CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Empat Puluh. CTK.


__ADS_3

Diandra masih tidur dan bergulung selimut. Galen telah bangun untuk membelikan istrinya sarapan. Diandra tadi minta dibelikan gado-gado.


Galen mencarinya hingga dapat, setelah itu kembali ke Ruko. Saat masuk kamar, Galen melihat istrinya masih terlelap. Pria itu meletakkan bungkusan gado-gado dan piring di atas nakas samping tempat tidur.


Setelah mengecup dahi istrinya, Galen keluar dari kamar. Dia ingin melihat kerja karyawannya dulu sebelum minta izin untuk hari ini menemani Diandra di lantai atas.


"Rendi, nanti kamu yang atur semua kerjaan ya. Diandra lagi kurang sehat. Aku mau menemaninya. Jika butuh aku, bisa hubungi ke ponsel."


"Baik, bang."


"Mobil milik pak Candra selesaikan hari ini juga. Besok mau diambil. Dia pelanggan kita. Jangan kecewakan."


"Baik, Bang."


"Kalian semua sudah sarapan?" tanya Galen lagi.


"Udah, Bang. Tadi beli lontong sayur di warung seberang."


"Mulai besok mungkin kalian sarapan dan makan siang di warung aja. Nanti aku tambahkan gaji kalian."


"Baik, Bang. Terima kasih," ucap Rifo.


Rendi dan Rifo karyawan andalan di bagian mesin mobil. Keahlian mereka membongkar mesin diacungkan jempol. Semua pelanggan puas dengan hasil kerjanya mereka.


"Aku titip bengkel. Aku mau ke atas. Jika ada yang mau bertemu denganku, telepon aja," ucap Galen sebelum menaiki tangga.


Galen mendekati tempat tidur dan melihat Diandra masih menutup mata. Galen mengecup bibir tipis Diandra dan sedikit menggigitnya agar istrinya itu bangun.


Usaha Galen membuahkan hasil. Diandra membuka matanya dengan cemberut. Galen kembali mengecup bibirnya.

__ADS_1


"Mandi dan sarapan. Udah jam sembilan. Nanti kamu tambah sakit."


"Aku masih ngantuk," ucap Diandra manja.


"Tidurnya bisa dilanjutkan setelah sarapan. Cuci muka dan gosok gigi aja."


Dengan malas Diandra bangun dan menuju kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Diandra melihat sepiring gado-gado yang menggugah selera telah tersedia di atas nakas samping tempat tidur.


"Mau aku suapin?" tanya Galen.


"Mau, kalau kamu nggak keberatan," jawab Diandra.


"Buat kamu apa aja akan aku lakukan dan tidak akan merasa keberatan. Apa lagi jika di sini ada benih cinta kita. Aku tak akan membiarkan kamu kerja apapun. Sekalipun hanya memasak. Biar kita beli aja makanannya. Yang bergizi khusus buat ibu hamil."


"Aku itu bukan sakit, kenapa harus di larang melakukan apapun. Kalaupun hamil, jika masih bisa melakukan sesuatu, kenapa tidak?"


"Namun aku takut semua akan pengaruhi kandungan kamu."


"Manja dengan suami ya nggak apa, Sayang. Hampir lupa. Tadi aku mampir ke apotik. Aku beli tespek. Kamu bisa mengujinya sebelum kita ke dokter sore nanti." Galen memberikan dua jenis tespek.


"Kenapa harus dua?"


"Biar pasti, Sayang."


"Seandainya aku tidak hamil, apa kamu akan kecewa?"


"Tentu aja tidak. Kita baru menikah satu setengah bulan. Masih banyak waktu untuk membuat anak. Namun, kita akan berusaha lebih gencar. Mungkin 2 atau 3 kali sehari."


"2 atau 3 kali sehari? Kamu kira minum obat."

__ADS_1


Galen tertawa melihat ekspresi wajah Diandra yang cemberut.


"Sayang, kita akan memiliki anak. Masa kamu masih sebut nama. Panggil Mas atau Kakak gitu."


"Bagusnya aku panggil apa? Masa Mas atau Kakak, sih?"


"Kenapa nggak. Usiaku juga lebih tua dua tahun darimu," ucap Galen.


"Aku panggil mas aja."


"Oke, Sayang." Galen menyuapi Diandra dengan telaten. Setelah gado-gado habis, Diandra masuk ke kamar mandi dengan membawa dua jenis tespek yang berbeda.


Lima menit, Diandra keluar. Galen langsung berdiri dari rebahan di kasur melihat Diandra keluar dari kamar mandi.


"Bagaimana, Sayang? Apa hasilnya?" tanya Galen tidak sabar.


"Hasilnya ...."


"Hasilnya apa? Coba aku lihat."


"Hasilnya, tanda garis merah dua." Diandra memperlihatkan kedua hasil dari tespek.


"Serius Sayang. Itu artinya kamu positif hamil'kan?" Galen langsung menggendong Diandra dan meletakkan dengan pelan ke atas tempat tidur.


"Aku akan jadi ayah. Terima kasih, Sayang," ucap Galen mengecup semua bagian di wajah istrinya itu berulang kali.


Diandra menangis terharu melihat suaminya yang begitu bahagia. Hanya ini yang dapat Diandra cinta dan buah hati ini yang bisa ia berikan untuk kebahagiaan Galen. Berbeda dengan Galen, pria itu telah memberikan segalanya untuk kebahagiaan dirinya. Bahkan suaminya itu rela berpisah dari keluarga demi dirinya.


...****************...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2