
"Olivia...." panggil Dena sembari menatap langit-langit kamar.
"Hem...." sahut Olivia bergumam pelan menunggu perkataan selanjutnya dari Denada.
"Kenapa akhir-akhir ini aku seperti orang linglung dan tiba-tiba ini mengakhiri hidupku. Hati dan pikiranku sepertinya belum bisa mengikhlaskan kematian putraku."ujar Dena dengan suara bergetar.
"Seseorang pernah berkata, kalau rasa sakit dan tidak ikhlas ini akan sembuh seiring berjalannya waktu.... namun aku merasa itu tidak berlaku untuk diriku. Aku ingin kembali ke hari dimana aku belum bertemu dengan Meyer.... bahkan terkadang aku ingin kembali ke hari dimana aku tidak pernah dilahirkan ke dunia."
"Aku merasa kesepian di tengah keramaian. Aku merasa dibuang oleh kedua orang tuaku. Andaikan mereka ada di saat-saat terberat ku. Aku mungkin akan sangat bahagia."
"Itu hanya angan-angan semata. Karena mereka tidak pernah mengharapkan kelahiran ku. Buktinya mereka membuang ku." ujar Denada menghembuskan napasnya.
"Bagaimana kalau tiba-tiba kedua orang tuamu muncul di hadapanmu? apa yang akan kamu lakukan?" tanya Olivia dengan hati-hati.
"Mungkin aku akan menghindar dari mereka beberapa saat, lalu bertanya kembali dihari berikutnya.... mengapa mereka tidak menginginkan kehadiran ku." ujar Denada tersenyum kecut.
"Mungkin mereka tidak ingin melihat ku tumbuh dengan baik."lanjutnya dalam hari.
__ADS_1
"Bagaimana kalau alasan mereka tidak seperti apa yang kamu pikirkan?" tanya Olivia membalikkan tubuhnya menghadap Denada.
"Selain alasan tidak menginginkan seorang anak? apa alasan orang tua meninggalkan anaknya di panti asuhan?"
"Selain karena kedua orangtuanya sudah meninggal... bisa jadi karena masalah ekonomi." seru Olivia.
"Dan kedua orangtuaku tidak termasuk ke dalam kedua alasan itu."
"Aku tiba-tiba mengantuk. Lebih baik kita istirahat beberapa menit sebelum menikmati keindahan ibu kota jakarta." gumam Denada memejamkan kedua matanya.
"Bagaimana kalau kita benar-benar saudara kandung? aku tentu saja sangat senang memiliki saudara perempuan seperti mu. Aku tentu saja akan melakukan apapun untuk mu." gumam Olivia tapi masih bisa di dengan Dena meskipun kedua mata itu terpejam.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Dena tiba-tiba sedikit curiga dengan Olivia.
"Bu-bukan... aku hanya bergumam asal." seru Olivia belum berani mengungkapkan sesuatu kepada sang sahabat.
"Kita sudah bertahun-tahun menjadi sahabat. Aku tidak ingin ada yang disembunyikan dariku." ujar Dena menatap wajah Olivia yang terlihat sedikit gugup.
__ADS_1
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Dena dengan hati-hati.
"Dena.... bagaimana jika kita saudara kandung? apa kau akan membenci ku maupun kedua orang tua kita?" celetuk Olivia tiba-tiba tidak bisa menyembunyikan kecurigaannya selama ini.
"Hahaha....."
Denada tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan ngawur sahabatnya. "Olivia.... apa kamu sedang bercanda? aku selama ini hidup di daerah terpencil Kolombia.... sementara kamu hidup dan besar di Indonesia. Jarak Kolombia ke Indonesia sangat jauh. Mana mungkin aku bisa kesasar sampai di Kolombia." celetuk Denada tak mampu menahan rasa geli di perutnya. Ia benar-benar heran dengan pemikiran sang sahabat.
"Jika kamu memiliki pemikiran seperti itu? lalu mengapa kita memiliki kesamaan golongan darah? apa lagi golongan darah yang kita miliki cukup langka dan hanya orang-orang dari keturunan tertentu yang memilikinya." ujar Olivia membuat Dena terdiam.
"Aku ingin mempertemukan kamu dengan kedua orang tua kita. Kamu akan segera mengetahui semuanya." ujar Olivia membuat Dena speechless dan tak bisa berkata-kata.
"Apa kamu ingin mendengarkan suara hatiku?" tanya Olivia melihat Denada terdiam.
"Jika memang benar kecurigaan ku selama ini. Aku benar-benar senang memiliki saudara kandung seperti dirimu. Rasa kesepian ku selama ini akan segera terobati. Aku tidak akan iri dengan mu. Karena aku juga baru tahu keberadaan mu akhir-akhir ini." ujar Olivia tersenyum kecil.
"Aku tidak tahu apa alasan kita berpisah.... hanya saja satu yang ku pinta. Jangan terlalu membenci kedua orang tua kita.... ketika pada akhirnya nanti kamu tahu alasan sebenarnya dari mereka." pesan Olivia menatap kedua mata Denada.
__ADS_1
"Sekarang aku tahu apa alasan Mama menangis setiap malam. Ternyata kamu adalah alasan dari tangisannya itu. Jika selama ini aku menganggap diriku kurang kasih sayang dari kedua orang tua kita.... maka sekarang aku sadar. Kalau kamu lebih kesepian dibandingkan aku." seru Olivia lagi tersenyum lega.
...***Bersambung***...