
Galen memegang pergelangan tangan Adit dengan kuatnya. Tampak wajah Adit juga memerah menahan amarah.
"Jangan coba-coba menyentuh Diandra. Sekalipun kamu Abang kandungku, aku tidak akan segan menghajarmu," teriak Galen.
"Kau telah merebut Diandra dariku?"
"Diandra itu milikku. Kekasihku. Aku tidak pernah merebutnya darimu."
"Aku yang pertama menyentuhnya," ucap Adit.
Tanpa Adit juga, Galen memberikan bogem mentah ke wajah Adit. Tampak saudara laki-lakinya itu sedikit terhuyung kebelakang karena tidak siap menerima serangan dari Galen.
Papa yang keluar dengan memeluk mama tampak kaget melihat anak-anaknya bertengkar.
"Adit, Galen, ada apa ini?" tanya mama.
"Tolong Mama beri tau pria ini, jika Diandra itu istriku. Aku tidak mau dia menyentuh Diandra."
"Adit, apa lagi yang kamu lakukan?" tanya Papa.
"Aku hanya ingin menyentuh perut Diandra. Di rahim Diandra sedang tumbuh anakku."
Galen mendekati Adit dan kembali melayangkan tinjunya berulang kali sehingga muka Adit menjadi lebam di sana sini. Teriakan Mama sudah tidak di dengar Galen.
Papa yang berusaha mencegahnya juga di tepis Galen. Tampak wajah Adit babak belur dengan darah segar mengalir dari hidung dan mulutnya.
Papa datang dengan supir, melerai pertengkaran itu. Adit tidak bisa melawan lagi. Tubuhnya telah lemas dengan wajah yang lebam.
Papa dan supirnya membawa Galen duduk di sofa. Diandra mendekati Galen dan memeluk suaminya itu.
"Aku takut. Kita pulang saja," ucap Diandra.
"Baiklah. Maafkan aku karena membuat kamu takut." Galen membawa Diandra ke dalam pelukan dadanya.
Mama mendekati Adit dan meminta supir tadi membantu membawa Adit ke kamar. Setelah itu Mama menghubungi dokter keluarga.
__ADS_1
"Tidurlah! Jangan keluar lagi. Kenapa kamu mencari masalah Adit?"
"Diandra hamil anakku, Ma!"
"Itu anak Galen. Jangan cari masalah lagi dengan Galen. Kamu bisa dilaporkan ke pihak berwajib."
"Aku tidak takut. Yang terpenting Galen menyerahkan Diandra dan anakku."
"Adit ... sadarlah. Itu anak Galen!" teriak Mama. Papa yang mendengar teriakan Adit dan mama, langsung masuk ke kamar.
"Ada apa lagi, Ma?" tanya Papa.
"Adit berkeras anak yang di kandung Diandra anaknya. Jika Galen mendengar, bisa jadi dia akan memperkarakan Adit. Papa beri pengertianlah."
"Kamu di dalam saja!" ucap Papa.
"Kita keluar dan biarkan Adit sendiri." Papa mengajak Mama keluar dari kamar Adit.
"Pa, sepertinya Adit harus di bawa ke psikiater lagi. Aku pikir Adit telah sembuh dan pulih."
"Mama tidak menyangka kehilangan Tasya bisa membuat dia menjadi stres begitu. Mama kira dia telah pulih, ternyata saat ini kambuh lagi."
"Kalau perlu Adit di rawat di rumah sakit jiwa sampai dia sembuh betul dan menerima kenyataan."
"Mama rasa itu lebih baik, Pa."
Mama dan Papa berjalan mendekati Diandra dan Galen. Galen berdiri dan pamit pada Papa dan Mama.
"Ma, Pa, aku harus pulang. Diandra tampaknya masih ketakutan. Aku tidak mau ini akan memengaruhi kehamilannya."
"Baiklah. Diandra maafkan Adit. Mama tau kesalahan Adit sangatlah fatal, dan sulit untuk dimaafkan. Namun, Mama sangat berharap kamu dan Galen bisa memaafkan salahnya." Air mata mama tampak jatuh membasahi pipinya.
"Aku bisa saja memaafkan kesalahan Bang Adit, tapi jika Bang Adit masih mengganggu Diandra aku pastikan akan menjebloskan dia ke penjara!" ucap Galen dengan suara sedikit tinggi.
"Galen, maafkan Abangmu. Mama akan mengurusnya. Kamu pasti tahu, jika jiwa Adit sedikit terganggu sejak kehilangan Tasya. Mama akan bawa berobat. Mama mohon, jangan jebloskan Abangmu.Dia sakit. Jiwanya sedang terganggu. Dia butuh dukungan dari keluarga."
__ADS_1
"Maaf, Ma. Aku mungkin tidak akan membawa Diandra lagi ke rumah ini. Jika Papa dan Mama ingin bertemu, datang saja ke tempat tinggal kami. Atau Papa dan Mama bisa menghubungi kami, kita bertemu di luar."
"Baiklah, Papa mengerti. Sekali lagi atas nama Adit, Papa dan Mama memohon maaf pada kalian berdua. Maafkan Adit. Papa janji akan mengawasi Adit. Dia tidak akan pernah menyakiti Diandra lagi."
Galen dan Diandra pamit, mereka menyalami Papa dan Mama sebelum kembali ke tempat tinggal mereka.
...****************...
Bersambung
Selamat Pagi semuanya. Happy weekend. Semoga hari-hari yang kita jalani menyenangkan. 💓💓💓
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini.
Love After Parting
Blurb:
Bagaimana jika dua orang yang sudah tidak memiliki ikatan pernikahan, bersama-sama merawat dan mengurus anak mereka?
Leonard Gladston, seorang dokter spesialis kandungan dan juga CEO sebuah rumah sakit besar. Harus menepati janjinya untuk merawat anak bersama mantan istrinya.
Eleanor Winston, mantan istri Leonard adalah seorang penerus perusahaan milik ayahnya, Robert Winston.
Leonard dan Eleanor menikah karena perjodohan dari kedua orang tua yang sedang melakukan kerjasama bisnis. Pernikahan bisnis itu tidak berhasil karena tidak adanya cinta di antara keduanya.
Setelah bercerai, Leonard berjanji akan membantu mantan istrinya untuk merawat anak mereka.
Ingin tahu kisah mereka? Ikuti terus kisah Leonard dan Eleanor di Love After Parting.
Novel di bawah ini juga. Terima kasih.
__ADS_1