
Tengah malam Galen di kagetkan dengan suara tangisan dan teriakan Diandra. Galen langsung duduk dan melihat Diandra istrinya.
Mata Diandra masih tertutup, karena ternyata dirinya masih tidur dan hanya mengigau.
Galen melihat keringat dingin mengucur dari wajah Diandra. Galen menghapusnya dan mengecup dahi istrinya itu.
"Semua ini karena aku. Adit melakukan pelecehan padamu karena ingin membalas perbuatanku."
"Tidak ... tidak, jangan lakukan itu," teriak Diandra.
Galen memeluk Diandra, ketika wanita itu kembali berteriak.Galen membangunkan Diandra dengan mengguncang tubuhnya pelan.
"Sayang, bangun," ucap Galen sambil mengguncang tubuh Diandra pelan agar istrinya itu terbangun.
"Galen ..." ucap Diandra langsung memeluknya.
"Kamu mimpi apa? Apakah kamu masih teringat pelecehan itu? Kita ke psikiater lagi?" tanya Galen beruntun.
"Aku nggak apa-apa. Mungkin aku mimpi itu lagi karena kejadian kemarin. Peluk aku!" ucap Diandra.
Galen kembali memeluk erat istrinya dan membawa kedalam dekapan dadanya. Galen mengusap punggung Diandra hingga kembali terlelap.
...----------------...
Pagi harinya Galen dibangunkan oleh suara ponselnya. Galen melihat mamanya yang melakukan panggilan.
"Ada apa, Ma," ucap Galen saat menerima panggilan diponselnya.
"Nanti jam makan siang Papa dan Mama menunggu kamu di restoran biasa keluarga berkumpul," ucap mama.
"Aku dan Diandra?"
"Kamu datang sediri aja. Ini masalah keluarga kita."
__ADS_1
"Diandra juga udah bagian keluarga, Ma. Dia menantu mama, istri aku," ucap Galen.
"Kali ini mama hanya ingin mengobrol denganmu."
"Baiklah."
"Jangan lupa. Papa dan Mama menunggu!"
"Iya, Ma."
"Kalau gitu, udah dulu. Mama tutup ya?"
"Ya, Ma.
Sambungan ponsel terputus. Galen bangun dan langsung menuju kamar mandi. Galen tidak tahu jika Diandra telah terbangun. Diandra mendengar semua yang Galen ucapkan.
"Aku tahu, pastilah mama dan papa tidak bisa terima aku karena peristiwa kemarin. Seperti yang Galen katakan, setiap orang tua pasti lebih percaya dan membela anak kandungnya sendiri dari pada menantu yang baru masuk dikehidupan mereka."
Galen keluar dari kamar mandi. Dia tidak melihat Diandra. Galen langsung keluar kamar mencari istrinya itu. Saat melihat Diandra sedang memasak, barulah hatinya tenang. Galen takut Diandra pergi dari rumah.
Diandra tersenyum, karena tahu itu pastilah suaminya Galen yang memeluk. Diandra membalikkan badannya dan mengecup pipi Galen.
"Udah wangi banget," ucap Diandra.
"Kamu juga wangi. Selalu wangi," ujar Galen dan membalas mengecup bibir Diandra.
"Gombal."
"Aku serius sayang," ucap Galen. Dia mengangkat tubuh istrinya ke atas meja. Galen lalu mematikan kompor.
"Aku pengin. Sebelum pergi kerja kita main ya," bisik Galen. Tangannya langsung menaikkan baju Diandra dan meloloskan dari kepalanya. Saat ini bagian atas tubuh Diandra telah terbuka.
"Di sini?" tanya Diandra.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak mau di sini. Kita ke kamar," ucap Galen dan langsung menggendong tubuh Diandra.
Galen membaringkan tubuh Diandra di tempat tidur dan melecuti seluruh kain yang menutupi tubuh mulus istrinya itu. Galen lalu melempar handuk yang dipakainya. Sekarang tubuh mereka berdua telah polos.
Galen langsung menaiki tubuh istrinya dan mengecup seluruh bagian di wajah Diandra. Kecupan dan ciuman turun ke leher. Galen meninggalkan banyak jejak di leher istrinya itu.
Setelah Galen merasa cukup memberikan pemanasan dan juga Diandra telah mulai terbuai, Galen langsung menuju intinya.
Dengan sedikit mendorong, senjatanya masuk ke inti tubuh Diandra. Tampaknya Diandra telah mulai terbiasa. Tidak ada terdengar rintihan kesakitan lagi saat memasuki tubuh istrinya itu.
Galen memompa senjatanya pelan, ketika hampir sampai puncak Galen menambah kecepatannya.
"Aku mau sampai, kamu?" tanya Galen.
"Aku juga," ucap Diandra malu.
"Kita baringan ya keluarnya biar cepat jadi benih kita," bisik Galen lagi. Diandra hanya mengangguk, wajahnya memerah karena malu. Diandra masih malu jika bicara mengenai hubungan badan.
Setelah sama-sama mencapai puncak, Galen menjatuhkan tubuhnya ke samping. Dia mengecup dahi istrinya itu.
"Semoga benih cinta kita cepat berkembang. Aku ingin memiliki banyak anak darimu."
"Berarti aku harus hamil terus," ucap Diandra dengan cemberut.
"Bagaimana kalau lima orang?" tanya Galen.
"Itu tetap banyak."
"Biar rumah kita rame. Mandi bareng, ya? Perut aku lapar. Nggak cukup makan kamu aja," ucap Galen mencubit hidung istrinya itu.
Galen bangun dan tanpa menunggu jawaban dari Diandra, Galen menggendongnya menuju kamar mandi.
Satu jam di kamar mandi,belum ada tanda-tanda mereka berdua akan selesai mandi. Entah apa yang Galen dan Diandra lakukan. (Author tidak tahu, mereka ngapain aja ya?ðŸ¤ðŸ¤).
__ADS_1
...****************...
Bersambung