
Sepanjang perjalanan Diandra hanya diam membisu. Galen membiarkan istrinya itu tenang. Sesekali Galen melirik le samping,
Sampai di tempat tinggal mereka, Diandra langsung menuju lantai atas dan masuk ke kamar.
Diandra membaringkan tubuhnya. Galen ikut naik ke ranjang dan memeluk Diandra.
"Kenapa, Sayang. Maafkan abang Adit. Aku tau kesalahannya sangat fatal dan tak bisa dilupakan."
Diandra membalikan badannya menghadap Galen. Air mata tampak mengalir dari kedua matanya.
"Mas, aku mau kamu jawab pertanyaan aku dengan jujur," ucap Diandra.
"Kamu mau tanya apa?" ujar Galen.
"Apakah kamu juga ragu jika anak dalam kandungan aku ini anakmu?"
"Kenapa kamu tanyakan itu? Tentu saja aku yakin itu anakku."
"Mas dengar sendiri, Bang Adit bilang ini anaknya. Ini anak kamu'kan, Mas? Kita udah periksa ke Dokter. Kamu harus mengatakan ini pada kedua orang tuamu agar mereka tidak salah paham."
"Baiklah, besok aku ajak kedua orang tuaku makan malam. Kita bicarakan ini."
__ADS_1
"Aku tidak mau nanti orang tua Mas juga berpikiran ini anaknya Bang Adit. Mas, maafkan aku. Jika karena aku Mas dan keluarga jadi tidak bisa bersama terus."
"Jangan kamu pikirkan itu. Aku bisa bertemu kedua orang tuaku. Aku hanya tidak mau ke kediaman mereka untuk menghindari hal yang tidak diinginkan."
"Mas, maaf jika perkataanku ini menyakiti kamu. Apakah tidak sebaiknya Abang Adit di rawat di rumah sakit jiwa untuk pemulihan mentalnya? Sepertinya jiwanya sedikit terganggu."
"Aku akan bicarakan ini nanti dengan kedua orang tuaku. Mungkin emang itu jalan terbaik. Sekarang tidurlah. Kamu harus istirahat, jangan sampai kejadian tadi pengaruhi kehamilan kamu."
Galen mengajak Diandra tidur. Galen janji akan mengatakan semua tentang kehamilan Diandra dengan kedua orang tuanya agar tidak terjadi kesalah pahaman nantinya.
Di kediaman kedua orang tuanya Galen, mereka sedang bicara dengan Adit.
"Adit, Mama mohon denganmu, jangan mencari masalah lagi dengan Galen. Sadarlah, jika kecelakaan yang dialami Tasya itu tidak ada hubungannya dengan Galen. Tasya itu bukan sengaja menabrak dirinya untuk bunuh diri. Itu murni kecelakaan. Bukan salah Galen."
"Adit, jika emang Tasya bunuh diri itu juga bukan kesalahan Galen. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Galen hanya berkata jujur jika menolak cintanya. Lebih jahat lagi jika Galen pura-pura mencintai Tasya. Lupakan semua. Kamu bisa memulai hidup baru dengan mencoba membuka hati buat wanita lain."
Adit memandangi kedua orang tuanya. Papa hanya diam membiarkan mama yang bicara. Papa takut jika dia bicara, akan makin melukai perasaan Adit. Karena papa tidak bisa bicara lembut.
"Apa aku bisa mencintai wanita lain? Aku yang pertama mengenal Tasya, tapi dia menyukai Galen. Aku juga yang pertama melihat Diandra dan bertemu dengannya. Namun dia juga tidak pernah menganggap aku ada. Diandra juga lebih menyukai Galen. Apa kurangnya aku, Ma? Aku juga bisa mencintai Diandra seperti Galen," ucap Adit dengan air mata berurai.
"Apa kamu telah mengenal Diandra sebelum Galen?" tanya Mama.
__ADS_1
"Aku telah lama memperhatikan dia jualan di taman. Sesekali aku mendekati dengan membeli dagangannya. Namun ia tidak pernah ingat aku. Apa aku ini tidak pantas dicintai?"
Mama memeluk Adit dan menghapus air mata di pipi anaknya itu. Jika mama lebih perhatian pada Adit itu karena rasa bersalah mama.
Saat hamil Adit, mama dua kali mencoba menggugurkan kandungannya karena dia masih kuliah saat itu.
Papa dan Mama menikah, saat nama masih kuliah. Mama berpikir tidak akan hamil jika jarang berhubungan.
Saat mengetahui kehamilannya, mama berusaha membuangnya dengan minum obat. Namun gagal. Adit lahir kecil karena kekurangan gizi.
Sewaktu kecil dia juga jarang di urus, karena mama dan papa mengejar karir mereka. Adit tumbuh menjadi anak yang pendiam. Berbeda dengan Galen yang sangat ceria.
Saat ini mama merasa bersalah, mama merasa semua yang Adit lakukan hanya untuk mencari perhatian dari kedua orang tuanya.
"Percayalah Sayang, akan ada wanita yang akan menjadi jodohmu. Yang mencintai kamu apa adanya. Tapi kamu harus membuka hatimu. Kita pergi berobat lagi mulai besok ke psikolog agar kamu bisa melupakan semuanya."
"Aku tidak gila,Ma. Kenapa aku harus ke psikolog lagi?"
"Siapa yang mengatakan kamu gila, Nak? Kita pergi hanya untuk konsultasi dan mengatakan semua yang kamu rasakan. Mama akan menemani kamu. Mau ya, Nak?" Mama berusaha membujuk Adit. Papa hanya diam mendengarnya dari tempat dia berdiri.
...****************...
__ADS_1
Bersambung.
Apakah Adit mau diajak mama berobat? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.