
5 menit kemudian Dean kembali membawa dua batok kelapa berisi air laut. Dean berjongkok membersihkan luka di telapak kaki istrinya.
"Ternyata lukanya cukup dalam." batinnya. Pria itu dengan hati-hati membersihkan luka menganga di telapak kaki istrinya.
"Ah...." rintih Olivia menahan rasa perih dan sakit di telapak kakinya saat Dean menyiram lukanya dengan air garam.
"Air garam bagus untuk mempercepat penyembuhan lukamu agar tidak infeksi dan bernanah." ujar Dean dingin.
Olivia cukup tersentuh mendengar perhatian suaminya. Tanpa sadar senyuman tipis terbit di sudut bibir merah sepasang suami-istri itu.
Air garam memang sangat bagus untuk mempercepat penyembuhan luka agar tidak infeksi dan bernanah. Apa lagi mereka sedang terdampar di tempat asing. Mereka tidak akan bisa menemukan obat luka seperti alkohol, betadine, kapas maupun plester luka.
Dean mengoyak sedikit kemeja putih yang Ia kenakan setelah membersihkan luka di kaki istrinya. Pria itu membaluri daun herbal hijau yang sudah dihaluskan di telapak kaki istrinya. Ia kemudian membalut telapak kaki istrinya dengan kemeja yang sudah Ia robek.
Oliva tersenyum kecil melihat kepedulian suaminya"Ternyata pria ini pedulian juga." batinnya.
"Jangan menaruh hati padaku." tandas Dean. Pria itu kemudian berlalu melangkah keluar dari gubuk.
Olivia menatap dalam punggung suaminya yang semakin menjauh dari penglihatannya.
Dean keluar dari gubuk. Pria itu tidak mau terjebak dengan situasi canggung bersama istri yang tidak pernah pria itu cintai. Sementara Olivia menatap sendu kepergian suaminya.
Malam hari
Olivia membaringkan tubuhnya di atas ranjang bambu yang ada di gubuk itu. Meskipun tubuhnya tidak nyaman berbaring di ranjang itu, Wanita itu berusaha memejamkan matanya untuk menutupi rasa dingin angin laut menerpa kulit putihnya. Ditambah rasa ngantuk yang semakin berat membuat kedua kelopak matanya terpejam rapat.
#
#
Sementara di sisi lain, Dean mendudukan bokongnya di atas pasir sembari menatap langit malam bertaburkan bintang bercahaya. Pria itu menghela napas pelan untuk menghilangkan perasaan lain yang sedari tadi menganggu hati dan pikirannya.
Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya mengitari daerah sekitar "Ternyata ini pulau terpencil." batinnya.
Dean kemudian beranjak dari duduknya, kemudian melangkah menuju gubuk.
Setibanya di gubuk, Dean menatap istrinya tidur meringkuk di atas ranjang bambu. Ia kemudian melepaskan jas yang sedari tadi melekat di tubuhnya. Pria itu lalu menyelimuti tubuh langsing istrinya. Saat Dean ingin mengangkat tangannya, tiba-tiba Olivia mencengkram erat pergelangan tangannya. Sehingga membuat tubuhnya terjatuh di atas tubuh istrinya.
__ADS_1
Deg
Dean terdiam lama menatap wajah putih bersih istrinya "Ternyata dia cantik juga." monolognya dalam hati.
"Come on Dean bangunlah dari pikiranmu" ucapnya tidak setuju dengan isi hatinya.
Dean berusaha melepaskan cengkraman tangan istrinya di pergelangan tangannya. Namun kedua tangan Olivia malahan berpindah melingkarkan di leher suaminya.
"Sial!" umpat Dean dalam hati
Sejam kemudian rasa ngantuk Dean semakin menjadi, ditambah rasa lelah berenang beberapa jam yang lalu. Tanpa sadar pria itu ikut tertidur di samping istrinya.
Olivia mengeser tubuhnya dan masuk ke dalam dekapan Dean. Rasa dingin di tubuhnya semakin terasah hangat saat bersentuhan dengan tubuh Dean. Sementara tangan Dean semakin menarik tubuh istrinya agar semakin merapat dengan tubuhnya.
Sepasang suami istri itu tidur saling berpelukan ditemani rembulan malam yang bersinar terang di atas langit malam.
#
#
Pagi hari pukul 5
"Dia terlihat lebih tampan dan imut saat kedua matanya masih terpejam." batinnya. Ia tersenyum tipis menatap wajah Dean.
Olivia mengalihkan pandangannya keluar jendela kayu di sampingnya. Ia mendengar suara seretan langkah kaki seseorang.
"Dean...." bisik Olivia pelan berusaha melepaskan diri dari dekapan Dean. Bukannya terbangun, Dean malahan semakin mempererat pelukannya di pinggang Olivia.
"Dean.... Sepertinya ada yang melangkah kesini." ujar Olivia lagi. Tiba-tiba kedua mata Dean terbuka lebar. Pandangan mereka bertemu selama beberapa detik, hingga Dean tersadar kembali. Dean langsung melepas lingkaran tangannya di pinggang Olivia.
Dean lalu berdiri dari ranjang lalu keluar dari kamar tanpa sepatah katapun.
Sementara Olivia menyentuh dadanya, karena sedari tadi tadi jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari dekat jantung orang normal pada umumnya. Olivia lalu menghembuskan napasnya menormalkan degup jantungnya.
"Untuk pertama kalinya seorang pria bisa menyentuh hatiku...." gumam Olivia menautkan kedua tangannya. Ia lalu mengalihkan pandangannya keluar menunggu suaminya kembali.
Diluar
__ADS_1
Dean menatap dari kejauhan seorang pria paruh baya terlihat sedang menjala ikan dengan jaring. Meskipun langit terlihat masih agak gelap.
Dean lalu melangkah mendekati pria paruh baya itu. Mana tahu pria itu bisa membantu mereka keluar dari pulau ini pikirnya.
"Hallo Tuan? apa anda penduduk asli pulau ini?" tanya Dean menggunakan bahasa spanyol.
"Ya, Anda benar. Apa yang sedang Anda lakukan disini?" tanya pria paruh baya itu menatap Dean penuh dengan kecurigaan.
"Saya dan istri saya kemaren malam terdampar disini. Karena kami terjatuh dari kapal." Ujar Dean
Pria itu mengangguk-angguk kepalanya membenarkan perkataan Dean. Kemaren memang ada badai besar, makanya Ia tidak menginap seperti biasanya saat sedang bekerja.
"Apa anda tahu ini pulau apa?" tanya Dean menatap pria di depannya.
"Pulau ini merupakan salah satu pulau terpencil yang letaknya cukup jauh dari kota Valencia." ujar pria itu menjawab pertanyaan Dean. Pria itu kemudian mengangkat jalanya ke tengah air.
"Apa anda seorang nelayan....?" tanya Dean menghentikan langkah pria itu.
"Iya. Saya seorang nelayan. Penduduk di sini senang memancing atau menjala ikan di pesisir pantai. Namun tidak dengan daerah Es Cubells. Daerah itu merupakan daerah wisatawan. Banyak turis asing yang menghabiskan weekend dan holiday mereka di sana." jelas pria itu sembari mengangkat jaring jalanya ke tengah air.
"Biarkan saya membantu anda." ujar Dean sembari mengangkat sebagian jaring jala pria itu. Mereka melempar jaring jala itu ke tengah air.
"Apa anda bisa membantu kami? kami tidak memiliki tempat berteduh kecuali gubuk itu." tunjuk Dean ke arah gubuk yang tadi malam mereka tempati.
"Kami juga tidak memiliki makanan untuk di makan kecuali ikan yang di ambil dari laut." sambung Dean lagi.
"Kalian bisa ikut saya. Kebetulan saya hidup seorang diri di sebuah desa yang tidak terlalu jauh dari hutan ini." tandas pria itu
"Terima kasih Tuan atas tawaran anda." ujar Dean menatap intens wajah keriput tuan Antonio.
#
#
"Sebenarnya pulau ini tidak terlalu jauh dari tempat-tempat yang sering dikunjungi wisatawan. Kita hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk tiba disana." ujar pria paruh baya itu.
"Siapa namamu?" tanya Antonio menatap intens wajah Dean. Tuan Antonio merasa wajah Dean sangat familiar dengan wajah seseorang yang dicarinya dari beberapa tahun yang lalu hingga sekarang.
__ADS_1
"Saya Dean Albino. Dan Anda...."
...***Bersambung***...