
Olivia mendudukan bokongnya di atas pasir menatap langit malam. Dingin angin pantai membuat bulu kuduknya berdiri. Pori-pori kecil di atas kulitnya juga mulai muncul ke permukaan.
Dean meletakkan jaketnya di atas pundak Olivia.
"Kenakan itu agar kau tidak kedinginan." ujar Dean ketika melihat Olivia ingin melepaskan jaket yang diletakkan Dean membalut pundak Olivia.
"Jangan bersikap terlalu berlebih kepadaku. Aku takut salah paham akan sikapmu. Aku hanyalah seorang wanita yang memiliki perasaan." gumam Olivia dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar oleh Dean.
Dean terdiam mendengar peringatan Olivia. Ia juga tidak tahu mengapa sikapnya jadi berubah seperti itu.
"Aku hanya melakukan apa yang ku inginkan."seru Dean berdiri dari duduknya.
"Ya, kau benar, kau hanya ingin melakukan apa yang ingin kau lakukan. Karena kau merupakan satu-satunya pria egois yang pernah kutemui."ketus Olivia berdiri dari duduknya.
Olivia melangkah kembali ke kediaman Papa Dean.
Antonio terlihat sudah duduk di luar rumah menunggu kepulangan Olivia dan Dean.
"Kalian habis dari mana, Nak?" tanya Antonio menatap menantunya.
"Kami dari rumah warga, Pa. Tadi ada seorang pria yang meminta pertolongan Olivia membantu proses persalinan istrinya."jelas Olivia.
__ADS_1
"Suamimu dimana?" tanya Antonio menatap kearah kedatangan Olivia tadi.
"Mungkin masih di jalan, Pa. Olivia mau masuk dulu ya, Pa." pamit Olivia. Entah mengapa Olivia sepertinya ingin secepatnya berbaring di atas tempat tidur.
"Papa tahu kau lelah. Istirahat lah duluan. Papa masih ingin mengobrol dengan suamimu."
Olivia menuruti perkataan mertuanya. Ia langsung masuk ke dalam kamar setelah meletakkan sisa jajanannya tadi di dalam kulkas. Olivia lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tak beberapa lama kedua mata sayu itu terpejam.
#
#
Tak beberapa lama setelah Olivia masuk ke dalam kamar, Dean muncul di balik pagar rumah.
"Mengapa Papa belum istirahat?" tanya Dean kepada Antonio.
"Papa ingin mengobrol denganmu." ujar Antonio menatap dalam wajah putranya.
"Apa kau akan tetap pada rencanamu? menghancurkan hidup gadis yang tidak berdosa?" tanya Antonio menatap putranya dengan lembut.
"Kebencian ini tidak akan bisa sembuh secepat kita membalikkan telapak tangan, Pa." gumam Dean dengan suara pelan menatap langit malam.
__ADS_1
"Apa kau tahu bagaimana rasanya ketika rasa penyesalan datang terlambat? andaikan Papa tidak mengajak kalian liburan kesini, mungkin kejadian di masa lalu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan hidup kesepian tanpa orang-orang yang kucintai." ungkap tuan Antonio.
"Apa kau tidak takut merasakan apa yang Papa rasakan dulu maupun sekarang?"
"Dan kau tahu, penyesalan terdalam Papa adalah kehilangan orang yang Papa cintai."
"Papa sangat takut, jika suatu hari nanti kau merasakan apa yang Papa rasakan."
"Tidak usah memikirkan apa pun, Pa. Cukup Papa jaga kesehatan Papa dan selalu bahagia. Dean ingin membahagiakan Papa."ujar Dean menatap tuan Antonio.
"Tapi kebahagiaan Papa melihat kau bahagia bersama Olivia." sahut tuan Antonio dengan lirih.
"Apa ada cara lain yang bisa membuat Papa bahagia?" tanya Dean memelas.
"Ada! lepaskan Olivia! biarkan dia bahagia." ucap tuan Antonio dengan cepat membuat Dean terdiam.
"Jika kau tidak bisa mencintainya, maka lepaskan Olivia. Biarkan dia menemukan kebahagiaannya." sambung Tuan Antonio dengan wajah serius.
"Papa tahu kau juga tidak akan bisa mencintainya, selama dendam itu masih tumbuh subur di hatimu." tambah tuan Antonio menatap lurus ke depan.
...***Bersambung***...
__ADS_1