
"Keluar, Dokter." mengarahkan pandangannya kearah sumber ASI untuk putrinya, ternyata sudah basah.
Olivia langsung meletakkan tubuh bayi mungil itu di atas dada sang ibu. Ia tahu bayi itu mulai merasa haus.
"Putri Anda sangat cantik. Apa kalian sudah menyiapkan nama untuknya?"celetuk Olivia tiba-tiba.
Bayi kecil itu juga memiliki rambut berwarna pirang.
"Hem! kami sudah menyiapkan nama untuknya dari jauh-jauh hari." sahut wanita itu mengecup pelipis putrinya. Ia bahagia melihat wajah putrinya dari jarak dekat seperti itu.
"Terima kasih, dokter. Terima kasih sudah membantu saya melahirkan putri kecil kami ini." ujar wanita itu tersenyum tipis menatap Olivia.
"Semoga kalian juga secepatnya dikaruniai seorang putri yang cantik." timpal wanita itu menatap wajah Dean.
Dean tentu saja terkejut mendengar perkataan wanita itu. Entah mengapa Dean merasa perkataan wanita itu adalah sebuah doa.
Lain halnya dengan Dean, Olivia malah terpaku menatap perut ratanya, ketika mendengar perkataan wanita itu.
Olivia mengalihkan pandangannya menatap raut wajah terkejut Dean. "Aku tahu, kau tidak akan mau keturunan mu lahir dari wanita bekas seperti ku." gumam Olivia dalam hati.
Olivia menjahit sedikit luka yang terbuka di bawah sana, setelah membersihkannya menggunakan alkohol. Setelah itu, Ia cepat-cepat membersihkan peralatan yang tadi Ia gunakan.
__ADS_1
Olivia juga menjelaskan makan apa saja yang tidak bisa di konsumsi dan yang bagus dikonsumsi ibu menyusui kepada wanita itu.
Olivia dan Dean kemudian keluar dari rumah wanita itu, setelah berpamitan.
"Mengapa wajahmu terlihat datar seperti itu? apa kau baik-baik saja?" tanya Dean. Entah mengapa akhir-akhir ini, pria itu terlihat semakin banyak bicara.
"Bukan urusanmu!" ketus Olivia mempercepat langkahnya.
"Apa kakimu tidak sakit lagi? bukankah tadi kakimu keseleo?" ujar Dean mengubah topik pembicaraan mereka.
Olivia tetap menghiraukan pertanyaan Dean. Entah mengapa akhir-akhir ini Olivia merasa moodnya sering berubah-ubah.
"Apa kau tidak mau berjalan-jalan sebentar di pesisir pantai? lokasinya tidak terlalu jauh dari sini."
Olivia terdiam sebentar memikirkan perkataan Dean. Ia memperhatikan pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Tidak akan ada yang mau melirik ke arahmu. Dan memperhatikan pakaian apa yang kau kenakan."sambung Dean mengikuti arah pandang Olivia.
"Tapi--"
"Wajahmu tetap sama meskipun berpakaian mahal sekalipun." sela Dean tidak mau mendengar komentar Olivia.
__ADS_1
Dean membawa Olivia menjelajahi street food di sepanjang pinggir pantai.
"Apa kau mau cumi bakar? udang bakar? atau ikan bakar?" tanya Dean menatap Olivia.
"Aku mau semuanya. Apa kau membawa banyak uang?" tanya Olivia menatap semua jajanan yang berjejer di pinggir pantai.
"Ambilah sepuasnya. Aku yang akan membayar semuanya." ujar Dean tanpa ekspresi.
Olivia langsung melangkah mengitari jajanan yang dijual di pinggir pantai. Bukan hanya jajanan yang di jual disana, pernak-pernik dan aksesoris bagus juga dijual disana. Olivia mengambil beberapa macam aksesoris bagus. Ia menatap lama sebuah kalung unik yang dijual disana. Namun, Olivia mengurungkan niatnya mengambil kalung itu.
Olivia mengambil beberapa jajanan yang diinginkannya. Sementara Dean membayar semua jajanan yang dibeli Olivia.
"Apa kau sanggup menghabiskan semua jajanan itu?" tanya Dean menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja jajanan ini akan habis. Apa kau berencana memintaku menambah jajanan lagi? maka aku akan menambahnya." ujar Olivia menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak perlu, apa kau tidak takut gendut?" kelakar Dean mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Mau kurus atau gemuk bukan masalah bagiku. Lagian aku sudah menjadi istrimu, harusnya kau senang orang-orang diluar sana tidak lagi melirikku. Atau memuji-muji tubuh ramping ku." ujar Olivia berlalu melewati Dean.
...***Bersambung***...
__ADS_1