CINTA YANG BERBAHAYA

CINTA YANG BERBAHAYA
Chapter 22


__ADS_3

Olivia dan Tuan Antonio belum mulai sarapan, karena masih menunggu kedatangan Dean.


"Apa suamimu masih lama?" tanya Tuan Antonio sudah tidak sabar mencoba masakan menantunya.


Tak beberapa lama terdengar suara Dean menyahuti pertanyaan Tuan Antonio.


"Dean sudah ada di belakang punggung Papa." sahut Dean menarik kursi disamping ayahnya.


"Ternyata kau baru selesai mandi." ucap Tuan Antonio tersenyum tipis.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh Pa. Dean tidak mungkin melakukannya dengan bekas orang lain" celetuk Dean mendudukkan bokongnya di atas kursi.


Ia tidak peduli, jika perkataannya bisa saja menyakitkan hati Olivia. Yang iya pikirkan bagaimana caranya agar Olivia merasakan bagaimana sakit yang anggota klan king rasakan dulu.


"Tidak baik mengumbar aib istri sendiri. Bagaimanapun kalian sudah sah di mata Tuhan." nasehat Tuan Antonio. Ia percaya menantunya merupakan wanita baik-baik.


"Lebih baik kita sarapan sekarang juga. Perut Papa sedari tadi minta diisi." ujar Tuan Antonio.


"Ayo, Nak. Tidak usah dengarkan perkataan William. Pria tengil ini hanya bergurau." timpal Tuan Antonio melihat wajah sedih menantunya. Ia tidak mau terlalu mencampuri urusan mereka. Karena Tuan Antonio percaya. Dihati terdalam mereka, sudah mulai tumbuh benih-benih cinta tanpa mereka sadari.


Olivia menyuapkan sesendok spaghetti ke mulutnya. Meskipun makanan itu terasa sedikit hambar di mulutnya. Bukan karena tidak ada rasa, namun karena perkataan Dean masing terngiang-ngiang di kepalanya.


Olivia terlalu fokus dengan makannya hingga tidak menyadari keadaan sekitarnya.


Sementara Dean tiba-tiba kesulitan bernapas setelah menyuapkan dua sendok makan spaghetti yang di sajikan Olivia. Ia tidak memperhatikan tambahan menu yang dicampur dengan spaghetti itu.

__ADS_1


"Olivia!! kau..."


Brak


Dean tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena tak beberapa lama Ia langsung jatuh pingsan. Tiba-tiba ruam berwarna merah bermunculan dan memenuhi sebagian kulitnya.


"Olivia. Apa kamu mencampurkan bahan-bahan laut di dalam spaghetti itu?" tanya Tuan Antonio menghawatirkan kondisi putranya.


"Panggilkan dokter Olivia. Dean harus dibawah ke rumah sakit." sambung Tuan Antonio membopong tubuh putranya masuk ke dalam kamar.


"Tidak usah, Papa. Olivia juga seorang dokter. Meskipun hanya dokter anak. Tapi Olivia tahu gejala yang dialami Dean." seru Olivia.


"Namun Olivia tidak memiliki persediaan obat antibiotik, obat alergi dan juga salep untuk kulit Dean." sambung Olivia menatap ayah mertuanya dengan wajah memelas.


"Biar Papa yang membelinya diluar. Kamu tunggu saja di sini. Dan tolong catat resep obat yang dibutuhkan Dean di atas keras." pinta Tuan Antonio membaringkan tubuh putranya di atas tempat tidur.


"Ini Pa." ujar Olivia menyerahkan secarik kertas kepada ayah mertuanya.


"Hanya obat ini saja?" tanya Tuan Antonio.


"Iya, Olivia hanya membutuhkan obat itu menyembuhkan Dean. Sepertinya Dean mengalami alergi." seru Olivia.


"Papa mau ke apotek dulu membeli obat ini. Tolong periksa keadaan Dean." pinta Tuan Antonio sebelum keluar dari kamar yang ditempati Dean dan Olivia.


Olivia menghembuskan napasnya lega melihat kepergian Tuan Antonio.

__ADS_1


"Mengapa aku tidak tahu kalau pria ini alergi dengan sea food." gumam Olivia memeriksa kondisi tubuh Dean. Pria itu tidak demam sama sekali. Namun ruam merah mulai memenuhi kulitnya. Ada sedikit rasa bersalah di hati Olivia melihat keadaan Dean.


Olivia mengambil air dan handuk kecil mengompres kulit Dean. "Maafkan aku." ujar Olivia sembari mengompres kulit Dean.


Sementara Dean masih pingsan seperti sebelumnya.


Tak beberapa lama Tuan Antonio datang membawa obat pesanan Olivia. Ia lalu menyerahkan obat itu kepada Olivia.


"Nak, ini obat yang dibutuhkan Dean. Ada obat alergi dan juga salep untuk dioles di kulit Dean." ujar Tuan Antonio.


"Papa percayakan Dean dirawat oleh kamu. Tolong rawat putra papa hingga sembuh. Sepertinya ruam yang ada di kulitnya akan lama sembuh." sambung Tuan Antonio. Ia lalu keluar dari kamar sepasang suami-istri itu.


Olivia membangunkan Dean dari pingsannya, namun pria itu tak kunjung sadar. Olivia lalu menuangkan sedikit minyak kayu putih di jari tangannya dan meletakkannya di dekat hidung Dean.


Tak beberapa lama Dean akhirnya membuka matanya. Ia menatap Olivia dengan muka marah namun kemarahan itu sepertinya Ia tahan agar tidak meledak.


"Minumlah obat ini. Agar efek dari alergi yang kau alami segera menghilang. Aku juga mau mengoleskan salep di kulit mu. Agar ruam di tubuhmu menghilang."ujar Olivia. Ia menarik tangan Dean, lalu mengoleskan salep dikuliti.


Dean melepaskan tangannya dari sentuhan Olivia. "Aku juga bisa melakukannya sendiri." ujar Dean meminum obat yang tadi diberikan Olivia. Setelah obat itu Dean minum. Ia lalu mengoles salep itu keseluruhan tubuhnya tanpa bantuan Olivia.


"Lain kali kalau kau mau membunuh orang, jangan setengah-setengah." sindir Dean dengan menatap sini kearah Olivia.


"Dean, kau salah paham. Aku hanya mau mengerjai mu dengan bon cabe rawit dan juga merica. Aku tidak tahu kalau kau alergi dengan sea food. Kupikir kau menyukai seafood. Karena setahuku, kau sedari kecil sudah tinggal di tempat ini bersama ayahmu. Aku tidak memiliki niat sama sekali membunuhmu." jelas Olivia. Ia tidak mau Dean salah paham.


"Aku tidak masalah kalaupun kau memiliki niat membunuhku. Karena niatmu itu tidak akan pernah tercapai." ujar Dean masih dengan perasaan marah dan kesal.

__ADS_1


"Keluarlah dari kamar ini. Minta Papa ku menyiapkan satu kamar lagi untukmu. Aku tidak mau satu kamar dengan wanita seperti mu. Bisa saja sebentar malam, saat aku tertidur lelap nanti, kau membekap mulutku dengan bantal." dengus Dean melirik sekilas kearah Olivia. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


...****Bersambung***...


__ADS_2