CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Lima Puluh Lima. CTK.


__ADS_3

Tamu undangan telah memenuhi taman di belakang rumah kediaman kedua mertuanya Diandra.


Sebagian besar tamu yang hadir adalah rekan kerja dari Papa dan Galen. Tampak wajah mama yang selalu tersenyum semringah.


Kebahagiaan yang saat ini mama rasakan bukan hanya karena kehamilan Diandra, calon cucu pertamanya tapi juga karena Adit yang sudah jauh berubah.


Mama selalu saja memperkenalkan Adit pada setiap temannya yang memiliki anak gadis. Siapa tahu ada yang berminat menjadikan Adit menantu di keluarga mereka.


"Mama apaan, sih? Masa aku dipromosikan dengan semua teman," protes Adit.


"Siapa tau ada yang berminat menjadikan kamu menantu di keluarga mereka," ucap Mama.


"Malu-maluin aja, Ma. Jodoh itu tidak perlu terlalu di kejar. Dia akan datang sendirinya jika telah waktunya."


"Kita diajarkan untuk berusaha, bukan hanya diam menerima."


Galen dan Diandra tersenyum mendengar perdebatan antara ibu dan anak itu. Mama sepertinya tidak sabar ingin memiliki menantu lagi.


Hingga sore hari masih banyak tamu yang hadir. Diandra tampak telah kelelahan. Dia duduk bersandar di sofa.


"Sayang, kenapa?" tanya Galen melihat istrinya yang hanya duduk diam.


"Aku capek, Mas."


"Kenapa nggak ngomong dari tadi. Istirahat di kamar aja."


"Tapi tamu masih banyak. Tak enak harus istirahat."


"Mereka pasti mengerti dengan kondisi ibu hamil."


Galen mengajak istrinya untuk istirahat di kamarnya yang berada di lantai dua. Saat masuk, Diandra mengamati kamar tempat Galen tidur saat masih lajang itu.


Nuansa kamar di dominasi warna hitam dan putih. Di dinding kamar terpajang foto Diandra dan Galen saat mereka pergi ke pantai.

__ADS_1


Saat itu Galen mengajak Diandra karena wanita itu sedang berulang tahun. Diandra tidak menyangka foto itu diperbesar Galen.


"Itu foto saat pertama kali kamu mengajak aku jalan-jalan. Aku jelek di foto itu," ucap Diandra.


"Siapa bilang kamu jelek. Dari awal aku melihat kamu, dan mencoba kenalan dengan membeli minuman yang kamu jual, wajahmu itu emang telah cantik. Semakin bertambah cantik sejak nikah dan hamil. Makanya aku makin takut jika kamu di rebut pria lain."


"Gombal banget."


"Kamu nggak percaya? Coba berdiri di sini."


Galen mengajak Diandra bercermin, dan memeluk pinggang istrinya itu dari belakang. Galen mengusap perut Diandra.


"Kamu lihat, wajahmu itu cantik banget. Aku aja nggak rela jika ada yang memandang kamu lebih dari lima detik. Jika ada yang berani menatap kamu lama, mereka harus berhadapan denganku."


Galen mengecup pipi istrinya dan kembali mengusap perut Diandra yang telah mulai membuncit itu.


"Di sini ada jagoan kita. Berarti saingan aku bertambah untuk mendapatkan perhatian kamu nanti. Setelah jagoan ini lahir dan berusia lima tahun baru kita program bayi perempuan atau kembar jika perlu."


Galen mengajak Diandra tidur dan setelah istrinya terlelap barulah Galen keluar kamar menuju taman tempat acara syukuran masih berlangsung.


...****************...


Saat ini Galen telah kembali memimpin perusahaan milik orang tuanya. Bengkel tetap sebagai bisnisnya. Bengkel Galen percayakan dengan temannya untuk mengelola. Sedangkan Adit telah kembali berkuliah.


Kehamilan Diandra telah memasuki bulan ke sembilan. Galen seminggu ini telah mengambil cuti dan bekerja dari rumah saja. Galen ingin menjadi suami yang siaga.


"Sayang, kenapa masih tidur?" tanya Galen melihat istrinya masih tiduran. Biasanya Diandra telah menyiapkan sarapan untuknya.


Walau di rumah ada asisten rumah tangga, tapi untuk masakan Diandra akan masak langsung. Diandra hanya membutuhkan bantuan mereka jika dia telah merasa capek.


"Pinggang aku sakit, Mas."


"Apakah kamu akan lahiran? Bukankah itu tanda akan melahirkan?" tanya Galen. Dia mengusap pinggang istrinya.

__ADS_1


"Aku ingat betul ucapan Dokter yang mengatakan jika kontraksi mulas tanda melahirkan, perasaan mulasnya itu akan mendominasi di atas perut atau fundus. Lalu merambat ke pinggang, atau dari pinggang merambat ke perut bagian atas dan bawah. Perasaan ini biasanya hilang dan timbul dengan sendirinya. Apa kamu merasakan seperti yang dokter katakan?" ujar Galen lagi.


"Aku merasakan itu, Mas."


Mendengar jawaban Diandra, Galen langsung bangun.


"Kalau begitu, pasti saat ini kamu akan lahiran. Aku siapkan mobil dulu."


Galen berlari menuju mobilnya. Dia lalu memasukan tas yang berisi semua kebutuhan Diandra dan bayinya.


Setelah Galen merasa semua kebutuhan telah siap, dia masuk ke kamar. Di bantunya Diandra mandi dan mengganti pakaian. Galen memeluk Diandra menuju mobil yang terparkir tepat di depan pintu utama.


...****************...


Bersambung


Selamat Pagi semuanya. Semoga semuanya dalam keadaan sehat. Novel ini segera tamat.


Mama akan merilis novel baru mulai besok. Mama harap dukungannya. RILIS TANGGAL 2 SEPTEMBER 2020


JUDUL PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN


Hanif Akram Arsalan, seorang anak ustad yang tampan. Suatu hari mendapat tawaran dari seorang produser untuk menjadi pemain dalam sebuah film yang diproduksinya.


Hanif telah menikah dengan seorang wanita cantik dan lembut bernama Nayyara Kayla Azga yang biasa di panggil Naya.


Hanif menerima tawaran produser itu untuk menjadi pemain film, karena ketampanannya Hanif cepat menjadi idola. Lawan main Hanif seorang aktor terkenal bernama William Xavier Kenzo.


Seiring berjalannya waktu, Hanif terlibat cinta lokasi dengan lawan mainnya yang bernama Citra. Hanif berniat menikahi Citra dan melakukan poligami. Naya sang istri keberatan dengan keputusan Hanif.


Kenzo yang pernah melihat Naya dan langsung jatuh cinta berniat merebut wanita itu dari Hanif. Kenzo tidak akan rela membiarkan Naya di poligami.


Apakah usaha Kenzo untuk merebut hati Naya bisa terwujud??

__ADS_1



__ADS_2