CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Lima puluh Dua. CTK.


__ADS_3

Diandra dan kedua mertuanya berjalan cepat menuju kamar Adit, tampak Adit yang akan menampar Galen. Diandra maju kehadapan Adit, sehingga pria itu mengurungkan niatnya.


"Bang Adit, sadar. Ini Galen adiknya Abang," ucap Diandra.


"Sayang, aku udah ngomong, jangan ke sini jika aku tidak memanggil." Galen memeluk Diandra, takut Adit ingin mencelakai istrinya.


"Aku dan Mama juga Papa mendengar teriakan. Aku takut terjadi sesuatu denganmu."


"Diandra ...." Adit maju ingin mendekati wanita itu. Galen langsung maju kehadapan Diandra melindunginya.


"Abang mau apa? Jika Abang melukai aku, mungkin bisa ku tahan. Namun, jika Diandra yang Abang sakiti, jangan harap aku akan tinggal diam," ucap Galen.


"Diandra maafkan aku?" ucap Adit.


Mata Adit tampak memerah menahan tangisnya. Namun,air mata itu tetap jatuh membasahi pipinya.


"Maafkan aku, kerena pernah menyakiti kamu?"


Melihat Adit yang bicara begitu, Diandra menjadi iba. Diandra lalu maju tepat berhadapan dengan Abang suaminya itu.


"Kenapa Abang tega melakukan semua itu? Apa salahku? Aku hanya ingin penjelasan."


"Aku hanya ingin kita bicara berdua."


Diandra memandangi Galen meminta pendapat dari suaminya itu. Mama dan Papa hanya memandangi dari balik pintu kamar.


"Mas, izinkan aku bicara empat mata dengan Abang Adit."


"Aku takut Abang Adit menyakiti atau melukai kamu."

__ADS_1


"Yakinlah, aku bisa menghadapinya. Jika nanti aku melihat ada gelagat tidak baik, aku akan segera berteriak dan memanggil Mas Galen."


"Apa kamu yakin?" tanya Galen lagi.


"Ya, aku yakin."


"Kita bicara di taman saja, Bang. Apa Abang keberatan?" tanya Diandra.


"Tidak."


Diandra tersenyum dan menganggukan kepalanya memberikan kode jika dia akan baik-baik saja.


Sebenarnya rasa trauma saat melihat Adit masih dirasakan Diandra. Namun, Diandra mencoba menepisnya.


Setelah mama dan papa tadi memohon sambil menangis, akhirnya Diandra bersedia membantu membujuk Adit.


Mama dan Papa bisa saja meminta dokter kejiwaan untuk datang dan meminta mereka membawa paksa Adit dengan menyuntiknya, namun itu tidak dilakukan karena mama dan papa ingin Adit sendiri yang sadar jika ia membutuhkan seorang psikolog.


"Sekarang coba Abang katakan alasan, kenapa Abang melecehkan aku. Dengan kedua orang tua Abang mengaku mencintai aku. Jika Abang emang mencintai aku tak mungkin sanggup melecehkan aku," ucap Diandra.


Tangannya terkepal menahan semua emosi dan trauma saat berdekatan dengan Adit. Diandra menarik napas dalam untuk lebih menenangkan pikirannya.


Hatinya terasa nyeri mengingat malam kejadian di saat Adit melecehkan dirinya. Ingin rasanya Diandra memaki Adit jika saja jiwanya tidak sedang terganggu.


"Aku emang mencintaimu,Diandra," ucap Adit pelan.


"Jika Abang emang mencintaiku, kenapa merusak diriku. Itu bukan cinta, Bang."


"Aku sakit hati dengan Galen. Kenapa setiap wanita yang aku cintai selalu saja lebih mencintai dirinya. Setelah aku tau Galen mencintaimu, aku langsung berpikir untuk membalas sakit hatiku pada Galen dengan melecehkan kamu. Aku teringat dengan Tasya yang bunuh diri," ucap Adit dengan tangan gemetar. Tampaknya dia juga sedang gugup.

__ADS_1


"Jika Abang marah dengan Galen, kenapa membalas semuanya denganku? Aku tidak pernah melakukan kesalahan dengan Abang."


Air mata Diandra tidak bisa lagi dibendung. Jatuh membasahi pipinya. Galen yang mengintip, mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Maafkan aku. Semua memang salahku. Itu salahku," ucap Adit.


"Seharusnya Abang sadar, jika cinta itu tidak bisa dipaksakan. Percaya saja bahwa cinta itu akan selalu menemukan jalan kepadamu oleh sebab itu tak perlu berusaha keras dan berjuang sendirian hanya untuk mendapatkan cinta yang kau inginkan.Yakin saja bahwa yang memang ditakdirkan untuk mencintai kamu tidak akan pernah salah alamat apalagi salah orang." Diandra menarik napasnya sebelum melanjutkan ucapannya.


"Jika sampai saat ini Bang Adit belum menemukannya mungkin belum saatnya dipertemukan dengan seseorang yang mencintai Abang. Namun, percayalah akan ada sosok wanita yang akan mencintai abang dan menerima segala kekurangan dan kelebihanmu," ucap Diandra dengan lembut.


Adit yang duduk di samping Diandra hanya diam, tanpa Diandra sadari, air mata jatuh membasahi pipinya.


Kembali Diandra menarik napasnya, menahan sesak di dada. Bukanlah mudah baginya untuk dapat berkata dengan lembut pada orang yang pernah melecehkan dirinya. Namun, Diandra harus sabar karena bagaimanapun saat ini Adit telah menjadi bagian dari keluarganya.


"Untuk apa mengejar, jika cinta Itu sendiri akan selalu menemukan jalan tanpa pernah salah Orang. Tak perlu berusaha keras untuk mendapatkan cinta karena percuma berusaha jika ia tidak memiliki perasaan yang sama. Cinta yang baik itu saling memiliki perasaan bukan hanya salah satunya saja yang berusaha dan berjuang untuk mendapatkan," ucap Diandra lagi.


"Cinta tidak pernah salah dalam memilih hati yang akan ditempatinya. Aku mohon abang paham dan mengerti dengan apa yang aku katakan tadi. Aku rasa cukup pembicaraan ini, aku telah mengatakan apa yang ingin aku katakan."


Adit mengangkat wajahnya dan menatap Diandra. Tanpak wanita itu kaget melihat air mata yang jatuh membasahi wajah Adit.


"Apakah ada seorang wanita yang akan mencintai seorang pria jahat seperti aku."


"Kenapa tidak? Semua manusia memiliki sisi gelap dalam hidupnya. Tidak ada manusia yang sempurna."


"Diandra aku juga ingin bisa mencintai dan dicintai."


"Semua itu bisa. Aku yakin akan ada wanita yang akan mencintai Abang dan menerima abang. Namun, aku harap Abang mau ke psikolog. Semua juga demi ketenangan batin Bang Adit. Jika Abang telah tenang dan ikhlas, melupakan semua yang pernah terjadi, Bang Adit bisa memulai kehidupan ini dari awal lagi."


Adit kembali memandangi Diandra. Sebenarnya Diandra agak sedikit takut saat Adit menatapnya begitu.

__ADS_1


...****************...


Bersambung


__ADS_2