
Sementara Uncle D dan juga Dean kecil bersembunyi di atas plafon triplek rumah. Mereka masuk ke atas plafon melalui dapur. Uncle D menenangkan perasaan Dean kecil agar tidak ketakutan.
"Sepertinya pria itu sudah tahu tujuanku masuk ke dalam kelompok mereka." ucap Uncle D dalam hati.
"Apa kau mau menurut dan mendengarkan perkataan ku?" tanya Uncle D berbisik pelan memegang bahu Dean kecil.
"Aku akan menghadapi mereka. Jangan keluar sebelum aku memanggilmu. Jangan bersuara ataupun menangis. Kau harus tumbuh menjadi pria yang kuat suatu hari nanti." ucap Uncle D.
"Bawa ini bersamamu, dan berikan barang ini kepada orang yang bisa kau percaya. Jangan sampai ada yg mengetahuinya." sambung Uncle D. Ia memberikan map coklat, entah apa isinya.
"Ingat, kau harus tumbuh menjadi pria kuat. Uncle senang bisa mengenalmu." ujar Uncle D mengelus kepala Dean kecil dengan lembut.
Pria itu lalu merangkak dengan pelan keluar dari plafon. Sebelum pria itu menembaki plafon triplek langit-langit rumahnya. Uncle D takut, tembakan itu akan melukai Dean kecil.
Pertanyaan Uncle D menghentikan gerakan anak buah pria tua itu. Saat kedua anak buahnya berniat menekan pelatuk pistol, menembaki plafon triplek langit-langit rumahnya.
"Apa kau mencari ku?" tanya Uncle D bertingkat waspada. Ia mengamati anak buah pria tua itu satu persatu. Ia tidak mau gegabah menyerang mereka duluan.
"Hahahaha....."
__ADS_1
Pria itu tersenyum puas melihat Uncle D akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.
"Akhirnya kau keluar juga. Aku pikir, kau sudah tidak berani lagi menampakkan diri, setelah mengkhianati ku." ejek pria tua itu.
"Cih!" Uncle D berdecih mendengar ejekan pria tua itu.
"Apa kau tidak berkaca pada dirimu sendiri? kau melawanku menggunakan tangan anak buahmu. Itu membuatmu terlihat sangat lemah di mataku." telak Uncle D mengejek pria tua itu.
"Apa tujuanmu kemari!" sambung Uncle D tersenyum menyeringai.
"Cih! apa kau sedang bersandiwara pura-pura lupa! kembalikan dokumen yang kau curi!!" bentak pria tua itu menatap tajam Uncle D.
Rahang pria tua itu semakin mengeras mendengar mendengar ucapan Uncle D.
"Tembak pria itu! jangan biarkan dia kabur!" perintah pria itu meninggikan suaranya.
Dor
Dor
__ADS_1
Dor
Uncle D bergerak lincah menghindari tembakan dari anak buah pria tua itu. Itu semua karena uncle D memiliki bakat, ilmu beladiri.
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan lagi-lagi terdengar di dalam telinga Dean kecil. Tubuh anak kecil itu gemetaran mendengar suara tembakan keras itu. Tanpa sadar celana yang dikenakan anak itu tiba-tiba sudah basah. Ternyata anak itu mengompol sangking takutnya mendengar letupan pistol.
"Tuhan.... tolong selamatkan Uncle D."ucap Dean kecil dalam hati.
Di bawah plafon
Perkelahian antara Uncle D dan anak buah pria tua itu semakin sengit. Uncle D sangat ahli dalam melumpuhkan lawannya. Namun, karena terlalu fokus dengan lawan di dalam rumah. Uncle D belum menyadari, kalau dari luar rumah juga sudah ada lawan yang mengawasi gerak-geriknya. Ia tidak tahu kalau dua buah peluru meleset masuk ke dalam rumah. Hingga....
...***Bersambung***...
__ADS_1