CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Tiga Puluh Lima. CTK.


__ADS_3

Galen mengendarai mobil menuju apartemen dengan pikiran tidak menentu. Baru kali ini dia menentang ucapan kedua orang tuanya. Biasanya selalu dituruti.


Galen merasa sedih, karena harapannya untuk dapat hidup dengan orang yang dicintai berdampingan dengan keluarga pupus. Kedua orang tuanya dan pastinya Adit tidak menyukai Diandra.


Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan Diandra selama dua tahun, sehari saja ditinggal Diandra telah mengalami pelecehan.


Namun, Galen juga berpikir, apakah dia bisa bahagiakan Diandra tanpa uang? Dia harus mencari pekerjaan yang layak untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya.


Galen membuka pintu apartemen, tapi suasana tampak sepi. Galen langsung melempar tas kerjanya dan menuju kamar utama, tapi Diandra tidak ada.


Galen berlari menuju dapur, Diandra juga tidak dapat di temui. Galen sangat kuatir.


"Diandra ... Diandra," teriak Galen sambil mencari keseluruh ruangan, namun istrinya itu tidak dapat ditemui.


"Diandra ...," teriak Galen. Pria itu terduduk di lantai, badannya terasa lemas. Takut kehilangan istri tercintanya.


"Diandra, di mana kamu ...," teriak Galen. Air mata mulai jatuh membasahi pipinya.


Pintu apartemen terbuka dan tampak Diandra masuk. Wanita itu kaget melihat Galen yang terduduk di lantai sambil menangis. Diandra berlari dan berlutut dihadapan suaminya itu.


"Galen, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Diandra kuatir.

__ADS_1


Galen langsung memeluk erat tubuh istrinya itu. Tangisnya pecah dipelukan Diandra. Galen benar-benar takut kehilangan wanita yang sangat dicintainya itu.


"Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku. Ku mohon!" ucap Galen memeluk tubuh Diandra makin erat.


"Aku nggak akan meninggalkan kamu. Kenapa menangis?"


"Aku pikir kamu telah pergi meninggalkan apartemen ini."


"Maaf, aku keluar tanpa izin. Aku beli ini," ucap Diandra mengangkat kantong yang tadi dijinjingnya.


"Apa itu?" tanya Galen. Pria itu melepaskan pelukannya.


Galen di minta Diandra duduk. Wanita itu pergi ke dapur dengan membawa kantong tadi.


Diandra berjalan sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin yang telah dinyalakan.


"Selamat ulang tahun, kekasihku, suamiku," ucap Diandra. Dia meletakkan kue dihadapan Galen.


"Kamu ingat ini hari ulang tahunnya?" tanya Galen.


"Tentu saja aku ingat. Sekarang tiup lilinnya, tapi sebelumnya kamu berdoa dulu."

__ADS_1


"Semoga kita selalu bersama hingga menua dan di rahim kamu segera tumbuh janin dari buah cinta kita. Aamiin," ucap Galen sebelum meniup lilin.


"Aamiin," ujar Diandra.


"Selamat Ulang Tahun untuk orang spesial yang membawa begitu banyak kebahagiaan di hatiku. Aku bersyukur untuk setiap momen yang kita habiskan bersama, dan aku berharap kebahagiaan kita tidak pernah berakhir.Semoga hari ini secerah senyummu dan seindah dirimu. Kamu bersinar setiap hari, tetapi pada hari ini, kamu akan bersinar paling terang," ucap Diandra. Wanita itu memeluk suaminya.


"Selamat ulang tahun, sayang.Bahkan hari-hari terburuk pun mudah ketika kamu memegang tanganku. Bahkan pikiran tergelap pun memudar saat kau tersenyum padaku. Dan saat kau menatap mataku, duniaku bersinar seterang dirimu—selamat ulang tahun untuk orang yang membawa kebahagiaan dalam hidupku," ucap Diandra lagi. Air matanya jatuh membasahi pipi.


"Terima kasih, Sayang. Ini ulang tahun terindah karena aku merayakan berdua dengan istriku. Wanita yang sangat aku cintai. Tetaplah disampingku, pegang erat tanganku, jangan pernah kau lepaskan." Galen dan Diandra berpelukan erat.


Di sebuah restoran tampak mama dan papa Galen masih duduk temenung. Adit datang dengan membawa kue.


"Mana Galen-nya,Ma. Ini kue pesanan Mama," ucap Adit.


"Galen telah pulang. Tidak jadi kita merayakan ulang tahunnya. Dia lebih memilih wanita itu dari keluarganya," gumam mama.


Adit duduk di sofa yang ada dihadapan Papa dan Mama. Meletakkan kue yang dibawanya ke atas meja.


...****************...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2