
***
Satu jam pun sudah berlalu.Kila masuk ke dalam Ruang istirahat dan membuka Locker nya untuk mengambil sebotol air mineral yang selalu ia bawa.
Gluk....gluk."
habis dalam dua kali tegukan.Kila benar benar haus karena menyimpan rasa Simpati nya yang cukup lama tadi saat membantu menolong Roman.setelah dirasa cukup Kila pun segera keluar.ia kembali masuk ke Ruang TRIASE KUNING.
Ada perasaan lega dalam hatinya meski ia sadar Roman masih belum keluar dari Ambang Gawat.ia dengan sigap terus mencatat Hasil Tanda Tanda Vital Roman yang tergambar di layar Monitor di samping Roman berbaring.
Ia pegang perlahan tangan Roman,ia selalu
mengisyaratkan Roman memilikinya saat ini.ia ingin sekali mencium tangan itu andai saja ia bukan Magang di sini.
"Kila bagaimana hasilnya? lirih Dokter Bagas yang tiba tiba juga masuk.segera Kila lansung menghapus buliran air matanya.
"Tanda Tanda Vital sudah makin bagus Dokter." Kila menunjukkan hasilnya di layar Monitor.
"Oke jika ia mulai sadar maka segera kita lakukan pemeriksaan lanjutan."
Kila mengangguk dan ia pun tetap untuk berusaha tenang.
"Kamu istirahat juga ya Kila." makan sianglah
dulu."
"Iya Dokter."
Dokter Bagas pun keluar dan Kila masih tak rela meninggalkan Ruangan ini.ia terus saja menatap layar Monitor sambil memegang salah satu tangan Roman.
***
__ADS_1
"Dokter Pasiennya sudah mulai sadar." lirih Kila saat menemui Dokter Bagas diruangan nya.
"Benarkah dan itu berita bagus."
Dokter Bagas segera melangkah masuk ke ruangan Roman diikuti juga langkah kaki Kila, tampak seorang Crew juga tengah mengawasi Roman dengan cermat.
"Dok Pasien sudah sadar,juga sudah mulai ingin membuka mata." sahut Crew ini.
Dokter Bagas pun kembali memeriksa kondisi terakhir Roman dengan sangat teliti.ia juga memanggil Nama Roman dengan lembut dan memegang tangan Roman agar sang Pasien tidak kaget dengan dirinya yang berada di Rumah Sakit saat ini.
"Tuan Roman apa sudah bisa mulai untuk
membuka matanya sekarang."? tanya Dokter Bagas lembut.
Roman pun berusaha membuka kedua mata nya perlahan lahan.ia tak ingat di mana ia sekarang ini.perlahan ia hanya bisa membuka mulutnya saja lebih awal dan ia menyebut Nama Kila.sontak semua yang di sampingnya tertegun.
"Kila."? tanya Dokter Bagas pelan sambil terus menatap ke arah Kila yang tetap berusaha Profesional.
Roman akhirnya berhasil membuka kedua matanya.samar samar terlihat tiga orang yang tengah berdiri di hadapan tempatnya berbaring.pandangan itu terhenti,seketika Sosok Kila begitu tegap berdiri di sana,berdiri tak jauh dari seorang Pria yang juga tengah berseragam sama dengan Kila.tapi Roman juga tak mau membuat Kila sulit.ia tak segera menyapa Kila,hanya tersenyum saja yang ia beri.
Dengan sedikit parau Roman pun menjawab nya.
"Sepertinya baik Dok tapi ada yang terasa sangat sakit di bagian bahu ini."
"Kita akan lakukan Pemeriksaan X Ray setelah tuan sudah bisa bangun dengan penuh ya."
"Terima kasih Dok."
"Sekarang ada Suster Kila yang akan sedia menemani,saya pamit dulu ya."
Dokter Bagas pun bersama Crew keluar dari Ruang TRIASE KUNING ini,tinggallah Kila yang mematung tanpa kedip disana.
__ADS_1
"Sayang." sapa Roman lembut.
Kila langsung mendekati Roman,ingin sekali rasanya memeluk Roman.tak terasa air mata nya pun jatuh mulai membasahi pipinya.ia ingin sekali marah pada dirinya sendiri karena masih bersikap seperti tidak apa apa,tapi ini juga bukan kemauannya.ia adalah Seorang Perawat yang harus tetap bersikap Empati dalam bertugas.
Roman tahu Kila begitu sedih,ia pun meraih pipi Kila,mencoba ingin segera mengusap air mata itu,namun terhalang oleh Alat alat Medis yang terpasang di tubuhnya,membuat ia sulit bergerak bebas.
"Sayang jangan menangis Oke,aku kan tidak apa apa sayang."
Kila ingin sekali menjerit rasanya,ia tak kuat
melihat kekasih hatinya ini terbaring penuh Luka di setiap tubuhnya.sesaat hanya diam dan itulah yang bisa ia lakukan untuk tetap meredam rasa khawatirnya pada Roman.
"Sayang aku haus." lirih Roman yang berhasil membuyarkan lamunan Kila.
Segera Kila mengambil sebotol air mineral lalu membukanya dan menaruh satu sedotan ke dalamnya agar Roman lebih mudah meminum nya.
"Ini sayang." lirih Kila sangat pelan.
Roman pun menyeruputnya.ia juga mencoba menatap kedua bola mata Kila yang indah dan yang tengah berusaha menyimpan tangis nya.
"Sudah cukup sayang." bisik Roman.
Kila kembali menutup botol ini dan menaruh nya di meja.ia kembali lagi menatap Roman.
"Apa aku boleh menghubungi Mama."? tanya Kila.
"Sayang aku juga tidak tahu dimana ponsel ku." Roman tampak bingung.
Baiklah,nanti setelah ini sudah selesai aku yang kerumah ya."
Roman pun mengangguk.
__ADS_1
***
Setelah dirasa cukup kuat,Roman pun bersedia melakukan Tindakan Medis lainnya.ia sudah melakukan pemeriksaan X-RAY barusan saja. tinggal saja lagi menunggu hasil bacaannya dari Dokter Orthopedi.