
Olivia duduk di dekat jendela. Tanpa sadar setetes air mata menetes dari pelupuk matanya.
"Ternyata mencintaimu sesakit ini. Kau membuatku merasa nyaman di dekatmu. Tapi kau juga yang telah menghancurkan hatiku hingga berkeping-keping." gumam Olivia dalam hati.
Tak beberapa lama terdengar suara pemberitaan dari pramugari. Olivia langsung memasang sabuk pengaman. Tanpa sengaja pandangannya terhenti saat melihat cincin emas putih yang diberikan Dean saat pemberkatan pernikahan mereka masih melingkar di jari manisnya.
"Untuk apa cincin ini disini. Lagian sebentar lagi kamu juga akan segera bercerai. Mungkin setelah ini, dia bisa bahagia dengan wanita yang bisa membuatnya bahagia." gumam Olivia dengan suara pelan. Namun, ada terselip sedikit perasaan tidak rela di hati wanita itu.
"Sayang....Aku akan menjadi Mama sekaligus Papa untuk mu." ujar Olivia mengelus perutnya dengan lembut.
"Beberapa jam lagi kita akan bertemu dengan kakek dan nenek. Mama harap kamu senang mendengar kabar bahagia ini." sambung Olivia berusaha tegar demi sang buah hati.
20 jam kemudian
Setelah transit di beberapa negara, akhirnya Olivia tiba di Indonesia, tepatnya Jakarta. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan kedua orangtuanya. Ia mulai merasakan kehangatan ibu kota jakarta.
"Sayang... sebentar lagi kita akan sampai di kediaman kakek dan nenek." gumam Olivia mengelus perut ratanya. Olivia berusaha menyembunyikan perasaan aneh di hatinya. Entah kenapa tiba-tiba terselip sedikit perasaan rindu di hati wanita itu untuk sang suami. Suami yang sebentar lagi mungkin akan menjadi mantan suaminya.
Sejam kemudian Olivia tiba di sebuah kediaman minimalis. Ia melihat sepasang suami-istri paruh baya sedang duduk di gajebo dekat kolam renang.
__ADS_1
Entah mengapa terselip perasaan takut di hati Olivia ketika melihat orang tuanya dari kejauhan.
"Kita sudah tiba di alamat tujuan." kata supir taksi membuyarkan Olivia dari pikirannya.
"Ah... maafkan saya pak. Saya terlalu lama melamun."sahut Olivia menghembuskan nafasnya.
Olivia memberikan dua lembar uang seratus ribu ke supir taksi itu.
"Kembaliannya untuk bapak saja." ujar Olivia turun dari taksi.
Sementara sepasang suami istri sedang bersantai di gajebo rumahnya. Sudah beberapa bulan berlalu, mereka tak kunjung menemukan keberadaan putri mereka. Trauma di masa lalu tiba-tiba mengguncang mental mereka. Cukup sekali mereka kehilangan seseorang yang amat mereka cintai. Tidak untuk kedua kalinya. Ia menghabiskan modal usahanya untuk menyewa beberapa detektif swasta mencari keberadaan putrinya.
"Ma.... Pa..." panggil Olivia sudah berdiri di belakang mereka.
Dengan mata berkaca-kaca mereka membalikkan tubuh mereka. Tiba-tiba air mata membajiri pipi mereka setelah melihat siapa yang memanggil mereka tadi.
"Olivia...." panggil mereka dengan cepat berdiri dan mendekap tubuh putri mereka.
"Sayang...."
__ADS_1
Hiks
Hiks
Hiks
"Kamu kemana saja? apa kamu tahu.... Mama dan Papa sangat menghawatirkan keadaan kamu." ujar wanita setengah baya itu menangis sesenggukan.
Sementara sang suami mengecup pelipis putrinya berulang kali. Cukup sekali mereka kehilangan putri pertama mereka. Mereka tidak mau lagi kehilangan putri kedua mereka.
"Ma.... maafkan Olivia."
Kedua orangtuanya merasa bingung ketika mendengar permintaan maaf dari putri mereka.
"Mengapa kamu harus minta maaf? harusnya kamu yang minta maaf.... karena terlalu sibuk mencari keberadaan kakak perempuan mu hingga melupakan keberadaan kamu."kata Mama Olivia mengelus rambut panjang putrinya.
"Ma.... Olivia sudah menikah dan sekarang Olivia sedang hamil--"
...***Bersambung***...
__ADS_1