
"Mama dan Papa sudah bicaranya, apa ada lagi yang ingin dikatakan?" tanya Galen.
"Mama rasa cukup,Papa bagaimana?"
"Papa rasa cukup. Tidak ada hal penting yang ingin dikatakan lagi."
"Baiklah. Sekarang aku yang akan bicara." Galen memandangi Diandra sebelum mulai ucapannya.
"Begini, Pa, Ma. Kemarin pasti papa dan mama mendengar ucapan Abang Adit yang mengatakan jika anak yang Diandra kandung adalah anaknya."
"Iya, kami mendengarnya langsung dari mulut Adit."
"Perlu mama dan papa ketahui, jika anak yang Diandra kandung ini adalah anakku. Aku harap Papa dan Mama tidak pernah meragukan itu, karena setelah Abang Adit melakukan pelecehan, Diandra sempat datang bulan. Aku telah periksa ke Dokter kandungan untuk memastikan itu."
"Iya, Galen. Mama mengerti. Anak siapapun dalam kandungan Diandra, tetap cucu mama dan papa."
"Ma, bukan soal cucu Mama. Aku tidak mau lagi, Bang Adit berpikir Diandra hamil anaknya. Begitu juga Papa dan Mama. Jika mama berkata seperti tadi, bahwa anak siapapun dalam. kandungan Diandra tetap cucu Mama, itu sama aja Mama masih ragu anak siapa yang Diandra kandung."
"Jangan berpikiran terlalu jauh, Galen. Mama tidak ragu jika itu anakmu."
"Baiklah jika begitu. Apa Papa juga sudah yakin anak yang dikandung Diandra adalah anakku?"
"Sudah,Galen."
"Saat ini kehamilan Diandra baru masuk enam minggu, sesuai dengan lamanya pernikahan kami. Sedangkan kejadian pelecehan pada Diandra sudah lebih dari dua bulan."
"Galen, papa percaya semua itu. Cuma untuk meyakinkan Adit tidak semudah membalikkan telapak tangan."
__ADS_1
"Kalau mengenai Bang Adit bisa aku mengerti jika dia ragu,karena jiwanya yang terganggu. Aku hanya ingin meyakinkan papa dan mama saja."
"Iya, Galen. Papa dan Mama telah yakin itu anakmu."
"Kalau begitu, aku rasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku dan Diandra mau pamit. Diandra harus istirahat. Kehamilannya masih rentan keguguran. Lusa aku akan ke rumah, mencoba meyakinkan Bang Adit untuk mau berobat."
"Terima kasih Nak. Karena udah mau membantu kami untuk meyakinkan Adit," ucap Mama.
Diandra dan Galen pamit bersalaman dengan kedua orang tuanya.
...----------------...
Keesokan harinya.
Diandra dan Galen memasuki halaman rumah orang tuanya. Setelah berpikir, Diandra dan Galen sepakat akan bicara dengan Adit.
"Selamat malam, Ma, Pa," sapa Galen dengan kedua orang tuanya.
"Abang Aditnya ada Ma, Pa?" tanya Galen.
"Ada di kamarnya."
"Aku boleh langsung menemui Abang. Aku akan bicara empat mata dulu. Setelah aku rasa Abang Adit bisa diajak bicara, baru aku panggil Diandra. Aku nggak mau ambil risiko jika abang melakukan hal yang tak diinginkan. Diandra sedang hamil muda."
"Terserah kamu aja. Tapi Mama harap kamu jangan ikut terbawa emosi jika Adit sulit diajak komunikasi."
"Aku mengerti,Ma."
__ADS_1
"Sayang, kamu di sini aja dengan mama dan papa. Nanti jika aku membutuhkan bantuan kamu untuk meyakinkan Bang Adit. Aku akan panggil."
"Iya, Mas."
Galen melangkah perlahan menuju kamar Adit. Diketuknya pintu sebelum masuk. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Adit membuka pintu dan melihat Galen yang datang, wajah Adit sedikit berubah.
"Mau apa kamu?" tanya Adit.
"Aku mau bicara berdua dengan Abang. Boleh aku masuk?"
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Banyak yang ingin aku bicarakan. Telah lama kita tidak mengobrol berdua."
"Aku rasa tidak ada yang perlu diobrolkan."
"Banyak Bang. Kita harus bicara. Boleh ya aku masuk?" tanya Galen dengan sabar menahan amarahnya.
"Kamu datang dengan siapa? Apa ada Diandra?" tanya Adit lagi.
"Aku datang berdua Diandra. Dia sedang mengobrol dengan Papa dan Mama."
"Aku hanya mau bicara dengan Diandra saja."
"Boleh, nanti Bang Adit bisa bicara dengan Diandra. Namun kita bicara berdua dulu."
Adit membuka pintu kamarnya lebar. Galen melangkah masuk. Sejak mereka telah dewasa, Galen tidak pernah masuk lagi ke kamar abang-nya. Galen mengamati seluruh isi ruangan. Betapa kagetnya pria itu melihat banyak foto Diandra terpajang di dinding kamar Adit.
__ADS_1
...****************...
Bersambung