
Galen memeluk Diandra dan memintanya tidur dengan beralaskan lengannya sebagai bantal.
"Sayang, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Galen.
"Sepuluh juga boleh," jawab Diandra.
Diandra merubah tidurnya miring menghadap Galen dan memeluk tubuh suaminya itu. Galen mengecup dahi Diandra sebelum bicara lagi.
"Tapi janji kamu nggak akan marah jika aku bertanya?"
"Emang kamu mau tanya apa, sih?"
Galen kembali mengecup Diandra. Kali ini Galen mengecup pucuk kepala Diandra.
"Kamu tidak suka dengan abang Adit?"tanya Galen pelan.
"Ya, aku tidak suka," ujar Diandra.
"Kenapa kamu tidak suka?" tanya Galen lagi. Galen sebenarnya kaget mendengar ucapan Diandra. Namun Galen pura-pura tidak peduli takut Diandra salah paham, mengira dirinya marah.
"Aku sebenarnya bukan tidak suka, tapi mencoba tidak akrab dan dekat dengan pria mana pun, untuk menghargai kamu sebagai suami."
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang." Galen membawa Diandra ke dalam dekapan dadanya.
"Adit itu abang-ku. Nggak apa kamu sedikit dekat. Aku nggak akan cemburu."
"Aku yang tidak mau dekat dengan pria manapun kecuali kamu. Dekat dengan pria lain membuat aku jadi ingat peristiwa pelecehan itu."
Air mata Diandra tidak bisa ditahan lagi. Dirinya merasa serba salah. Jika jujur, takut Galen akan meninggalkan dirinya karena merasa bersalah abang kandungnya sendiri yang telah melecehkan Diandra.
"Jangan menangis. Jika emang kedekatan dengan pria membuat kamu teringat peristiwa itu, aku juga tidak akan memaksa."
Galen mengecup seluruh bagian di wajah istrinya itu. Galen mengecup bibir Diandra cukup lama.
Galen mulai terbawa suasana. Sebagai pria normal, selama dua minggu lebih pernikahan mereka, Galen sudah berusaha menahan napsunya.
Cukup lama mereka larut dengan saling memainkan lidah. Saling membelit. Ketika Galen. melihat Diandra mulai kewalahan dan tampak sesak napas, Galen melepaskan pagutannya.
"Aku mencintaimu, Diandra." Galen kembali mengecup bibir wanita itu dengan lembutnya.
"Apa kamu ingin menuntut hak kamu sebagai suami?" gumam Diandra.
Diandra melihat Galen yang hampir setiap saat menarik napas dan mengeluarkan keringat dingin seolah sedang menahan sesuatu.
__ADS_1
"Nanti aja, saat kamu telah siap. Aku nggak mau ini akan membuat kamu kembali trauma."
"Aku nggak apa. Jika kamu emang menginginkan hak kamu, aku siap."
"Udahlah, aku takut kamu trauma. Aku nggak kamu sakit, karena melihat kamu tertekan dengan peristiwa itu, aku yang merasa lebih sakit."
Bagaimana jika kamu tau, orang yang melecehkan kamu itu adalah Adit, abang kandungmu. Pasti rasa bersalah kamu lebih besar dari Adit sang pelaku.
Diandra mengecup pipi Galen dan berbisik,"Aku telah siap untuk melakukan kewajibanku sebagai seorang istri."
"Aku takut kamu trauma lagi."
"Aku nggak akan trauma karena aku telah menerima dengan ikhlas semua yang terjadi dalam hidup ini. Aku menyadari, semua yang aku alami dan terjadi dalam hidup ini pasti ada hikmahnya."
"Sayang ...." Galen memeluk erat Diandra.
Setiap manusia memiliki masalahnya sendiri-sendiri dalam menjalani kehidupan ini. Saat kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, terkadang membuat seseorang kehilangan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, setiap orang membutuhkan dukungan serta motivasi agar berani melangkah melanjutkan perjalanan hidupnya.
Jangan pernah menyesali sehari dalam hidupmu. Hari-hari baik memberimu kebahagiaan dan hari-hari buruk memberimu pengalaman.Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya.Terkadang kita diuji, bukan untuk menunjukan kelemahan yang kita miliki, akan tetapi untuk menemukan kekuatan yang sebenarnya kita miliki.Jangan pernah menyesali masa lalu yang pernah terjadi sebelumnya, tetapi belajarlah dari masa lalu tersebut.
...****************...
__ADS_1
Bersambung