
Diandra berdiri dari duduknya. Ketika akan berjalan, tangannya di pegang Adit. Diandra kaget.
"Abang mau apa?" tanya Diandra kaget.
Galen yang memperhatikan dari jauh langsung berjalan mendekati. Dia tidak ingin Adit melakukan sesuatu dengan Diandra.
"Maafkan aku karena pernah menyakiti kamu, aku tau kata maaf saja tidak cukup untuk mengobati rasa sakit hatimu. Namun, perlu kamu tau, aku menyesal melakukan itu. Tidak seharusnya aku membalas semua rasa dendamku padamu," ucap Adit.
Galen yang tadi berjalan tergesa, menghentikan langkahnya mendengar ucapan Adit. Dalam pikiran Galen, Adit akan menyakiti Diandra. Untunglah semua pikirannya salah.
Galen memandangi Diandra, kebetulan istrinya itu juga sedang memandang padanya. Galen tersenyum dan mengangguk kepala meminta Diandra memaafkan Adit.
"Aku akan memaafkan semua yang Abang lakukan padaku, dengan satu syarat," ucap Diandra. Wanita itu melepaskan pegangan tangan Adit.
Papa dan Mama juga berjalan mendekat ke tempat mereka sedang mengobrol. Papa dan Mama tampak sangat tegang. Berharap Adit akan mendengar semua saran Diandra.
Mereka tidak ingin melakukan pemaksaan untuk Adit mau berobat. Namun, jika jiwanya makin terganggu mungkin terpaksa semua dilakukan.
__ADS_1
"Apa syaratnya, Dian?"
"Abang harus berjanji akan berkonsultasi dengan psikolog. Ceritakan semua yang Abang rasakan pada psikolog. Berusahalah ikhlas dan melupakan semua dendam Abang. Maafkan Galen jika Abang pikir semua ini karena kesalahan darinya."
"Jika aku melakukan semua itu, apakah kamu akan memaafkan salahku?" tanya Adit.
"Tentu saja. Tidak ada gunanya menyimpan dendam. Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan sebaliknya, memperpanjang masalah karena kamu hanya mendapatkan kepuasan sesaat.Tak ada yang lebih indah dari memaafkan dan tidak dendam pada seseorang yang telah menyakitimu."
"Kamu sangat baik, Dian. Pantas Galen sangat mencintai kamu."
"Abang pasti akan dapat gadis yang lebih baik, jika Abang Adit mau merubah semua sikap. Semua manusia itu telah ditakdirkan berpasangan. Akan ada wanita yang hadir di kehidupan Bang Adit kelak." Diandra tersenyum pada Adit.
"Aku akan mencobanya, Dian. Aku ingin menjadi lebih baik lagi. Aku akan pergi ke psikolog seperti saranmu."
Diandra tersenyum semringah mendengar ucapan Adit. Papa dan Mama yang mendengar langsung berpelukan. Mama menangis dalam pelukan Papa.
"Pa, apa mama tidak salah mendengar? Adit bersedia ke psikolog?" tanya mama dengan air mata berlinang.
__ADS_1
"Benar, Ma. Adit mengatakan itu," ucap Papa terbata.
"Abang tau, aku bahagia mendengarnya. Aku senang Abang telah menyesali semua yang pernah Abang lakukan. Semoga usaha Abang untuk berubah, dapat terwujud segera."
"Aku akan pergi besok dengan Mama. Aku boleh minta sesuatu?" tanya Adit.
"Apa itu?"
"Aku ingin kamu dan Galen membantu aku. Jadilah teman bagiku berbagi. Selama ini aku hanya sendiri. Setiap ada masalah, aku berusaha mengatasi sendiri. Makanya aku jadi salah jalan. Aku pikir dengan membalas dendam itu akan dapat membuat hatiku tenang. Semua karena aku tidak ada teman berbagi. Papa dan Mama sibuk bekerja. Galen sibuk kuliah dan bekerja."
Mendengar ucapan Adit, Mama langsung berjalan mendekati putranya itu. Rasa bersalah makin Mama rasakan.
"Maafkan Mama, Adit," ucap Mama memeluk anaknya.
Papa juga mendekati Adit dan memeluk putranya. Semua kesalahan yang Adit lakukan juga karena mereka. Jika saja mereka memiliki waktu untuk Adit berbagi cerita, pasti tidak akan jadi seperti ini.
Mama dan Papa berpikir, Adit dan Galen dua pribadi yang sama. Galen yang ceria tidak begitu membutuhkan perhatian mereka karena dia memiliki banyak teman untuk saling berbagi. Sedangkan Adit, anaknya yang pendiam dan tertutup, tidak ada teman untuk saling berbagi, sedangkan mereka sebagai orang tua hanya sibuk bekerja.
__ADS_1
...****************...
Bersambung