CINTA YANG BERBAHAYA

CINTA YANG BERBAHAYA
Chapter 14


__ADS_3

Uncle D menghembuskan napasnya setelah menutup pintu rumah, lalu melangkah kearah tempat tidur.


"Wiliam, mereka sudah pergi. Kau sudah bisa keluar dari kolong tempat tidur." ucap Uncle D menunggu Dean kecil keluar dari kolong tempat tidur.


Tak beberapa lama, Dean kecil akhirnya keluar dari kolong tempat tidur. Wajah ketakutannya terlihat jelas di penglihatan Uncle D.


"Apa kau benar-benar takut dengan kedua pria itu?" tanya Uncle D tersenyum kecil.


"Suatu hari, saat aku dewasa nanti, aku tidak akan takut lagi dengan mereka." ucap Dean kecil percaya diri. Berusaha menyembunyikan ketakutannya. Ia sedikit malu mendengar pertanyaan Uncle D. Pada kenyataannya, tubuh kecilnya tidak akan mampu melawan kedua pria itu. Apa lagi tubuh mereka besar-besaran dan berotot. Bisa-bisa tubuh Dean kecil remuk dibanting.


"Ya, aku sangat senang mendengar rasa percaya dirimu. Suatu hari nanti, kau pasti bisa menjadi pria hebat." ucap Uncle D tersenyum hangat.


"Tidurlah. Hari juga masih gelap." sambung Uncle D naik ke atas tempat tidur.


Dean kecil menuruti perkataan Uncle D. Anak kecil itu langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Meskipun matanya tidak bisa terpejam, karena rasa kantuknya sudah menghilang sedari tadi.


#


#


Dua Minggu kemudian


Sehari-hari Dean kecil menemani Uncle D berjualan, tanpa tahu apa sebenarnya pekerjaan Uncle D. Dean kecil terlihat sangat bahagia menikmati hari-harinya. Karena Uncle D memperlakukannya layaknya seorang anak. Uncle D juga memberikan kasih sayang untuknya layaknya seorang Ibu. Hingga malam tragedi itu terjadi, membuat kebahagiaan itu sirna. Ingatan akan malam itu masih sangat membekas di Ingatannya.


Malam Hari


Uncle D dan Dena kecil tertidur pulas setelah seharian berjualan. Mereka tidak terusik sama sekali dengan suara-suara kasak-kusuk diluar rumah.

__ADS_1


Sementara diluar rumah


Beberapa orang pria tidak dikenal mengepung sekeliling rumah kumuh itu. Di genggaman tangan mereka, terdapat sebuah pistol berisi beberapa biji anak peluru.


Seorang dari mereka berdiri di depan rumah, sembari memberikan arahan kepada pria yang lain. Karena Pria itu merupakan pemimpin dari mereka. Pria itu lalu memberikan kode melalui matanya kearah anak buahnya. Anak buahnya langsung paham dengan maksud kode dari pemimpin mereka.


Dua orang anak buahnya mendobrak kuat pintu rumah itu, hingga pintu itu terlepas.


DUG


DUG


DUG


BRAK


"Sial! bajing itu sudah kabur!" marah pria itu. Ia kemudian melangkah keluar dari rumah itu. Namun....


Krek


Suara retakan sesuatu menghentikan langkah pria itu. Senyum licik langsung terbit di wajah keriputnya.


"Cih! ternyata kau masih disini. Aku akan membunuhmu!" gumam pria itu membalikkan tubuhnya. Ia kembali masuk ke dalam rumah memastikan pendengarannya tadi.


"Keluarlah! aku tahu kau sedang bersembunyi." ucap pria tua itu.


"Kau tidak akan bisa lari kemana-mana, karena rumah jelek ini sudah di kepung." sambungan pria itu. Senyum menyeringai tidak lepas dari bibir hitamnya. Mungkin, bibir itu hitam karena terlalu sering merokok dan minum alkohol.

__ADS_1


Tak


Tak


Tak


"Apa kau tidak mau keluar juga?" tanya pria itu melangkah pelan-pelan mengitari area dalam rumah.


Tak


Pria itu lalu menghentikan langkahnya dan berkata."Bagaimana kondisi di luar rumah?" tanya pria tua itu.


"Beberapa orang kita sudah mengepung rumah ini, Bos. Jadi, pria itu tidak akan bisa keluar dari rumah ini."


"Apa kau membawa pesananku?" tanya pria paruh baya itu menatap anak buahnya.


"Ada di luar bos" jawab anak buahnya.


"Panggilkan dua orang yang berjaga di depan. Suruh mereka masuk ke dalam." perintah pria tua itu.


Tak beberapa lama, orang pria masuk ke dalam rumah sembari membawa pistol.


"Habiskan peluru pistol kalian. Tembakan ke atas plafon triplek itu." perintah pria tua itu sembari menunjuk langit-langit rumah itu.


"Aku yakin pria itu bersembunyi di dalam!" sambung pria itu tersenyum menyeringai.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2