CINTA YANG BERBAHAYA

CINTA YANG BERBAHAYA
Chapter 11


__ADS_3

"Saat itu---


Seorang pria bertato sedang mabuk-mabukan di tepi pantai melampiaskan rasa amarahnya. Ia sedikit frustasi setelah diremehkan berulang kali oleh bosnya. Dia merupakan salah satu penduduk imigran asli Afrika. Pria itu bekerja dalam naungan seorang mafia kejam yang paling ditakuti di kota tersebut. Ia merupakan seorang mata-mata yang sudah dibekali ilmu bela diri. Ia terpilih menjadi seorang mata-mata, tak lain dan tak bukan karena bakat bela dirinya.


Dengan mata sedikit berkunang-kunang, Ia memperjelas penglihatannya untuk memastikan apa yang dilihatnya. Setelah beberapa saat memastikan penglihatannya, Ia melihat tubuh seorang anak kecil mengapung mendekati pesisir pantai. Tanpa berpikir lama, pria itu langsung menceburkan dirinya ke dalam air. Ia berenang ke dalam air untuk menyelamatkan anak kecil itu. Dinginnya air laut mampu mengembalikan kesadaran pria itu


Pria itu lalu membawa tubuh anak kecil itu ke kediamannya. Kediamannya berada di lingkungan kumuh, di sekitar tempat pembuangan sampah dan rumah-rumah kecil kumuh warga imigran lainnya. Pria itu dengan telaten menganti pakaian basah anak kecil itu dengan pakaiannya. Meskipun tubuh anak kecil itu harus tenggelam di dalam balutan pakaian longgar pria itu. Setidaknya pakaian itu dapat menghangatkan tubuh anak itu pikir pria itu.


#


#


Keesokan harinya


Dean kecil terbangun dari tidurnya, setelah pingsan selama berjam-jam. Anak kecil itu menyeritkan dahinya melihat sekelilingnya.


"Mama! Mama! Mama!" teriak Dean kecil berulangkali memanggil nama mama. Ia mencari-cari keberadaan ibunya, namun sang ibu tidak muncul-muncul. Dalam ingatan terakhir Dean kecil, ibunya mencoba berenang ke tengah laut untuk menyelamatkannya. Karena saat itu tubuh kecilnya tiba-tiba diseret ombak besar.


Dengan tergesa-gesa seorang pria bertato berlari kearah Dean. "Apa kamu sudah sadar?" tanya pria itu sedikit bernapas lega melihat Dean kecil sudah sadar.


"Mama!! Hua!!!!" teriak Dean menangis tersedu-sedu. Ia takut melihat tubuh pria itu, karena tubuh pria itu dipenuhi oleh tato yang menyeramkan. Ditambah lagi Dean kecil merasa asing dengan pria itu.


"Tenanglah.... aku tadi menemukanmu sudah pingsan di pesisir pantai. Jadi aku menolong mu, lalu membawamu ke tempat tinggal ku." ucap pria itu melembutkan suaranya.


Dean kecil menghentikan tangisannya mendengar perkataan pria itu. Kebetulan pria itu menggunakan akses bahasa Inggris yang jelas. Sementara Dean kecil adalah anak yang genius. Karena Ia bisa berbicara menggunakan 3 bahasa. Yaitu bahasa Spanyol, Inggris, dan Prancis. Jadi Dean kecil tidak akan kesulitan mengobrol dengan pria bertato itu.

__ADS_1


"Hey boy! siapa namamu?" tanya pria bertato itu tersenyum kecil. Meskipun senyuman itu terlihat kaku, namun Dean kecil tetap menjawab pertanyaan pria itu.


"Wiliam Antonius." ucap Dean kecil meremas kuat tangannya menghilangkan rasa takutnya menatap pria itu.


"Baiklah Wiliam! namaku Dean Albiano. Kau bisa memanggilku Uncle D!" sahut pria itu mengulurkan tangannya menjabat tangan Dean kecil.


"Uncle D...." lirih Dean takut-takut mengulurkan tangannya menjabat tangan Dean Albino.


"Apa kau ingat atau tahu dari negara mana kau berasal?" tanya Uncle D menatap wajah belang Dean kecil. Mungkin karena lama terdampar di tengah laut pikir Uncle D.


Dean menggelengkan kepalanya, karena Ia sama sekali tidak ingat dari mana negara asalnya. Kerena pekerjaan ayahnya membuat mereka harus tinggal berpindah-pindah. Apa lagi usianya masih usia anak-anak.


" Kau sekarang ada di negera Italia. Apa kau tidak masalah kita tinggal di lingkungan kumuh seperti ini?" tanya Uncle D menatap Dean kecil.


"Tidak apa-apa Uncle D." sahut Dean kecil tersenyum tipis.


"Apa kau lapar?" tanya Uncle D melihat hari sudah semakin terang.


"Hem...." sahut Dean kecil menganggukkan kepalanya.


"Tunggu sebentar! aku akan mencarikan beberapa roti panggang untuk sarapan." ujar Uncle D keluar dari dalam rumah.


Dean kecil mengamati keadaan bangunan rumah itu, setelah tidak melihat Uncle D lagi. Rumah kecil itu terlihat sudah usang dan lapuk.


Tak beberapa lama terdengar suara gedoran kuat dari pintu luar. Dean kecil sangat terkejut mendengar gedoran kuat pintu dari luar. Anak kecil itu langsung turun dari atas tempat tidur dan bersembunyi di kolong tempat tidur.

__ADS_1


TOK


TOK


"Dean!! keluar kau!!" teriak seorang pria mengendor- gedong pintu dari luar.


BUG


BUG


"Dean? apa kau mau melarikan diri lagi? Dean! kami datang mau menagih janji mu." sambung pria itu lagi. Kali ini pria itu menendang-nendang pintu lapuk itu.


Dean kecil ketakutan mendengar teriakan pria itu. Ia belum pernah dihadapkan dengan situasi seperti itu.


Di luar


Dua orang pria yang memiliki tubuh kekar dan besar berusaha membuka pintu rumah itu dengan cara mengetuk kuat. Karena tak ada sahutan dari dalam, kedua pria itu pada akhirnya mendobrak kuat pintu kayu itu.


BRAK


BRAK


Wajah Dean kecil semakin pucat mendengar suara dobrakan itu. Air mata sudah mulai menggenang di kedua bola matanya.


"Uncle D...." ucapnya lirih tanpa suara.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2