CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Dua Puluh Lima. CTK.


__ADS_3

Galen menaiki tubuh Diandra dan menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangan agar tidak menindih Diandra.


"Kamu yakin telah siap, Sayang?" tanya Galen dan mengecup bibir Diandra.


"Aku yakin. Jika aku tidak pernah mencobanya, bagaimana aku tau jika aku telah siap atau bukan?"


"Aku ingin saat kita bercinta kamu hanya memikirkan aku. Buang semua pikiran yang lain." Diandra menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan Galen.


Galen mulai mengecup bagian wajah Diandra, setelah puas di wajah, Galen turun ke leher jenjang istrinya itu.


Galen berhenti sejenak, melihat reaksi Diandra. Tampaknya wanita itu mulai terbuai dengan permainannya. Galen lalu menaikan baju tidur Diandra dan meloloskan dari kepalanya. Galen melempar baju itu kesembarang arah.


Saat ini dihadapan Galen telah terpampang dua gunung kembar milik Diandra. Dua gunung yang indah karena putihnya kulit Diandra.


Menyadari mata Galen yang tidak berkedip memandangi dadanya, Diandra menutupi dengan kedua tangannya.


"Jangan ditutupi, ini sangat indah Diandra. Kamu emang sudah siap'kan?" Galen bertanya sekali lagi. Diandra menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Aku yang akan duluan melepaskan semua kain penutup tubuhku, biar kamu tidak malu."

__ADS_1


Galen berdiri dan melepaskan seluruh kain yang menutupi tubuhnya hingga polos. Setelah itu Galen kembali menaiki tubuh Diandra.


Galen mengecup dada istrinya itu, dan mengisap pucuk dada Diandra. Terdengar suara kenikmatan dari Diandra.


Galen udah yakin jika istrinya itu telah siap. Pria itu perlahan turun hingga ke perut rata Diandra. Wanita itu menarik rambut Galen pelan menyalurkan kenikmatan yang dirasakan.


Galen perlahan turun hingga ke inti tubuh istrinya yang masih ditutupi pakaian dalam. Sebelum melepaskan pakaian dalam itu, Galen mengecupnya.


Diandra menatap Galen tanpa kedip, dia ingin tahu apa yang akan pria itu lakukan. Galen membuka pakaian dalam Diandra dan mengecup bagian inti tubuh istrinya itu.


"Aku akan melakukannya. Apa kamu telah siap?" tanya Galen. Lagi-lagi Diandra hanya mengangguk menjawab ucapan Galen.


Galen merentangkan kedua kaki istrinya agar bagian inti tubuhnya tampak terbuka. Setelah itu Galen mencoba mendekatkan senjatanya ke bagian inti itu.


"Sayang, tahan dikit sakitnya. Aku juga sedikit sakit," bisik Galen.


Galen menggerakkan tubuhnya mengikuti naluri. Ini memang pertama baginya. Sehingga tampak Galen mencoba untuk sesuaikan dengan apa yang dipikirkan.


"Sayang, aku mau sampai. Aku keluarkan di dalam ya? Semoga segera menjadi benih."

__ADS_1


Galen mengeluarkan semua lahar dari dalam senjaatanya. Dia menekannya hingga mentok.


Setelah itu terdengar suara lenguhan dari mulut Galen, tanda kepuasan. Galen membiarkan miliknya masih tertanam di milik Diandra.


"Terima kasih, karena kamu telah berusaha melawan traumamu. Aku tau, ini tidaklah mudah bagimu." Galen mengecup dahi dan bibir istrinya sebelum melepaskan miliknya.


Galen berbaring di samping Diandra dan memeluk pinggang istrinya itu agar merapatkan tubuhnya. Kulit mereka kembali bersentuhan.


"Aku harap kamu secepatnya hamil. Biar papa dan mama ikutan bahagia."


"Semoga Galen."


"Kita begini dulu sebentar, sebelum mandi. Aku masih ingin memeluk tubuhmu ini."


Diandra makin merapatkan tubuhnya hingga tiada jarak. Diandra menyembunyikan kepalanya ke dada suaminya itu.


Sebenarnya saat Galen tadi memasuki inti tubuhnya, Diandra sempat cemas. Teringat saat Adit yang tanpa pemanasan langsung memasuki senjatanya ke inti tubuh Diandra.


Namun Diandra berusaha menghilangkan semua dengan membayangkan Galen dan cintanya yang besar dan tulus.

__ADS_1


...****************...


Bersambung


__ADS_2