CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Dua Puluh Enam. CTK.


__ADS_3

Diandra sedang memasak untuk sarapan pagi Galen. Ketika akan menyiapkan di meja, Diandra merasakan pelukan dipinggangnya.


Galen lalu meletakkan kepalanya di bahu Diandra sambil mencium leher istrinya itu.


"Kamu udah mandi?"


"Belum," jawab Galen dengan malas.


"Mandi sana cepat! Biar bisa sarapan."


"Aku maunya peluk kamu terus, malas aku ke kantor," ucap Galen dengan manja.


"Jangan macam-macam Galen. Nanti Papa pikir aku memberikan pengaruh buruk. Sejak menikah kamu jadi malas."


"Sayang, aku serius loh. Malas ke kantor. Aku ingin menghabiskan waktu berdua di kamar denganmu tanpa ada gangguan pekerjaan dan lainnya."


"Nanti pulang kerja bisa berdua lagi. Mandi dulu sana!" ucap Diandra dan mendorong tubuh Galen hingga ke kamar.


"Mandi bareng aja kita," ujar Galen.


"Aku udah mandi. Cepat mandi sana, keburu dingin sarapannya kalau lama!"


Galen dengan terpaksa akhirnya masuk ke kamar mandi. Sehabis mandi, Galen keluar dari kamar mandi yang tubuhnya hanya ditutupi handuk dari pinggang hingga pangkal paha mendekati Diandra.


Diandra tersenyum melihat suaminya mendakat. Tanpa terduga, Galen mendorong tubuh Diandra hingga jatuh telentang di tempat tidur. Galen mengecup pipi Diandra berulang kali dengan gemasnya.


"Aku sangat mencintai kamu, Diandra," bisik Galen. Diandra melingkarkan tangannya di leher Galen.


"Aku selalu menyebut namamu di setiap helaan napasku, dan berdoa semoga kita bisa hidup bersama hingga menua dan hanya maut yang bisa memisahkan."

__ADS_1


"Galen, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Diandra pelan.


"Sangat boleh. Apa yang ingin kamu ketahui?"


"Apa kamu dan bang Adit pernah mencintai wanita yang sama?" tanya Diandra.


"Hhhmmmm ... kenapa kamu tanyakan itu? Kamu dengar dari siapa?" tanya Galen.


"Aku hanya bertanya saja."


"Nggak. Aku pertama jatuh cinta itu dengan kamu."


"Berarti aku salah menduga ya."


"Maksud kamu apa?" tanya Galen.


"Bukan seperti itu ceritanya sebenarnya. Aku mau berpakaian dulu. Nanti kalau begini lebih lama, aku takut ada yang bangun," bisik Galen.


Galen bangun dan mengambil baju yang telah disiapkan Diandra. Setelah memakai kemejanya, Diandra membantu memasang dasi Galen.


Setelah rapi dengan pakaian kerjanya, Diandra memeluk pinggang Galen, mengajaknya sarapan.


Diandra dan Galen sarapan nasi goreng yang Diandra masak. Diandra kembali bertanya tentang wanita yang abang Adit cintai itu.


"Kamu belum selesai ceritakan tentang wanita yang Abang Adit cintai itu. Di mana wanita itu saat ini?"


"Tasya nama gadis yang Abang Adit cintai itu."


"Nama yang bagus, pasti dia sangat cantik."

__ADS_1


"Tasya emang cantik."


"Ceritakan dong tentang Tasya."


"Apa kamu tidak akan marah atau cemburu?"


"Nggak, karena aku telah memiliki kamu seutuhnya. Aku istrinya kamu."


"Nanti sepulang kerja aku ceritakan semuanya. Sambil tidur."


"Kamu janji ya?"


"Kenapa kamu semangat banget pengin tahu tentang Tasya dan Abang Adit."


"Aku hanya ingin tahu aja.:


"Baiklah, Sayang. Aku pamit kerja dulu. Hati-hati. Jangan bukakan pintu untuk orang yang tidak. dikenal. Setiap ada yang pencet bel, intip dulu untuk memastikan siapa orangnya."


"Oke, Bos!" ucap Diandra. Galen mengacak rambut istrinya itu karena gemes.


Setelah Galen pergi, Diandra masuk ke kamar. Kemarin,.saat berkunjung ke rumah, Diandra sempat tanya pada bibi yang telah lama bekerja di rumah itu.


Bibi mengatakan jika dulu Adit dan Galen pernah mencintai satu wanita yang sama. Diandra ingin tahu kebenarannya.


Apakah Tasya-lah penyebab Abang Adit membenci Galen dan membalasnya dengan diriku. Aku harus tau kebenarannya agar tidak salah paham.


...****************...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2