
Galen tampak menahan emosinya dengan mengepalkan kedua tangannya. Jika Diandra masih gadis,Galen tidak juga mungkin bisa melarang siapapun jatuh cinta pada Diandra.
Cuma, Galen tidak bisa menerima karena saat ini Diandra telah menjadi istrinya. Seharusnya Adit mengerti itu.
Jika saja kamu saat ini sedang tidak sakit, aku pasti telah menghajarmu ,walau kamu itu abangku. Aku tidak suka yang telah menjadi milikku diganggu.
"Kita bicara di mana?" tanya Galen setelah bisa menguasai dirinya.
"Kita bicara di sana," Tunjuk Adit ke sofa yang berada di dekat jendela kamarnya.
Galen berjalan menuju sofa dan langsung menghempaskan tubuhnya. Galen mengajak Adit untuk duduk.
"Ternyata banyak foto Diandra di kamar Abang," ucap Galen pelan.
"Kenapa jika banyak foto Diandra?" tanya Adit.
"Diandra itu istri aku,Bang. Pasti ganjil jika di lihat orang di kamar Abang Adit banyak terpasang foto Diandra."
"Kenapa harus memikirkan kata orang?"
__ADS_1
"Kita ini hidup bersosial. Tentu saja harus memikirkan omongan orang, Bang."
"Kamu ingin bicarakan ini aja denganku?" tanya Adit.
"Bukan, banyak yang ingin aku bicarakan. Pertama, aku ingin meluruskan masalah Tasya. Aku tidak pernah bermaksud membunuh Tasya. Semua terjadi di luar kemampuanku. Kenapa aku saat itu menolak Tasya? Apa Abang Adit ingin tahu alasanku?"
"Apa itu akan ada artinya lagi?"
"Tentu saja. Untuk meluruskan semua kesalah pahaman yang terjadi."
Adit memandangi Galen dengan mata tajam. Galen hanya membalas tatapan Adit dengan tersenyum.
"Kali ini aku mohon Bang Adit dengarkan penjelasanku. Kejadian ini telah lebih dari lima tahun berlalu. Sejak kematian Tasya kita tidak pernah bicara drai hati berdua. Aku mau Abang mendengar alasan aku menolak Tasya." Galen menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku menolak Tasya selain karena aku memang tidak ada hati dengannya, juga karena aku menghargai perasaan Bang Adit. Aku tau dari awal Abang membawa Tasya ke rumah ini, Bang Adit telah mencintai dan menyukai Tasya."
"Alasan! Itu hanya alasanmu saja."
"Untuk apa aku berbohong. Lagi pula perlu Abang tau, jika cinta itu tidak bisa dipaksakan. Seperti yang Abang rasakan pada Tasya. Dia tidak bisa menerima cinta Bang Adit karena Tasya sadar jika cinta itu dari hati, tidak bisa dipaksakan. Begitu juga perasaanku. Jika Tasya bisa menolak Bang Adit, kenapa aku tidak boleh menolak cintanya Tasya?"
__ADS_1
Adit berdiri dari duduknya dan mengurung Galen dengan kedua tangannya. Dia memandangi Adit dengan mata tajam.
"Apa kamu sengaja menyakiti Tasya karena dia menolak cintaku? Apa hak kamu membalas semua itu? Aku tidak minta perlindungan darimu? Apa kamu pikir aku ini lemah sehingga membutuhkan bantuan darimu?" tanya Adit.
Adit memberikan pertanyaan yang beruntun tanpa menunggu jawaban dari Galen. Galen mendorong kuat kedua tangan Adit yang mengukungnya. Galen berdiri dari duduknya.
"Aku menolak Tasya bukan untuk membalas sakit hati Abang. Seperti yang Bang Adit katakan, jika aku tidak berhak membalas semua yang Tasya lakukan pada Abang. Semua itu hanya kebetulan."
Tampaknya Galen sudah mulai tersulut emosi. Dia mengepalkan tangannya untuk meredakan amarah.
"Dengarkan sekali lagi aku bicara. Aku tidak akan mengulangnya lagi, karena percuma aku mengatakan berkali-kali jika abang tidak bisa menerimanya. Jangan tutup hati abang atas semua kejadian ini," ucap Galen.
"Pertama, aku menolak Tasya karena aku tidak mencintainya. Kedua, kecelakaan Tasya itu murni kecelakaan, abang tidak bisa menyalahkan aku atas semua itu. Ketiga, aku ingin mengatakan jika anak yang Diandra kandung saat ini adalah anakku. Jangan pernah Abang mengaku lagi jika itu anakmu. Keempat, aku ingin Bang Adit pergi berobat kembali. Terutama psikolog, abang bisa luapkan semua yang dirasakan pada psikolog itu."
"Apa kamu pikir aku gila sehingga membutuhkan seorang psikolog," teriak Adit.
Suara teriakan Adit terdengar hingga ke luar kamarnya. Diandra dan kedua mertuanya, kaget mendengar teriakan Adit. Mereka bertiga langsung berdiri, dan tanpa aba-aba serempak berjalan menuju kamar Adit.
...****************...
__ADS_1
Bersambung