
"Aku tidur di ruangan tamu saja. Aku tidak mau merepotkan ayahmu. Mungkin ayahmu juga sudah istirahat." ujar Olivia mengalah. Ia benar-benar merasa bersalah kepada kepada Dean.
"Sekali lagi, maafkan aku." ujar Olivia sebelum keluar dari kamar.
Olivia melangkah menuju ruang tamu sembari membawa selimut yang digunakan Dean. Ia menghembuskan napasnya mengapa sebentar kearah sofa yang ada di ruang tamu.
"Tidak masalah tidur di ruang tamu. Tidak mungkin ada hantu di tempat seperti ini." gumam Olivia membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Jam 1 dini hari, Dean belum juga bisa memejamkan matanya. Pria itu sedari tadi berguling ke kanan dan ke kiri mencari posisi tidur ternyaman. Namun kedua mata itu masih tidak mau terpejam.
"Aih...."
"Mengapa mata ini tidak bisa terpejam!" dengus Dean cukup kesal mengacak-acak rambutnya.
Dean lalu beranjak dari tempat tidur, kemudian keluar dari kamar. Ia ingin mencari udara segar di halaman rumah.
Langkah Dean terhenti ketika melihat Olivia tidur dengan perasaan gelisah. Olivia terlihat seperti orang yang sedang bermimpi buruk.
"Ma, Pa. Oliv rindu...."gumam Olivia dengan lirih.
__ADS_1
"Hiks, hiks, hiks.... Olivia pengen pulang...." sambungnya meneteskan air mata. Keringat sebiji kacang tanah juga membanjiri dahinya.
Dean terdiam lama menatap kearah sofa. Tanpa ada niat sedikitpun menenangkan Olivia dari mimpi buruknya. Karena pikiran dan hati pria keras kepala itu benar-benar batu. Hatinya ingin menghampirinya, namun pikirannya menghentikan hati nuraninya.
Dean pada akhirnya menghembuskan nafasnya sebelum melangkah mendekati Olivia. Pria itu lalu menganggkat tubuh Olivia dan membawanya ke kamar. Meskipun hati dan isi pikirannya bertentangan. Ia tetap mengikuti kata hatinya.
Dean tidak menyadari tuan Antonio tersenyum tipis berdiri di depan pintu kamarnya. Ia senang melihat bagaimana tingkah putranya.
"Kau hanya belum menyadari perasaan mu, Nak." gumam tuan Antonio tersenyum tipis. Ia melanjutkan langkahnya menuju dapur mengambil air putih. Ia tiba-tiba merasa sangat haus setelah tidur selama 2 jam. Ia memang suka terbangun tiba-tiba di tengah malam. Kadang haus atau karena terlalu merindukan istrinya.
Di Kamar
"Aku bersyukur terdampar disini dan bertemu langsung dengan Papa kandungku.... namun aku merasa rencanaku akan gagal." gumamnya dengan lirih.
"Mengapa rencana sematang ini tidak berjalan sesuai harapanku!" dengusnya sedikit kesal.
Dean membaringkan tubuhnya di kursi panjang yang ada balkon. Ia tidur tanpa selimut ataupun bantal. Hanya busa kursi empuk itu yang membantu menghangatkan tubuhnya.
#
__ADS_1
#
Keesokan harinya
Olivia mengerjapkan matanya berulangkali memastikan penglihatannya. Ia menyeritkan dahinya menatap langit-langit kamar itu.
"Mengapa aku bisa ada di kamar lagi? bukankah kemaren aku tidur di ruangan tamu?" gumam Olivia dengan pelan.
Olivia mengalihkan pandangannya kearah balkon, ketika kulit putihnya merasakan sensasi dingin angin sejuk dari arah balkon. Ia melihat balkon ternyata sudah terbuka.
"Apa Dean yang memindahkan ku ke kamar?" gumam Olivia tersenyum kecil.
"Kalau memang benar.... namun mengapa sifat pria itu sangat berbeda?"
"Sebenarnya apa alasan Dean membenciku?"
Ia benar-benar tidak tahu apa alasan Dean membencinya. Padahal selama ini Olivia tidak melakukan kejahatan kepada orang lain.
"Sepertinya aku harus mencari tahunya sendiri." timpal Olivia.
__ADS_1
...***Bersambung***...