
Dean termenung lama di luar rumah setelah Antonio kembali masuk ke dalam rumah. Ia menatap lurus ke lautan jauh lepas dibawah sana.
"Mencintainya.... aku tidak mungkin bisa mencintainya. Melepaskannya.... mungkin melepaskannya merupakan pilihan satu-satunya untuk melupakan semuanya. Aku juga tidak mungkin kembali ke klan king meninggalkan Papa disini sendirian." gumam Dean menghembuskan napasnya.
Dean lalu masuk ke dalam rumah, setelah merasa pikirannya tenang.
#
#
Keesokan harinya, Olivia terbangun pagi-pagi sekali. Ia melihat ranjang di sampingnya masih rapi dan bersih.
"Apa Dean tidak tidur di dalam kamar?" gumam Olivia melangkah keluar kamar.
Setibanya di ruangan tamu, Olivia melihat Dean tertidur lelap disana. Lagi-lagi Oliva menghembuskan napasnya melihat tingkah Dean.
"Apa tidur disamping ku sangat menjijikan? hingga kau rela tidur di luar dengan tubuh menggigil seperti itu." lirih Olivia.
Olivia melanjutkan langkah menuju dapur, dan kali ini memilih mengabaikan Dean.
Sembari sedikit melamun Oliva menyiapkan sandwich untuk sarapan pagi mereka. Ia tidak tahu seberapa lama hatinya bertahan memiliki suami seperti Dean. Terkadang pria itu perhatian dan terkadang pria itu juga bisa menyakiti perasaannya di waktu yang bersamaan.
__ADS_1
"Seminggu lagi.... seminggu lagi aku akan mengantarmu kembali ke Kolombia." ujar Dean tiba-tiba sudah berdiri di dekat meja.
Tanpa sengaja pisau yang ada di tangan Olivia mengiris sedikit jarinya mendengar perkataan Dean.
"Aw..."
Olivia langsung memasukkan tangannya ke dalam mulutnya. Ia terdiam lama memastikan perkataan Dean barusan.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Dean tiba-tiba melangkah mendekati Olivia dan menarik tangan Olivia dengan cepat.
"Mengapa kau sangat ceroboh." marah Dean mengambil P3-K di atas kulkas. Dean dengan cepat membalut luka kecil itu.
Dean langsung melepaskan tangannya dari tangan Olivia. "Lain kali hati-hati! jangan membuat orang khawatir!" ketus Dean tiba-tiba melangkah cepat meninggalkan Olivia.
"Tinggal satu Minggu. Kesempatan itu hanya satu Minggu." gumam Olivia tersenyum miris.
30 menit kemudian, Antonio sudah duduk di meja makan menatap menu sarapan yang di siapkan menantunya.
"Panggilkan suamimu sarapan, Nak..." pinta Antonio meminta tolong kepada menantunya. Olivia langsung melangkah mencari keberadaan Dean.
"Dean--"
__ADS_1
Panggilan Olivia tiba-tiba terhenti ketika mendengar apa yang sedang dibicarakan Dean dengan seseorang di seberang sana. Tanpa sadar setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya.
Namun Olivia cepat-cepat menghapus air matanya saat melihat Dean membalikkan tubuhnya.
"Papa memanggil mu sarapan." ujar Olivia membalikkan tubuhnya berlalu dari sana. Namun entah mengapa selera makannya tiba-tiba hilang seketika.
"Pagi, Pa." sapa Dean duduk di sebelah Tuan Antonio.
Alih-alih menyahuti sapaan putranya, tuan Antonio malah bertanya kepada putranya. "Apa kau lupa mengucapkan selamat pagi pada istrimu?" tanya tuan Antonio menatap dalam wajah memelas putranya.
"Jika kau masih tetap seperti sebelumnya, maka pikirkan ucapan Papa yang tadi malam."ujar tuan Antonio menatap kearah sandwich yang dibuatkan menantunya.
"Ayo makan, Nak." Tuan Antonio mengalihkan pandangannya menatap menantunya.
Dengan terpaksa Olivia memasukkan sandwich itu ke dalam mulutnya. Namun entah mengapa perutnya tiba-tiba terasa mual mencium aroma mayonaise yang ada di dalam sandwich itu.
"Mengapa wajahmu terlihat pucat? apa kamu sakit?" tanya Tuan Antonio memperhatikan wajah Olivia.
"Ti-tidak Papa. Aku baik-baik saja."sahut Olivia tersenyum manis berusaha memudarkan raut wajah pucat di wajahnya.
...***Bersambung***...
__ADS_1