CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Empat Puluh Sembilan. CTK.


__ADS_3

Galen menghubungi kedua orang tuanya, dia ingin bertemu sekalian makan malam. Galen ingin menjelaskan pada Papa dan Mama mengenai kehamilan Diandra.


Galen takut apa yang dikuatirkan Diandra itu benar. Kedua orang tuanya bisa salah paham atas kehamilan Diandra.


"Sayang, kamu udah siap?" tanya Galen.


"Udah. Kita berangkat sekarang?"


"Maunya kamu kapan? Sekarang apa tahun depan?" ucap Galen bercanda.


"Tahun depan, keburu anak ini lahir," ucap Diandra cemberut.


"Sekarang, Sayang." Galen memeluk pinggang Diandra mengajaknya pergi.


Galen menjalankan mobil dengan perlahan menuju restoran yang telah disepakati dengan kedua orang tuanya.


Setengah jam perjalanan sampailah keduanya di restoran. Dengan langkah pasti keduanya memasuki ruang VIP dimana kedua orang tua Galen telah menunggu.


"Selamat Malam Papa, Mama," sapa Diandra. Wanita itu lalu mencium tangan kedua mertuanya.


"Duduklah!" ucap Mama.


Galen dan Diandra duduk berhadapan dengan mama dan Papa. Menu makanan telah banyak tersedia di meja.


"Maaf, mama tadi langsung memesan makanannya," ucap Mama melihat Diandra yang memperhatikan makanan di meja.


"Sebelum kita melanjutkan obrolan, sebaiknya makan dulu. Takut makanannya keburu dingin," ucap Mama


"Baiklah,Ma." Mereka menyantap hidangan yang tersedia dengan lahapnya, terutama Galen. Mama dan Papa memang sengaja pesan semua makanan kesukaan anaknya itu.


Setelah makan, barulah mereka bicara. Papa yang membuka obrolan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Galen, Diandra, sebenarnya Papa dan Mama juga ada yang ingin dikatakan. Kebetulan sekali kalian berdua mengajak makan malam, " ucap Papa memulai obrolan.


"Kalau begitu, Papa dan Mama saja yang mulai bicara."


"Ini mengenai abangmu Adit," ucap Mama pelan.


"Kenapa abang Adit?" tanya Galen sedikit ketus.


"Kamu masih ingat, seminggu setelah kepergian Tasya, Adit masih terus saja mengurung diri. Tidak mau menemui siapapun. Setelah itu mama dan papa serta Adit pergi ke luar kota."


"Ya, aku masih ingat,"ucap Galen.


"Sebenarnya kami bukan liburan, tapi lebih tepatnya berobat. Kami membawa Adit ke psikolog. Adit mengalami guncangan jiwa, karena tidak bisa menerima kematian Tasya."


Mama menarik nafas dan menatap Galen anaknya. Setelah beberapa saat, Mama melanjutkan ucapannya.


"Satu tahun Adit harus bolak-balik ke rumah sakit tempat psikolog itu membuka praktik. Psikolog itu menyarankan untuk Adit di rawat inap di rumah sakit jiwa dan berobat dengan seorang psikiater. Untuk berobat ke psikiater kami ikuti. Kami meminta obat penenang buat Adit. Seperti saran psikolog, Dokter psikiater juga menyarankan Adit di rawat."


"Terus terang, saat itu yang mama pikirkan hanyalah diri sendiri. Mama merasa malu jika ada yang tau anak mama di rawat di rumah sakit jiwa."


"Lalu?" tanya Galen.


"Setelah satu tahun berobat ke psikiater dan konsultasi ke psikolog, mama pikir Adit telah sembuh. Namun, ternyata mama salah. Adit belum sembuh. Mama dan Papa akhirnya sepakat akan membawa Adit ke rumah sakit jiwa."


"Aku rasa mungkin itu lebih baik untuk bang Adit. Terus apa masalahya lagi, Ma."


"Adit tidak mau dibawa ke rumah sakit. Dia merasa sehat."


"Terus bagaimana jalan keluarnya, Ma?"


"Mama ingin bantuan kalian berdua untuk membujuk Adit agar mau berobat."

__ADS_1


"Kami?" tanya Galen.


"Ya, terutama Diandra."


"Mama minta bantuan Diandra untuk membujuk agar dia mau berobat. Apa mama telah melupakan atau pura-pura lupa yang dilakukan abang Adit dengan Diandra?" tanya Galen dengan suara sedikit tinggi.


Papa dan Mama saling berpandangan. Mereka telah menduga jika Galen pasti akan menolak. Padahal Mama yakin hanya bujukan dari Diandra yang bisa meyakinkan Adit buat berobat.


"Galen, sebelumnya Papa minta maaf. Bukan maksud papa dan mama membela Adit. Cuma kami hanya ingin kamu tau sedikit mengenai Abang kamu itu."


"Mengetahui apa?"


Papa lalu mengatakan semua mengenai Adit dari mama hamil hingga melahirkan. Adit memang sedikit ada kekurangan. Itulah sebabnya kedua orang tuanya selalu sekolahkan Adit di sekolah swasta. Agar Adit bisa naik kelas terus dengan bantuan kepala sekolah yang Papa kenal.


Mama juga mengatakan apa yang Adit katakan jika dia pernah menyukai Diandra. Mendengar cerita Mama, Galen terutama Diandra menjadi kaget. Tidak pernah dia ingat dengan semua pembeli dagangannya. Banyak pelanggannya pria muda.


"Maaf Pa,Ma, bukannya aku sombong jika aku tidak mengingat Bang Adit pernah jadi pembeli danganganku. Yang membeli banyak juga pria muda. Jadi aku tidak begitu mengingat wajah-wajah mereka."


"Mama tau, Diandra. Mama udah beri pengertian pada Adit. Namun, tidak mudah memberikan pengertian pada orang yang sedikit mengalami goncangan jiwa seperti Adit. Dibutuhkan kesabaran ekstra."


"Mama sadar nggak,jika Diandra yang membujuk Bang Adit itu sama saja kita memberikan harapan padanya. Aku tidak mau Bang Adit berpikir Diandra juga menyimpan perasaan yang sama. Namun, mama jangan kuatir, aku akan membantu menyadari Bang Adit jika cinta itu tidak bisa dipaksakan. Aku dan Diandra yang akan menemui nya."


"Baiklah, Nak. Mama sangat berharap kamu dan Diandra bisa membujuknya untuk berobat kembali."


Mama memandangi Papa dengan tersenyum. Mama awalnya tidak yakin jika bisa membujuk Galen.


...****************...


Bersambung


Melansir AllPsychologySchools, psikiater adalah dokter yang memberikan terapi pengobatan kepada pasiennya. Mereka bisa meresepkan obat untuk terapi kesehatan mental dan emosional pasiennya. Sedangkan, psikolog lebih fokus pada psikoterapi untuk merawat gangguan emosional dan mental pasiennya.(sumber google)

__ADS_1


__ADS_2