CINTA TANPA KATA

CINTA TANPA KATA
Bab Tiga Puluh Sembilan. CTK.


__ADS_3

Papa memanggil Adit ke perusahaan. Ada yang ingin dibicarakan berdua dengan anaknya itu. Papa sengaja mengajak Adit bertemu untuk bicara empat mata saja tanpa mama tahu.


Adit memasuki ruang kerja Papa dengan langkah malas. Dia tahu, jika Papa mengajak bicara empat mata pasti ada sesuatu yang penting akan di sampaikan dan tidak boleh mama tahu.


"Selamat siang, Pa," ucap Adit begitu masuk ke ruang kerja.


"Selamat Siang, duduklah dulu. Papa selesaikan sedikit lagi pekerjaan ini."


"Ada perlu apa Papa memanggilku? Kenapa tidak di rumah saja kita mengobrolnya?" tanya Adit sambil duduk di sofa.


"Papa sengaja memanggil kamu untuk bicara empat mata. Agar mama kamu tidak tahu."


"Langsung aja,Pa. Aku tidak punya banyak waktu," ucap Adit.


Mendengar ucapan Adit itu, Papa berdiri dari kursi kerjanya dan menghampiri Adit.


"Emang apa kerjamu sehingga tidak memiliki banyak waktu?" tanya Papa dengan suara tinggi.


"Aku ada perlu dengan temanku!"


"Apa temanmu lebih penting dari aku, Papamu. Aku hanya minta waktumu sebentar. Ini juga demi nama baikmu!"


"Emangnya aku kenapa?"


"Jangan pura-pura bertanya. Kamu pasti tau apa kesalahanmu!" teriak papa lagi.

__ADS_1


Adit memandangi papa-nya dengan mata sedikit melotot.


"Apa Papa tidak bisa bicara pelan? Telingaku masih normal."


"Telingamu normal tapi tidak dengan pikiranmu. Kenapa kau tega menghancurkan hidup seorang gadis! Apa ini yang telah aku ajarin denganmu!" teriak Papa lagi.


"Aku tidak mengerti apa yang Papa maksud-kan?"


"Kenapa kau melecehkan Diandra? Apa salahnya? Dimana pikiranmu saat melakukan itu."


"Jadi Papa sekarang juga menuduh aku!" ucap Adit dengan suara sedikit tinggi.


"Aku bukan menuduh, tapi emang itu kenyataan. Aku mengatakan kebenarannya."


"Apa buktinya jika emang aku yang melakukan semua itu?" tanya Adit. Dia berdiri dari duduknya.


"Itu buktinya! Mancis dan liontin dengan nama kamu. Barang bukti ini ada di sekitar lokasi kejadian. Beruntung bukan pihak berwajib yang menemukan. Apa lagi jika Galen yang menemukan. Kamu keterlaluan sekali, kenapa bisa melakukan hal memalukan seperti itu."


"Kenapa emangnya? Bisa saja Galen yang meletakkan barang bukti di TKP agar aku di sangka pelaku. Aku rasa pembicaraan ini tidak ada gunanya. Aku pamit, " ucap Adit. Berdiri dari duduknya.


"Papa belum selesai bicara."


"Apa lagi yang ingin papa bicarakan lagi?" tanya Adit.


"Papa sudah mengantongi banyak bukti jika kamulah yang melecehkan Diandra. Jadi jangan mengelak lagi."

__ADS_1


"Jika Papa emang telah memiliki banyak bukti, kenapa harus bertanya lagi. Emang aku pelakunya. Papa mau apa?"


Tangan Papa langsung terangkat dan menampar pipi Adit cukup keras. Adit menyentuh pipinya yang terasa panas. Dari sudut bibirnya keluar darah segar.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Kenapa kamu melecehkan Diandra?"


"Aku ingin membalas sakit hatiku pada Galen karena telah menyebabkan kematian Tasya!" teriak Adit.


"Apa kamu sudah gila, Adit? Tasya itu meninggal karena kecelakaan, kenapa kamu membalas sakit hatimu pada Galen?"


"Aku mendengar dan melihat sendiri saat Tasya menangis karena Galen menolak cintanya. Pastilah Tasya sengaja menabrak dirinya sendiri karena sedih atas penolakan cintanya."


"Jika Tasya emang sengaja melakukan bunuh diri, itu juga bukan salah Galen. Kenapa berpikir sesempit itu, ketika cinta di tolak, langsung bunuh diri? Apa Galen harus menerima cinta semua wanita yang suka dengannya? Berpikirlah Adit. Dendammu pada Galen salah alamat. Sadarlah!" ucap Papa.


"Aku nggak mau dengar lagi omongan Papa. Sekarang Papa mau apa? Mau melaporkan aku kepihak berwajib? Silakan!"


Adit melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kerja Papanya. Adit pura-pura tidak mendengar ketiks Papa memanggil namanya.


Tampak Papa lemas dan terduduk di sofa. Tidak pernah dia menyangka, anaknya akan melakukan tindakan seperti itu.


Apa yang akan aku katakan pada Mama? Belum hilang kesedihannya karena ditinggal Galen dan harus mendengar kenyataan pahit ini. Lebih baik aku sembunyian semua ini dulu.


Papa kembali ke meja kerjanya. Papa masih ragu untuk mengatakan kebenaran tentang kelakuan Adit yang melecehkan Diandra pada Mama.


Sejak kepergian Galen, Mama sering murung dan sakit. Jika tahu Adit pelaku pelecehan terhadap Diandra pastilah Mama akan bertambah syok.

__ADS_1


...****************...


Bersambung


__ADS_2