
Diandra membuka matanya perlahan. Dia melihat Galen yang tertidur duduk dengan kepala berada di tepi ranjang.
Air mata Diandra jatuh membasahi pipinya tanpa dapat dia tahan. Perasaannya saat ini berkecamuk. Antara bahagia dan sedih.
Bahagia karena saat ini telah resmi menjadi istri Galen dan suaranya telah kembali. Sedih karena dia tahu kenyataan jika yang melecehkan dirinya adalah abang dari suaminya.
Diandra bingung, apa yang harus dia lakukan. Berkata jujur, takut akan membuat Galen sedih dan menghancurkan hubungan saudaranya.
Jika Diandra memilih diam, bagaimana caranya dia menghadapi abang suaminya itu. Setiap melihat Adit, rasa takut itu masih besar didirinya.
Diandra menarik napas panjang, dan mengusap rambut Galen. Pria itu membuka matanya saat merasakan tangan dikepalanya.
"Sayang, kamu udah sadar?" tanya Galen dan langsung bangun dari tidurnya.
"Aku ingin di peluk kamu," gumam Diandra dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi.
Galen langsung naik ke ranjang dan memeluk istrinya. Tangis Diandra pecah di pelukan Galen.
"Aku mencintaimu, Galen," ucap Diandra di sela tangisnya.
"Aku juga sangat mencintai kamu, Diandra."
Ya Tuhan, aku nggak tega mengatakan kebenarannya. Aku takut Galen sedih mengetahui kenyataan ini. Kenapa di saat aku telah menjadi istri sah Galen baru aku mengetahui semua ini. Kenapa Tuhan? Apa yang harus aku lakukan?.
"Galen, saat ini aku telah menjadi istri kamu. Apakah aku boleh meminta sesuatu?" tanya Diandra pelan.
"Kamu mau meminta apa? Jangankan satu, dua pun akan aku sanggupi."
"Aku hanya ingin nanti kita tinggal terpisah dari kedua orang tuamu. Aku tidak peduli mau tinggal di mana."
__ADS_1
"Hanya itu permintaan kamu?"
"Ya. Aku ingin belajar menjadi istri yang baik dan mengerjakan semua kewajiban aku sebagai suami istri."
"Baiklah, kita akan tinggal di apartemen. Aku memiliki satu apartemen."
Ponsel di saku celana Galen berdering. Galen mengambilnya dan melihat nama mama-nya di layar.
"Maaf, Sayang. Aku angkat telepon dulu. Dari mama."
"Silakan!" ucap Diandra.
Galen menyentuh tanda telepon berwarna hijau di layar ponselnya. Galen langsung bicara.
"Mama kemana aja? Kebiasaan kalau lagi liburan ponsel dimatikan Jika ada keperluan susah hubunginya."
"Kalau Mama aktifkan ponsel, liburan akan terganggu. Banyak yang menghubungi. Emang ada perlu apa?"
"Pakai kejutan segala. Mama tiga hari lagi pulang. Kamu mau Mama bawakan ole-ole apa?" tanya Mama Galen.
"Aku hanya ingin Papa dan Mama selamat sampai ke rumah dan sehat selalu."
"Kamu selalu saja begini. Buat Mama terharu aja. Udah dulu ya, Nak. Mama mau jalan-jalan lagi. Sampai jumpa tiga hari lagi."
"Oke, Ma. Aku sayang Mama."
"Mama juga sayang kamu."
Mama lalu mematikan sambungan telepon mereka. Galen lalu memandangi Diandra.
__ADS_1
"Tiga hari lagi, Papa dan Mama akan kembali. Kita akan datang ke rumah berdua, meminta restu. Jika Papa dan Mama marah, aku harap kamu jangan sedih. Pasti awalnya mereka hanya kaget aja karena tau kita telah menikah."
"Ya, Galen. Aku mengerti itu."
"Sekarang kamu mau mandi atau makan dulu."
"Aku mau mandi, tapi ...." Diandra menghentikan ucapannya.
"Tapi apa,Sayang?"
"Susah karena harus bawa infus."
"Aku akan bantu kamu mandi."
"Mau bantu aku mandi?" tanya Diandra.
"Ya. Kenapa emangnya? Kita udah sah sebagai suami istri. Tidak perlu malu. Apa ko lupa jika saat ini aku telah sah menjadi suami kamu?"
Diandra tersenyum sambil memandangi Galen. Pria itu membalas dengan tersenyum semringah.
Diandra tidak sampai hati untuk mengatakan kebenarannya. Apa dia tega menghilangkan senyum di wajah pria yang sangat dicintainya itu.
Kehadiranmu membawa cinta yang begitu indah, dapat memberiku kebahagiaan serta rasa rindu yang tidak pernah ada akhirnya.Kamu bisa membuatku bahagia dengan cara yang tak biasa, seperti yang orang lain lakukan.
Apa pun yang terjadi dengan hidupku saat ini, aku yakin Tuhan telah merencanakan hal terbaik untukku. Jika tidak untuk saat ini, sesuai waktu-Nya, kita mendapatkan hal terbaik dari-Nya.
...****************...
Bersambung
__ADS_1
Kutipan bersumber dari google