
"Katakan Roman." katakan siapa Wanita itu Roman."?
Alam bawah sadarnya terus saja membuat Kila bermimpi buruk, ia pun terus memanggil Nama Roman.
"Sayang hei ayo bangun."
Kila samar samar mendengar suara Seseorang itu sedang memanggil Namanya.
"Argh aku...aku..."
"Sayang kamu mimpi buruk ya."?
"Sayang aku tidak mau kehilanganmu."
"Sayang kamu bermimpi apa rupanya."?
Kila berpikir sejenak dan rasanya ia pun ragu
untuk menceritakannya.ia memeluk Roman dengan erat.
"Sayang ini sudah pagi aku mau mandi ya."
Kila bergegas ke kamar mandi.Roman hanya diam tak mengerti apa yang Kila mimpikan, tapi yang jelas baginya tadiKila memanggil manggil Namanya barusan.
***
"Sayang kamu sangat cantik."
Roman masih duduk di ranjang dan ia terus memperhatikan Kila yang keluar dari kamar
mandi dengan berpakaian yang Formal.
"Sayang aku suapin dulu ya."
"Oke Suster cantik."
***
Kila sudah berada di depan IGD.
"Pagi Kila."
"Pagi juga Dokter Bagas."
"Panggil saja Bagas,jangan terlalu Formal begitu."
"Disini kita Sejawat kan Dok"?
"Oke oke Kila,mari kita masuk."
Pagi ini seperti biasa dan ini pun sudah masuk minggu ketiga masa Magang.Kila tentu saja tidak akan lama lagi berada disini.bertemu teman baru adalah hal yang membahagiakan juga bagi Kila.ia jadi teringat akan Biyan
__ADS_1
yang nun jauh di sana.
***
"Sayang aku sudah kembali."
"Kamu pasti lelah ayo aku pijiti."
Siang ini jam pulang Kila lebih awal sebab ia harus kembali ke Hotel untuk beberapa hal dan rasanya amatlah berat bila ia harus sesaat meninggalkan Roman sendirian.
"Sayang aku akan pulang secepatnya ya."
"Iya sayang pergilah dan hati hati ya."
***
Sementara Kila kembali ke Hotel untuk urusan
beberapa hal.maka lain dengan Roman,ia pun menyulap kamarnya menjadi tempat untuk menghilangkan rasa suntuknya.dengan sedikit bantuan Barry tentunya yang membawakan
Bak mandi karet untuk berendam. Sungguhlah hal yang mustahil rasanya bagi sebagian orang tapi tidak bagi Roman yang ia sendiri merupakan Pewaris dari sebuah Perusahaan Besar yang sudah banyak memiliki Aset baik di dalam maupun di lain Negara.
"Tuan ini apakan Nona Kila tidak akan merasa keberatan."?
"Dia akan kembali dalam waktu lama."
"Baiklah Tuan."
"Sayang maafkan kekasihmu ini ya." gumam Roman
***
'Zzzzz....zzz..zzz'
Roman tertidur di dalam bak mandi karetnya.
"Itu nona..."
"Biarkan saja ia istirahat sejenak."
Roman pun tidak tahu jika Kila sudah pulang dari Hotel dan ia sendiri pun juga tidak tahu sudah berapa lama ia sudah berendam diri. Kila terus memperhatikannya dari sofa dan sementara Barry hanya bisa terdiam seribu bahasa.
***
"Uhh ini sungguh nyaman rasanya." lirihnya Roman setelah dirasanya jika ini sudah cukup.
"Barry bisakah ambilkan aku handuk."?
Kila yang mengambilkan dan memberikannya pada Roman.
"Barry terima kasih ya."
__ADS_1
Tak ada suara ataupun jawaban dari Barry karena Kila yang menyuruhnya untuk diam saja.
"Baiklah ini sudah selesai." semoga saja Kila tidak tahu."
Roman pun segera keluar dari bak karetnya dan segera mengenakan handuk.ia melangkah ingin kembali keranjangnya,tapi ia sungguh kaget Kila sudah lebih dulu duduk disana.
"Sayang itu kamu kapan datang."?
Roman sungguh malu karena ketahuan oleh Kila jika ia kali ini bertingkah bagai seorang anak kecil.Kila pun mendekat.
"Sayang ayo ganti bajunya."
Roman mengikuti saja ajakan Kila yang sigap
melayaninya mengambilkan pakaian ganti.
Melihat hal itu Barry pun segera membereskan semuanya.dalam hitungan tidak kurang dari sepuluh menit semua sudah beres.
"Tuan ini sudah selesai dan saya pamit."
Barry kabur bagai Kilat.ia pun segera berlalu meninggalkan kamar Roman.tinggal mereka berdua sekarang.
"Sayang itu aku tidak seperti..."
"Sayang rileks itu perlu dan aku juga tidak keberatan dengan itu."
"Terima kasih sayang."
"Sekarang ayo pasang bajunya."
"Kamu yang memakaikannya untukku sayang."?
"Apa keberatan."?
Roman menggeleng.ia sungguh senang malah.
Perlahan Kila pun melayani Roman dan itu tak
butuh waktu lama baginya.
"Uh sentuhan tangannya membuat Jantungku ingin copot rasanya." gumam Roman dalam hatinya.
"Sayang ini sudah selesai."
"Calon Nyonya Roman sungguh luar biasa."
Roman pun tak sadar mengangkat tubuh Kila.
"Hei sayang tanganmu akan benar benar patah tulang nanti."
Roman pun menurunkan Kila dan kali ini ia mengajak Kila ke ranjang dan tidur sore berdua.
__ADS_1