CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Dua Puluh Sembilan. CTK.


__ADS_3

Galen mengendarai mobilnya dengan diam. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Galen tidak pernah menduga jika Abang Adit-lah yang telah melecehkan orang yang sangat dicintainya.


Rasa sakit dan marah yang Galen rasakan tidak dapat di bendung lagi.


Kenapa harus abang Adit? Kenapa harus dia yang melecehkan orang yang aku cintai? Apa yang harus aku katakan pada papa dan mama?


Sampai di rumah orang tuanya, Galen melihat Papa dan mama-nya masih menonton, langsung bertanya keberadaan Adit.


"Dimana abang Adit, Ma?" tanya Galen dengan suara tinggi.


"Kamu bisa bertanya dengan suara pelan, mama kamu belum tuli Galen," ucap Papa.


"Adit, di mana?" tanya Galen lagi.


Mama yang melihat wajah Galen tidak seperti biasanya berdiri dan memandangi Galen dengan tanda tanya.


"Kenapa kamu mencari Adit malam begini? Kelihatannya ada hal penting."


"Aku akan buat perhitungan dengannya!" ujar Galen dengan suara masih tinggi.


"Galen, sabar. Bicara dengan mama itu jangan kasar," bisik Diandra.


"Ada apa ini, Diandra? Kenapa Galen tiba-tiba emosi dan mencari Adit?" tanya mama.

__ADS_1


Galen tidak menjawab pertanyaan mama, langsung menuju lantai atas, ke kamarnya Adit.


Baru beberapa tangga yang dinaiki, tampak Adit yang juga berjalan menuruni tangga. Galen menaiki tangga dengan cepat dan menarik kerah baju Adit.


Tanpa di duga Adit, Galen melayangkan bogem mentahnya ke wajah Adit. Karena pria itu tidak siap atas serangan Galen, dia tersungkur. Galen lalu menendang Adit hingga jatuh ke lantai bawah.


Mama dan Diandra menjerit melihat semua itu. Papa menghampiri Galen, dan melayangkan tangannya menampar Galen.


"Apa yang kamu lakukan? Apa begini cara papa mendidik kalian? Tidak bisakah dibicarakan baik-baik?"


"Bagaimana bisa aku bicara baik-baik dengan ba*ji*ngan seperti dia!" Tunjuk Galen.


Mendengar ucapan Galen, yang mengatai Adit, papa kembali melayangkan tamparannya.


Adit dibantu mama berdiri. Dipandanginya Adit dengan mata tajam.


"Emang apa yang telah Adit lakukan? Wanita mana yang telah dia lecehkan?" tanya Papa.


"Coba Papa tanyakan langsung dengan Adit. Apa dia mau jujur mengatakan semuanya!"


Papa membalikkan badan menghadap Adit. Diandra yang berdiri tidak jauh dari Adit dan mama tampak pucat ketakutan.


Ini yang paling Diandra takutkan saat dia berkata jujur. Diandra tidak ingin dikatakan sebagai orang yang telah merusak keharmonisan suatu keluarga.

__ADS_1


"Siapa wanita yang kamu lecehkan? Jawab dengan jujur!" ucap Papa dengan suara tinggi, terbawa emosi.


"Aku tidak pernah melakukan pelecehan. Apa papa percaya aku bisa melakukan itu?" tanya Adit.


"Lalu apa yang Galen maksudkan itu? Kenapa Galen begitu marahnya?"


"Siapa yang aku lecehkan? Kamu katakan saja terus terang, biar papa dan mama dengar!"


"Jangan pura-pura Adit, aku akan melaporkan kamu ke pihak berwajib agar bertanggung jawab dengan perbuatanmu!"


"Katakan saja, siapa yang aku lecehkan!" ucap Adit.


"Diandra. Kamu telah memperkosanya dan merenggut kesuciannya?"


Papa dan Mama kaget mendengar ucapan Galen. Mereka serempak memandangi Diandra.


"Diandra. Apa yang dia katakan padamu? Apa kamu percaya dengan yang wanita ini katakan? Apa Diandra ada bukti jika aku yang melakukan semua itu? Bisa saja dia berbohong. Aku tidak tau apa maksud dia menuduhku begitu!"


Diandra kaget mendengar ucapan Adit. Dia tidak pernah menduga jika Adit mengelak dan malah menuduhnya yang berbohong.


...****************...


Bersambung.

__ADS_1


Bagaimana reaksi Galen? Apa kah Galen dan kedua orang tuanya percaya ucapan Adit? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.


__ADS_2