CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Enam Belas. CTK.


__ADS_3

Hari ini Diandra telah diizinkan pulang. Galen telah mempersiapkan apartemen untuk mereka tinggal.


Besok kedua orang tuanya Galen juga akan kembali dari luar negeri. Galen sudah tidak sabar ingin mengatakan jika dia telah menikah.


Galen memeluk pinggang Diandra sambil berjalan menuju mobilnya yang di parkir.


"Kita langsung ke apartemen. Baju-baju kamu dan peralatan yang masih dibutuhkan telah dipindahkan ke apartemen."


"Kapan kamu pindahkan."


"Aku minta bantuan teman buat pindahkan kemarin."


Sepanjang perjalanan menuju apartemen tangan kanan Diandra selalu dalam genggaman tangan kiri Galen.


Sebelum ke apartemen, Galen mengajak Diandra mampir ke supermarket. Membeli bahan buat masak.


Setelah membeli bahan makanan buat stok di kulkas, Galen melajukan mobilnya menuju apartemen.


Saat di dalam lift, Galen memeluk Diandra dan berkata,"Aku tidak pernah mengira semuanya akan jadi kenyataan. Kamu akhirnya jadi milik aku seutuhnya. Aku tidak pernah jujur tentang perasaan aku, karena takut kamu tidak memiliki perasaan sama dan itu akan merusak persahabatan kita."

__ADS_1


Sampai di dalam apartemen, Galen mengajak Diandra segera masuk ke kamar. Ketika pintu kamar dibuka, Diandra kaget melihat kamar yang didekorasi sangat romantis. Diandra tidak pernah menduga jika Galen bisa seromantis ini.



"Masuklah. Aku sengaja persiapkan semua ini untuk kamu. Wanita yang paling aku cinta. Wanita yang pertama dan akan jadi terakhir juga hadir di hati ini."


Diandra memekuk Galen dan mengecup pipi pria itu.


Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan jika yang melecehkan aku abang kamu, Galen. Kamu begitu baiknya. Kenapa harus pria itu yang melecehkan aku? Kenapa dia melakukan itu padaku? Apa salahku dengan abang Adit? Aku sebelumnya tidak mengenalnya. Ada rahasia dan motif apa pria itu melecehkan aku? Ya Tuhan, terlalu banyak pertanyaan yang ada dalam pikiran ini.


"Kenapa menangis? Apa kamu masih mengingat semua yang dialami kemarin? Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa melupakan peristiwa buruk yang pernah kamu alami?"


Galen membalas memeluk Diandra, dan menggendong tubuh wanita itu ala bridal style. Galen meletakkan tubuh Diandra pelan ke atas ranjang.


Tiba-tiba Galen melihat Diandra memegang perutnya dan meringis. Galen menjadi kuatir.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Galen dengan wajah cemas.


"Sakit Galen, perutku sakit banget," ucap Diandra.

__ADS_1


"Kenapa? Aku tadi meletakkan tubuhmu perlahan."


"Sepertinya aku datang bulan," gumam Diandra pelan, namun suaranya masih dapat di dengar Galen.


"Datang bulan? Menstruasi?" tanya Galen pelan. Diandra menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Galen.


Tiba-tiba Galen memeluk Diandra erat dan mengecup pipi Diandra secara bertubi-tubi.


"Syukurlah kalau kamu datang bulan," ucap Galen.


"Kenapa kamu begitu senangnya?" tanya Diandra dengan wajah heran.


"Itu artinya benih ba*ji*ngan itu tidak ada di rahim kamu. Itu artinya kamu bebas dari benihnya."


Diandra jadi terdiam. Tidak pernah Diandra berpikir sejauh itu. Galen benar, Diandra harus bersyukur karena benih dari pria yang melecehkan dirinya tidak hidup dan berkembang di rahimnya.


Seandainya benih itu tetap ada, Diandra tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Apakah dia sanggup menerima dan menghadapi semua itu? Ternyata Tuhan masih menyayangi dirinya dengan tidak membiarkan benih itu tumbuh.


...****************...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2