
Galen tersenyum miring ke arah kedua orang tuanya secara bergantian.
"Aku tidak akan pergi tanpa Diandra!" ucap Galen penuh penekanan.
"Hanya dua tahun. Kalian juga belum memliki anak. Baru menikah juga," ucap Mama.
"Satu hari aja aku tidak mau, Ma."
"Jangan terlalu bodoh karena cinta Galen. Ini juga demi masa depanmu. Jika Diandra istri yang baik, dia pasti izinkan kamu pergi," ujar Papa dengan suara sedikit tinggi.
"Bukan Diandra yang tidak mengizinkan tapi aku yang tidak mau berpisah dari Diandra. Dia telah banyak menderita. Coba aja Mama melihat saat dia pertama mendapatkan pelecehan, hingga kehilangan suaranya karena trauma. Semua itu karena aku dan Abang Adit. Apakah aku tega meninggalkan dia setelah semua penderitaan yang dirasakan?" tanya Galen dengan suara serak menahan tangis.
Dada Galen sesak mengingat semua yang menimpa Diandra juga karena dirinya. Adit membalas sakit hatinya pada wanita yang sangat dicintai Galen itu.
"Kenapa gara-gara kamu dan Adit?" tanya mama lagi.
"Ma, apa mama masih tidak percaya jika yang melecehkan Diandra itu Abang Adit?" Galen bertanya balik kepada mamanya.
"Bagaimana mama bisa percaya jika Diandra tidak memiliki bukti. Jika suatu saat Diandra memberikan bukti, mama pasti akan percaya dan meminta maaf pada Diandra."
__ADS_1
"Bukti apa lagi, Ma. Apakah Mama tidak dapat melihat kejujuran dari mata Diandra."
Tiba-tiba papa memukul meja cukup keras membuat Galen dan Mama kaget. Serempak mereka menoleh ke arah Papa.
"Apa istimewanya Diandra. Dari tadi kamu hanya menyanjungnya. Masih banyak wanita lain yang lebih menderita darinya. Papa dan Mama juga bisa mencarikan wanita yang jauh lebih segalanya dari Diandra."
Galen berdiri dari duduknya mendengar ucapan Papa-nya. Dia sudah menduga jika kedua orang tuanya tidak bisa menerima Diandra karena wanita itu menuduh Adit yang melakukan pelecehan pada dirinya.
"Mungkin banyak wanita di luar sana yang lebih baik dari Diandra, tapi yang aku cintai cuma satu Diandra. Tidak akan sama walaupun di ganti wanita manapun."
"Kamu itu telah dibodohi cinta. Makanya kamu percaya saja apa yang dikatakan wanita itu,walau tidak ada bukti. Orang yang melecehkan kamu yang bertanggung jawab. Sadar Galen, kamu tidak akan bisa hidup hanya dengan cinta. Kamu akan membutuhkan banyak uang. Jadi pikirkan tawaran Papa itu."
"Maaf, Pa. Aku tetap dengan pendirian, aku akan pergi jika dengan Diandra. Satu lagi, aku yakin Diandra tidak bohong jika telah dilecehkan Bang Adit. Aku semakin ingin bertanggung jawab dengannya, karena semua yang terjadi juga karena aku. Bang Adit ingin membalas aku dengan cara melecehkan Diandra."
"Bagaimana Diandra bisa mencuci otak kamu, sehingga kamu bisa lebih percaya dengan wanita itu dari Abang kandungmu. Apa yang wanita itu berikan sehingga kamu begitu ngotot membelanya?"
"Papa yang telah salah, pikiran papa telah dibutakan karena kasih sayang pada anak sehingga menutupi hati dan pikiran jika Adit memang bersalah. Apakah papa tidak bisa melihat siapa yang salah?"
Tanpa Galen dan mama-nya duga, Papa mengangkat tangannya dan menampar pipi Galen.
__ADS_1
"Dasar anak tidak berguna, aku nggak tau apa yang dikatakan wanita itu sehingga kamu bisa berpikir begitu. Sebelum dia masuk, kamu dan Adit akur-akur saja. Bagaimana bisa kamu jadi menentang keluarga sekarang?"
Galen memegang pipinya yang panas bekas tamparan papa. Mama memegang tangan Papa, takut pria itu melayangkan kembali tangannya.
"Aku rasa cukup obrolan kita, Pa. Aku tidak akan pergi jika tanpa Diandra. Keputusanku sudah bulat, apapun yang papa pikirkan tentang Diandra aku tidak peduli. Akan aku buktikan Diandra tidak sejelek yang Papa lihat."
Galen menyalami Papa dan Mamanya. Namun, Papa tidak menyambut uluran tangan Galen.
"Aku pamit. Maaf jika aku mengecewakan Papa dan Mama."
Galen melangkahkan kakinya meninggalkan kedua orang tuanya. Baru beberapa langkah terdengar suara Papa Galen berkata dengan suara lantang.
"Jika kau tidak mau ke Singapura, jangan pernah datang ke perusahaan lagi. Kau cobalah hidup tanpa bantuan keluarga. Bukankah bagimu lebih penting wanita itu dari keluarga."
Galen membalikkan badannya dan tersenyum pada kedua orang tuanya.
"Baiklah,Pa. Jika itu emang keputusan Papa. Besok aku hanya datang mengambil barang milikku. Sekali lagi maaf karena aku mengecewakan sebagai seorang anak. Bukan aku bermaksud durhaka. Maafkan,aku."
Setelah mengucapkan itu, Galen melangkahkan kakinya kembali meninggalkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
...****************...
Bersambung