
Tak beberapa lama mereka tiba di laboratorium. Disana sudah ada Greyson dan beberapa ilmuwan.
"Ketua...." hormat Tom sedikit menunduk kepalanya.
Bukannya mengikuti langkah Tom ikut hormat kepada Greyson. Olivia malah tertegun melihat wajah tampan Greyson.
"Ternyata Tuan Douglas masih muda dan tampan...." gumam Olivia dengan lirih masih bisa di dengar semua orang.
Tak beberapa lama terdengar suara tegas seorang pria membuyarkan lamunan Olivia.
"Apa kau akan terus menatap ketua seperti itu? apa kau sudah berani lancang bersikap tidak sopan seperti itu." kata pria itu penuh peringatan.
"Ketua.... perkenalkan saya Olivia Raulse.... asisten profesor Tom." ujar Olivia dengan cepat membungkukkan sedikit tubuhnya. Ia melirik sekilas ke lantai. Ia melihat seseorang sudah berdiri di belakangnya.
Alih-alih menjawab sapaan Olivia, Greyson malah bertanya kepada seseorang yang baru saja memberikan peringatan kepada Olivia. "Dean.... apa Jack sudah pulang ke mansion?" tanya Greyson melewati Olivia begitu saja.
"Belum, Ketua." sahut Dean dengan suara lembut membuat jantung Olivia berdesir.
__ADS_1
"Jika Jack sudah mendapatkan informasi keberadaan wanita itu. Suruh dia datang ke ruangan ku." pinta Greyson keluar dari laboratorium.
"Olivia.... kamu akan ditugaskan mengawasi benda ini. Jangan sampai benda ini terpublikasi. Dan jika ada hal aneh yang terjadi.... langsung kabari aku." kata Tom menatap Olivia.
"Baik senior." sahut Olivia tersenyum tulus.
Seorang pria benar-benar tidak suka melihat Olivia tersenyum kepada Tom. Ada sedikit perasaan tidak rela di lubuk hatinya. Namun pria itu masih bisa menyembunyikan perasaan aneh itu.
"Ehem! apa kau akan terus berdiri di situ tanpa melanjutkan pekerjaanmu?" tanya Dean memotong pembicaraan mereka.
"Apa kau tuli atau sedang pura-pura tuli?" ketus Dean membuat semua ilmuwan yang masih berdiri disana geleng-geleng kepala. Tak biasanya Dean bersikap kasar seperti itu.
Olivia langsung membalikkan tubuhnya melihat orang yang sedang berbicara kepadanya. Ia terdiam lama menatap manik mata berwarna hitam pekat itu.
"Tampannya...." gumam Olivia masih bisa di dengar semua orang. Apalagi masih ada jejak keringat di wajah Dean karena sehabis olahraga. Keringat itu membuat wajah Dean terlihat semakin seksi.
"Apa ada yang aneh dengan wajahku? mengapa kau terus menatap ku seperti itu?" ketus Dean membuyarkan Olivia dari lamunannya. Padahal Dean masih bisa mendengar pujian Olivia tadi.
__ADS_1
"Itu adalah meja kerjamu. Kau harus memantau benda ini dari CCTV mulai dari jam 8 malam hingga jam 7 pagi. Karena jam 8 sampai jam 7 pagi merupakan waktu istirahat para ilmuwan." kata Dean membuat Olivia terkejut.
"Apa aku tidak diijinkan tidur sama sekali?" tanya Olivia dengan cepat. Ia merupakan manusia bukan robot. Olivia mana sanggup begadang selama itu.
"Tapi--"
"Tidak ada tapi-tapian! cepat kerja sana." usir Dean membalikkan tubuhnya meninggalkan Olivia.
"Sialan! tampan doang yang membuat jantung ketar-ketir! tahu-tahunya belagu juga!" maki Olivia menendang angin.
"Aku masih bisa mendengar ejekan mu. Jangan sampai aku menambah pekerjaan mu." ujar Dean tersenyum licik.
Dengan wajah kesal Olivia melangkah ke meja kerja yang ditunjuk Dean. Olivia terdiam lama menatap kearah layar CCTV.
"Mengapa aku harus mengawasi benda itu? apa benda itu sangat penting sehingga membuat orang yang dipanggil Ketua itu merahasiakan penemuannya." gumam Olivia menghela nafas.
...***Bersambung***...
__ADS_1