CINTA YANG BERBAHAYA

CINTA YANG BERBAHAYA
Chapter 24


__ADS_3

Olivia beranjak dari atas tempat tidur, lalu melangkah menuju balkon. Ia melihat Dean tidur dengan posisi meringkuk kedinginan di atas kursi panjang. Olivia masuk kembali ke dalam kamar dan mengambil selimut untuk Dean. Wanita itu menyelimuti Dean dengan selimut yang dibawanya. Langit juga masih agak sedikit gelap, karena matahari belum menunjukkan wujudnya.


"Kau terlihat lebih kalem saat sedang tidur seperti ini." gumam Olivia dengan pelan. Ia lalu melangkah keluar dari kamar.


Olivia melangkah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Ia tidak tega melihat ayah mertuanya yang menyiapkan sarapan untuk mereka.


Olivia dengan telaten memotong-motong beberapa sayur mayur untuk membuat salad. Ia tidak mau kejadian kemaren terulang kembali.


"Nak.... apa yang sedang kamu lakukan pagi-pagi begini?"


Tuan Antonio sudah berdiri di dekat meja makan dengan membawa gelas kosong.


"Tidak apa-apa ayah. Olivia sudah terbiasa membuat sarapan sendiri. Karena orang tua Olivia dulunya jarang di rumah."tutur Olivia tersenyum kecil.


"Apa orangtuamu tahu kamu sudah menikah dengan putra Papa?" tanya Antonio penasaran.


Olivia menghela napas panjang mendengar pertanyaan ayah mertuanya. "Tidak. Karena kedua orang tua Olivia sedang sibuk dengan pekerjaannya." gumam Olivia dengan pelan.

__ADS_1


"Apa kamu memiliki saudara atau saudari?" tanya Tuan Antonio menata wajah sendu menantunya.


"Saya anak tunggal. Bunda tidak bisa mengandung lagi setelah melahirkan saya. Dan mereka selama ini lebih sering menetap diluar negeri." kata Olivia dengan jujur. Memang kedua orangtuanya sibuk pulang pergi keluar negeri. Ketika Olivia bertanya ada urusan apa mereka diluar negeri. Maka jawabnya hanya satu yaitu mengurus perusahaan.


"Percayalah.... kedua orangtuamu mungkin memiliki urusan yang sangat penting, hingga terpaksa meninggalkan mu. Orang tua mana yang tidak menyayangi anaknya. Apa lagi kamu hanya putri satu-satunya yang mereka miliki." tutur Tuan Antonio.


"Ayah.... duduklah terlebih dahulu. Sebentar lagi salad sayur yang Olivia buat akan segera mateng." ucap Olivia mengaduk-aduk cream yang sedang Ia buat.


Antonio meneguk segelas air putih. Pria setengah baya itu lalu bertanya. "Suami kamu belum bangun?"


"Hubungan kalian baik-baik saja, kan? kalian tidak bertengkar lagi,kan?" tanya Tuan Antonio menatap menantunya.


"Tidak, Ayah. Kami baik-baik saja. Mungkin kami masih merasa canggung tinggal bersama. Karena belum terlalu terbiasa dengan suasana pengantin baru menikah." kelakar Olivia tersenyum kecil.


Sementara di dalam kamar, Dean mengerjapkan matanya berulangkali. Ia melihat langit sudah mulai terang. Dean tertegun mendapati tubuhnya sudah ditutupi selimut tebal.


"Ternyata sudah pagi..."ucap Dean dengan lirih.

__ADS_1


Dean mencium aroma masakan dari dalam kamar, aroma masakan itu membuat perutnya tiba-tiba kroncongan. Dean langsung beranjak dari sofa sekaligus membawa selimut itu masuk ke dalam kamar. Ia melihat Olivia sudah berdiri di depan pintu sembari membawa napan. Di atas napan itu ada semangkuk salad dan segelas susu.


"Aku membawa salad dan segelas susu untuk sarapan kamu. Aku dan Ayah mertua sudah sarapan." ujar Olivia tersenyum manis meletakkan napan di atas nakas.


"Apa alergi di kulit kamu sudah mendingan?" tanya Olivia mendekati Dean.


Olivia meraih tangan Dean dan memeriksa apakah alergi kemaren masih ada atau sudah menghilang.


"Masih ada sedikit lagi." gumam Olivia.


"Sarapan Lah terlebih dahulu. Aku akan menyiapkan obat alergi kemaren." sambung Olivia menatap Dean.


Olivia berlalu dari kamar dan melangkah menuju dapur.


Dean menghembuskan napas lega melihat Olivia keluar dari kamar. Ia merasa jantungnya berdebar kencang merasakan sentuhan lembut tangan istri yang tak diakuinya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2