CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Dua Puluh Dua. CTK.


__ADS_3

Diandra menatap Adit dengan mata menyala. Tangannya terkepal menahan amarah.


Jika saja aku tidak memikirkan Galen, telah aku katakan jika kamulah sang peleceh itu. Aku menghargai Galen dan kedua orang tuamu.


"Sayang, kamu kenapa?" ucap Galen makin kuatir melihat Diandra yang terdiam dengan sorot mata tajam. Keringat dingin membasahi tubuhnya.


"Mama, Papa, aku bawa Diandra ke kamar untuk istirahat dulu." Galen membantu Diandra berdiri.


Baru beberapa langkah, tubuh Diandra melemah dan jatuh pingsan. Galen dengan cepat menangkap tubuh istrinya sebelum jatuh ke lantai.


Galen langsung menggendong Diandra. Mama yang kuatir dengan keadaan Diandra, mengikuti langkah Galen.


"Kenapa Diandra ya? Seperti ketakutan," kata mama.


"Diandra emang sering begini. Mama tidak perlu kuatir," ucap Galen gugup.


Galen tidak mungkin mengatakan tentang semua yang pernah dialami Diandra. Biarlah itu menjadi rahasia dia dan Diandra.


"Mama panggilkan Dokter keluarga kita aja."


"Nggak perlu,Ma.Aku bisa tangani. Obat Diandra juga ada aku bawa."


"Sakit apa sebenarnya Diandra? Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari mama'kan?" tanya Mama dengan wajah menyelidiki.


"Nggak ada, Ma. Dengan pelukan hangat dariku, Diandra akan sadar," canda Galen.


"Biar mama minta bibi buatkan sup dan rebusan jahe merah. Biar tubuh Diandra agak hangat. Mama ke dapur dulu," ucap mama.

__ADS_1


Baru beberapa langkah, Mama membalikan badannya,"Diandra tidak sedang hamil'kan?"


"Ma, udah Galen katakan, saat ini Diandra sedang datang bulan. Mana mungkin hamil!"


"Siapa tau kamu berbohong!" ucap mama sebelum pergi dari kamar Galen.


Setelah mama menghilang, barulah Galen mendekati Diandra. Memeluk tubuh istrinya itu.


"Sayang, kamu kenapa jadi begini? Apa kamu teringat lagi peristiwa itu?"


Galen mengusap rambut istrinya itu. Galen memeluk pinggang Diandra dan ikut berbaring di samping istrinya itu.


Sesaat kemudian ,tampak Diandra mulai membuka mata. Wanita itu langsung memeluk Galen.


"Jangan tinggalkan aku, jangan jauh dariku!" ucap Diandra.


"Kamu makan dulu ya. Aku minta bibi bawakan makanan buat kamu dulu."


"Biar kita gabung dengan keluarga kamu yang lain."


"Kamu yakin udah kuat buat berjalan ke lantai bawah."


"Udah. Aku kuat kok."


Diandra dan Galen turun ke lantai satu dengan berjalan perlahan. Langsung menuju ruang makan.


Sampai di ruang makan, ternyata Papa dan Mama telah makan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Diandra, kenapa nggak istirahat di kamar aja? Makanan-nya bisa minta tolong bibi yang antar," kata Mama.


:"Nggak apa, Ma. Aku juga pengin makan bareng."


"Tapi papa dan mama udah duluan makannya. Lapar banget tadi. Iya'kan,Pa?" tanya mama dengan Papa.


"Papa makan bukan karena lapar,tapi hanya untuk menyenangi hati mama aja," ucap Papa.


"Oh Gitu ya. Jadi papa tadi terpaksa makan hanya untuk menyenangkan.hati mama," ucap mama.


"Jangan marah, Ma. Maksud Papa bukan gitu. Papa mau mengatakan pada Galen jika Papa sangat menyayangi mama. Apapun yang mama inginkan akan papa lakukan."


"Terserah Papa ngomong apa! Kita ke ruang keluarga aja lagi. Biar Galen, Diandra dan Adit aja yang makan.


Mama lalu meminta Adit yang berada di kamarnya untuk makan siang bersama dengan Galen dan Diandra.


Saat Adit muncul, Diandra mengepalkan tangannya untuk memberikan kekuatan pada dirinya.


Mereka makan bertiga. Diandra hanya menunduk, tidak berani menatap Adit. Saat Adit dan Galen sedang asyik mengobrol Diandra menyelanya.


" Perbedaan saudara,.teman dan musuh sangat tipis. Ada saatnya dia mendukung berbagai hal yang kamu lakukan, tapi bisa saja dia menusuk dari belakang, bahkan menghancurkanmu. Selalu tidurlah dengan satu mata terbuka. Jangan pernah menganggap remeh. Orang terdekatmu mungkin saja adalah musuhmu," ucap Diandra


Adit memandangi Diandra dengan intens, dia tidak mengira Diandra akan kuat dan bisa menyindirnya begini.


...****************...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2