
"Itu adalah cerita masa laluku." ujar Dean berkaca-kaca. Ia tidak percaya bisa bertemu lagi dengan ayahnya. Meskipun Ibunya sampai sekarang belum ditemukan. Takdir seakan-akan mau mempertemukan mereka.
"Papa...." gumam Dean pelan, namun masih bisa didengar oleh Tuan Antonio.
"William Antonius! putraku...." gumam Tuan Antonio dengan lirih. Ia mendekap tubuh Dean dengan penuh kerinduan. Ia tidak menyangka takdir benar-benar mempertemukan mereka kembali.
"Nak.... setelah 23 tahun.... akhirnya kita dipertemukan kembali...."kata Tuan Antonio dengan lirih.
"Meskipun Mama mu tidak ada bersama kita. Tapi, Papa bersyukur, Tuhan masih memberikan kesempatan untuk ku bertemu denganmu." sambung Tuan Antonio meneteskan air mata. Ia mendekap erat tubuh putranya. Putra yang selama ini Ia tunggu-tunggu.
Kesetiaan Tuan Antonio menanti kepulangan istri dan putranya adalah sebuah bukti. Seberapa besarnya cinta pria itu kepada keluarga kecilnya.
Sementara Olivia ikut terharu dengan pertemuan Dean dan ayahnya. Olivia melangkah kembali menuju kamarnya. Ia tidak mau menganggu kebersamaan Dean dan ayahnya. Bagaimana pun, itu adalah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
Olivia mendudukan bokongnya di atas kasur. "Melihat kebersamaan mereka membuatku merindukan kedua orangtuaku. Mama dan Papa pasti menghawatirkan keadaan ku." gumam Olivia dalam hati.
Olivia tidak tahu mengapa kedua orangtuanya jarang menetap di kediaman mereka. Kedua orang tuanya seringkali bolak-balik ke luar negeri. Olivia tidak tahu negera mana yang mereka kunjungi.
"Ma, Pa...."
"Semoga kalian baik-baik saja. Apa pun yang sedang kalian lakukan diluar sana. Olivia tetap mencintai kalian." ucapnya menatap langit malam.
Dua jam kemudian
Dean masuk ke dalam kamar dengan perasaan tak menentu setelah mengobrol berjam-jam bersama ayahnya. Nasehat ayahnya masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Jangan balas dendam kepadanya, kalau kamu tidak mau menyesal suatu hari nanti. Mulailah semua dari awal dan berikan cinta di hatimu kepada istrimu. Jangan memendamnya sebelum terlambat." ucap Tuan Antonio menepuk lembut bahu putranya.
"Papa tidak mau kau hidup kesepian seperti apa yang Papa rasakan." sambung Tuan Antonio dengan mata berkaca-kaca.
"Dendam dan cinta itu beda tipis, Son. Jangan sampai kalian berdua terluka karena menyembunyikan perasaan masing-masing." nasehat Tuan Antonio membuat Dean terdiam.
"Ya. Kamu benar, Pa. Tapi semua sudah dimulai. Aku tidak akan mundur." gumam Dean dalam hati.
__ADS_1
"Sekarang beristirahat lah. Papa tahu kalian masih pengantin baru. Kalian juga pasti membutuhkan banyak waktu untuk melakukan hal-hal romantis. Jangan lupa berikan Papa sepasang cucu." ujar Tuan Antonio berlalu dari sana.
Hari ini Tuan Antonio merasa hatinya sangat bahagia. Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya bertemu lagi dengan anaknya. Beberapa bulan lalu dokter mendiagnosa hidupnya tidak akan lama. Karena kesehatan jantungnya mengalami penurunan. Ia sedang tidak baik-baik saja sekarang. Namun melihat putra yang selama beberapa tahun ini Ia nanti-nanti telah pulang, membuatnya kembali bersemangat untuk melakukan pengobatan.
"Aku harus menyusun rencana matang sebelum melakukan pengobatan. Agar William mengurungkan niatnya balas dendam kepada menantuku." gumam Tuan Antonio menatap langit-langit kamarnya.
"Aku percaya.... Olivia merupakan wanita baik-baik. Wanita itu pantas bahagia." sambung Tuan Antonio memejamkan matanya.
#
#
Dean terdiam lama menatap Olivia sudah tertidur lelap di atas kasur. Ia menghembuskan nafasnya pelan, lalu melangkah menuju kamar mandi. Ia merasa sedikit tidak nyaman, kalau menggunakan kemeja ketika tidur.
Tak beberapa lama, Dean keluar dari kamar mandi menggunakan kaos oblong dan celana pendek milik ayahnya. Sementara pakaian yang dikenakan Olivia merupakan pakaian lama Mama Dean semasa beliau masih muda.
Dean membaringkan tubuhnya di atas sofa. Ia tidak mungkin tidur di tempat tidur yang sama bersama Olivia. Dean termenung lama menatap ke atas langit-langit kamar itu.
"Kuharap kalian sudah hidup dengan bahagia." gumam Dean memejamkan matanya.
Ternyata tubuhnya hanya mengenakan gaun tipis tanpa ditutupi selimut sama sekali.
Olivia mencari-cari keberadaan Dean di samping tempat tidur, namun Dean tidak ada disana. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kearah sofa. Ia melihat Dean tidur meringkuk di atas sofa.
"Sepertinya Dean kedinginan juga." gumam Olivia turun dari tempat tidur.
Olivia melangkah pelan kearah sofa sembari membawa selimut. Ia kemudian menyelimuti tubuh Dean dengan selimut.
"Ternyata kalau pria itu lagi diam. Ia terlihat lebih cute dan manis." gumam Olivia tersenyum kecil.
Olivia lalu melangkah kembali kearah tempat tidur. Namun tarikan tangan seseorang membuat tubuhnya tidak seimbang. Hingga jatuh ke atas sofa.
"Awh...." pekik Olivia terjatuh di atas tubuh Dean.
__ADS_1
"Sial! bagiamana mungkin pria ini langsung terbangun, hanya karena sentuhan sebuah selimut." gumam Olivia dalam hati.
"Apa yang sedang kau lakukan disini...." tanya Dean dengan suara serak tanpa membuka kedua matanya.
"Aku hanya menyelimuti tubuhmu. Aku tidak tega melihatmu menggigil kedinginan." ujar Olivia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Dean di pergelangan tangannya.
"Apa sekarang kau sudah berubah menjadi wanita baik-baik?" tanya Dean membuka kedua matanya. Hingga tatapan mereka saling bertemu.
"Tatapan matamu tetap sama." gumam Olivia dalam hati
"Mengapa tatapan mata wanita ini harus berubah menjadi memikat begini! aku tidak boleh tertarik padanya!" dengus Dean dalam hati.
Dean langsung memutuskan tatapan mereka. Ia tidak mau tengelam dalam tatapan memikat Olivia.
"Apa kau sangat nyaman berbaring di atas dada bidang ku?" sindir Dean melirik sekilas wajah Olivia.
"Apa kau juga sangat bahagia bisa mengenggam tanganku sebegitu eratnya." telak Olivia membalas sindiran Dean.
Dean gelagapan langsung melepaskan tangan Olivia. "Cih!" Dean berdecih pelan menormalkan ekspresi malu di wajahnya.
"Siapa juga yang bahagia mengenggam tangan kurus kerempeng mu. Aku lebih suka dengan tubuh wanita yang berisi. Biar bisa di cubit gemes. Kalau kurus mah hanya ada tulang." kelakar Dean.
Olivia mengabaikan perkataan Dean. Ia langsung berdiri dan melangkah ke arah tempat tidur. Berdebat dengan Dean membuat kepala Olivia pening.
"Dasar pria aneh. Dia yang menarik tanganku duluan, hingga terjatuh. Malah pakek pura-pura mencari alasan dengan menghina bentuk tubuh orang lain segala! salah.... bentuk tubuh istrinya sendiri." gerutu Olivia pelan, namun masih bisa didengar oleh Dean.
Dean tersenyum kecil mendengar ucapan mengerutu yang terucap dari bibir Olivia. "Mengapa aku malah jadi tersenyum? sepertinya tidak ada yang lucu disini." gumam Dean dalam hati menatap langit-langit kamar.
"Lebih baik aku tidur. Agar besok aku bisa berolahraga di pinggir pantai." sambung Dean menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Dean lalu memejamkan matanya.
Sementara Olivia tidak bisa tidur sama sekali. Ia melirik sekilas kearah sofa tempat Dean berbaring. Ia melihat pria itu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Pria itu bisa tidur nyenyak, sementara gue tidak bisa tidur dengan tenang." ucap Olivia mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
Seketika melintas ide licik di dalam kepalanya. "Jika aku tidak bisa tidur, maka kau juga tidak bisa tidur nyenyak." gumam Olivia turun dari ranjang.
...***Bersambung***...