dahi Diandra.


"Aku nggak cemburu, karena aku tau kamu hanya mencintaiku."


"Benar, aku hanya mencintai kamu."


"Terus apa yang Tasya lakukan, dimana gadis itu sekarang."


"Suatu hari Tasya datang ke rumah dan mengajak aku bicara di taman belakang rumah. Ternyata Tasya ingin menyatakan cintanya padaku."

__ADS_1


Galen menghentikan ucapannya. Dia kembali tampak menarik napas panjang.


"Terus apa yang kamu katakan."


"Tentu saja aku menolak pernyataan cinta Tasya. Selain karena memang aku tidak memiliki perasaan apa-apa, aku juga tau Abang Adit sangat mencintai Tasya."


"Dari mana kamu tau abang Adit mencintai Tasya."


"Aku tau abang Adit mencintai Tasya, karena aku pernah tidak sengaja menemukan tulisan tangan abang Adit yang menyatakan cinta dengan Tasya."


"Terus di mana Tasya saat ini?" Diandra kembali bertanya.


"Tasya telah tiada," gumam Galen, namun suaranya masih dapat di tangkap telinga Diandra. Diandra sangat kaget mendengar semuanya.


"Telah tiada? Sakit?" tanya Diandra lagi.


"Kecelakaan. Setelah aku menolak cintanya, Tasya sepertinya kurang bisa menerima. Dia menangis memohon agar aku mencoba menjalin hubungan dengannya. Jika ternyata nanti aku tetap tidak mencintainya, dia baru akan melepaskan aku."


"Maksudnya Tasya kecelakaan setelah dari rumah kamu, setelah dia menyatakan cinta."


"Karena aku menolak untuk menjalin hubungan, Tasya keluar rumah dengan menangis. Mungkin tidak konsentrasi, terjadi kecelakaan dan Tasya meninggal di tempat."


"Terus abang Adit menyalahkan kamu karena berpikir kecelakaan yang Tasya alami karena kamu menolak cintanya Tasya?"


"Kenapa kamu langsung bisa menyimpulkan semua itu? Apa kamu pernah mendengar ini? Dari siapa? Abang Adit?"


"Abang Adit belum pernah cerita. Aku hanya menyimpulkan dari cerita kamu dan sikap abang Adit denganmu saat pertama aku kerumah. Abang Adit mengatakan akan membalas dendam atas meninggalnya orang yang dia cintai, ternyata itu Tasya."


"Aku sudah sering menjelaskan dengan abang, jika itu murni kecelakaan. Aku yakin abang udah mulai bisa melupakan semuanya."


Diandra memandangi Galen dengan mata tajam. Wanita ingin mengatakan jika dialah yang menjadi target balas dendam abang Adit.

__ADS_1


...****************...


Bersambung


__ADS_2