
Diandra dan Galen kembali memdatangi rumah kediaman orang tuanya. Mama dan Papa ingin membicarakan mengenai pesta pernikahan mereka yang akan diadakan satu minggu lagi.
Galen dan Papa masuk ke ruang kerja. Mereka sekalian ingin membicarakan mengenai perusahaan.
Diandra sedang asyik di dapur, dia membuatkan kue bolu brownies kesukaan Galen dan juga kedua orang tuanya.
Mama juga ikut rapat mengenai acara yang akan dilaksanakan ketika pesta pernikahan Galen sekalian peringatan 30 tahun pernikahan orang tuanya.
"Dian, mama mau ikut ngobrol dengan papa dan Galen. Apa kamu tidak keberatan mama tinggalkan dengan bibi saja?" tanya mama.
"Nggak apa, Ma. Aku mau siapkan kue ini dulu. Nanti aku boleh ikutan, Ma?"
"Tentu saja boleh. Mama tinggal dulu, ya."
Mama berjalan menuju ruang kerja Papa. Tinggal Diandra berdua dengan bibi. Diandra terlalu fokus membuat kue hingga tidak menyadari kehadiran Adit.
Pria itu duduk di kursi makan sambil memperhatikan Diandra masak. Sesekali tampak Adit tersenyum melihat Diandra.
Saat akan meletakkan kue yang telah matang, Diandra kaget melihat Adit. Hampir saja kue yang ada ditangannya terjatuh.
"Galen sepertinya sangat mencintai kamu, sehingga tidak mempermasalahkan kejadian yang telah menimpa kamu."
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Diandra. Wanita meletakkan kue perlahan, takut jatuh.
"Aku hanya ingin Galen dan kamu berpisah?"
__ADS_1
"Kenapa kamu ingin kami berpisah? Apa salahku? Kenapa kau tega melakukan itu?" tanya Diandra dengan suara sedikit keras.
"Bibi, bisa tinggalkan kami berdua. Ada hal penting yang akan aku bicarakan dengan adik iparku ini," ucap Adit dengan bibi.
"Baik, Den Adit." Bibi meninggalkan Diandra dan Adit. Wanita itu mengepalkan tangannya. Sebenarnya rasa takut Diandra begitu besar, namun ia coba mengendalikan semua itu.
Saat Diandra ingin pergi juga, tangannya ditahan Adit.
"Lepaskan!" ucap Diandra dengan sedikit keras.
"Apa kamu ingin Galen dan kedua orang tuaku tau jika akulah orang pertama yang tidur denganmu?" tanya Adit.
"Apa kamu tidak malu jika mereka tau kebusukan dan kebejatan kelakuan kamu?"
Diandra menyentak tangannya kuat, hingga cengkeraman tangan Adit lepas. Dengan mata menyala menahan amarah, Diandra menatap Adit.
"Kenapa kamu ingin aku dan Galen berpisah? Kita sebelum ini tidak saling mengenal. Apa salahku denganmu," ucap Diandra.
"Salahmu ... kamu ingin tau salahmu apa?" Adit tersenyum miring dengan Diandra.
"Salahmu, kenapa kamu jadi wanita yang dicintai Galen? Tidak boleh ada wanita yang dicintai Galen. Dia tidak boleh bahagia. Dia harus merasakan kesepian seperti yang aku rasakan."
"Kenapa Galen tidak boleh bahagia? Kamu abang yang aneh. Kamu pasti sakit, Bang. Seharusnya kamu berobat ke psikiater. Ada dendam apa kamu dengan Galen? Kenapa aku yang menjadi palampiasan dendam itu?"
"Apa kamu pikir aku gila sehingga harus ke psikiater?" ucap Adit dengan mata melotot. Tampaknya dia tidak suka dengan ucapan Diandra.
__ADS_1
"Kamu itu sakit. Sakit jiwa. Mana ada seorang abang yang ingin adiknya menderita."
"Kamu ...." Adit berdiri dan ingin mendekati Diandra., namun langkahnya terhenti saat melihat Galen keluar dari ruang kerja Papa.
Galen tersenyum dengan Adit dan Diandra. Adit kembali duduk dan membalas senyum Galen.
"Sayang, kue-nya udah matang. Harum banget. Pasti lezat. Abang Adit doyan banget dengan brownies. Iya'kan Bang?"
"Iya, makanya aku duduk di sini ingin mejadi orang pertama yang mencicipi."
"Itu udah matang, Abang makan aja."
"Apa aku boleh mencicipi ini, Diandra?" tanya Adit.
Diandra hanya diam tanpa menjawab ucapan Adit.
"Bolehlah, iya'kan Sayang," ucap Adit. Diandra hanya mengangguk sebagai jawaban.
Galen memandangi Diandra heran, karena wajah istrinya itu yang sangat tidak bersahabat dengan abangnya.
Kenapa Diandra sepertinya kurang suka dengan abang Adit.
...****************...
Bersambung
__ADS_1