
Galen berlari ke luar rumah, namun tidak lagi ada Diandra. Pria itu mengambil mobil dan melajukan menuju jalan.
Dengan pelan, Galen menjalani mobil sambil melihat ke kiri dan kanan jalan. Galen sangat kuatir, karena jam telah menunjukkan pukul 11 malam.
Galen terus menyusuri jalan berharap dapat menemui Diandra, wanita yang sangat dicintainya itu.
Galen turun dari mobilnya ketika melewati taman kota tempat biasa Diandra berjualan. Masih ada banyak muda mudi yang sedang memadu kasih di taman itu.
Galen memandangi setiap sudutnya berharap dapat menemukan Diandra. Galen mendekati seorang wanita yang duduk di tanah dekat sebuah pohon.
Wanita itu menangis dengan memegang kedua lututnya dan menyembunyikan kepalanya di lutut.Galen langsung memeluknya erat.
"Jangan ... jangan lakukan itu lagi," teriaknya membuat banyak pasang mata memandang ke arah mereka.
"Sayang, ini aku Galen. Suamimu ...." Galen mengangkat wajah wanita itu yang ternyata memang Diandra.
Melihat Galen yang memeluknya, Diandra balas memeluk dan menangis.
"Aku tidak bohong, Galen. Aku tidak bohong ...," ucap Diandra.
"Aku percaya, Sayang. Kamu nggak akan berbohong."
__ADS_1
Diandra melepaskan pelukannya dan memandangi wajah Galen, suaminya.
"Kamu percaya dengan ucapanku!"
"Tentu saja sayang. Aku percaya. Tidak mungkin kamu berbohong. Untuk apa?"
Diandra memeluk Galen. Hatinya terasa lega mengetahui Galen percaya dengan ucapannya. Walaupun seluruh dunia tidak percaya dengan ucapannya, jika Galen percaya, bagi Diandra itu sudah cukup.
"Sekarang kita pulang. Ini udah sangat larut. Udaranya tidak baik untuk kesehatan," ujar Galen.
Diandra berdiri di bantu Galen. Dengan berpelukan Galen menuju mobilnya yang terparkir.
Galen mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan Diandra hanya diam dan tampak termenung.
"Oh, Maaf."
Galen dan Diandra keluar dari mobil dan masuk ke apartemen. Sampai diapartemen Diandra langsung membaringkan tubuhnya. Pikirannya terlalu lelah. Galen juga ikut berbaring dengan memeluk istrinya itu.
"Sayang, maafkan Papa dan Mama. Kamu pasti marah dan kecewa karena mereka tidak percaya dengan ucapanmu. Aku janji akan mencari bukti, agar mereka percaya Adit yang telah melecehkan kamu," ucap Galen pelan sambil memeluk Diandra dari belakang tubuhnya.
"Aku percaya semua yang kamu katakan. Sekarang aku mengerti mengapa sikapmu langsung berubah setiap melihat abang Adit. Ternyata kamu trauma melihatnya. Jika suatu hari kamu telah siap, apakah kamu bersedia, ceritakan semua yang terjadi di malam itu. Aku akan mencari bukti," ujar Galen lagi.
__ADS_1
Tanpa bisa dicegah air mata Diandra jatuh membasahi pipinya. Dia teringat malam kejadian itu. Dia melihat jelas wajah pria yang melecehkan dirinya. Dan Diandra bisa pastikan jika itu Adit.
Diandra membalikkan badannya, menghadap Galen. Suaminya itu menghapus air mata Diandra yang telah membasahi pipi.
"Jangan menangis. Aku udah janji tidak akan membuat air mata ini jatuh membasahi pipimu, tapi buktinya sampai hari ini, aku masih belum bisa membuat kamu tersenyum bahagia setiap harinya. Aku merasa gagal menjadi suami yang baik," ucap Galen sambil menghapus air mata di pipi Diandra istrinya itu.
"Aku bahagia. Aku bahagia karena memiliki kamu. Aku sedih karena aku kamu harus bertengkar dengan keluargamu."
"Jangan kamu pikirkan itu, Sayang. Itu menjadi urusanku."
"Galen, sebelum kita terlalu jauh melangkah, apakah tidak sebaiknya kita berpisah saja. Aku nggak mau kamu berpisah dengan keluargamu. Aku ikhlas."
"Kamu bicara apa? Aku nggak mau berpisah denganmu. Ini semua bukan salahmu. Akan aku buktikan jika kamu tidak berbohong. Tolong bantu aku. Kita harus bersatu. Jangan menyerah."
Galen membawa Diandra kedalam dekapan dadanya. Mengecup pucuk kepala istrinya itu.
"Sayang, akan aku buktikan pada mama dan papa jika aku tidak salah memilih pasangan. Mungkin saat ini kedua orang tuaku tidak bisa menerima kamu. Aku harap kamu bisa mengerti, karena selama ini yang mereka tahu dan lihat, Bang Adit anak mereka berperilaku baik. Semua orang tua pasti akan lebih membela anaknya dari orang yang baru dia kenal," gumam Galen, namun semua masih dapat didengar Diandra.
"Aku janji akan membuktikan jika ucapanku itu benar. Aku ingat betul dengan wajah pria yang melecehkanku. Tidak bisa aku melupakan saat itu."
"Iya, Sayang. Kita akan berjuang berdua." Galen memeluk istrinya erat. Dia yakin Diandra benar. Tidak mungkin Diandra berbohong, karena Galen menyaksikan sendiri bagaimana traumanya Diandra karena pelecehan itu.
__ADS_1
...****************...
Bersambung