
Pria itu melangkah tanpa menunggu jawaban istrinya ataupun berniat membantu istrinya berdiri.
Olivia hanya menatap nanar punggung suaminya yang semakin menjauh dari penglihatannya.
"Ini bukan apa-apa Olivia." lirihnya menahan rasa sesak di hatinya.
"Setidaknya pria itu tidak menyakitimu secara fisik Olivia. Tidak masalah kalau ucapannya sedikit toxic." monolognya dalam hati. Ia menghapus air mata yang baru saja mengalir dari sudut matanya. Olivia lalu berdiri mengikuti jejak langkah suaminya.
#
#
Di Gubuk
Kriuk kriuk
Dean ikut mendengar suara cacing-cacing di dalam perut istrinya sudah mulai berdemo. Pria itu melangkah keluar dari gubuk tanpa mengatakan sepatah katapun.
Olivia berusaha menyembunyikan rasa malunya di depan suaminya, saat suara cacing-cacing di dalam perutnya sudah mulai berdemo minta makan. Sebenarnya sedari tadi Olivia berusaha menyembunyikan rasa laparnya di depan suaminya. Karena wanita itu tahu, mereka tidak akan menemukan makanan di tempat sepi seperti ini.
#
#
Di pesisir pantai
Dean membawa sebatang kayu yang sedikit runcing ke arah laut. Pria itu mencari-cari ikan menggunakan kayu yang dibawanya.
Beberapa jam kemudian pria itu kembali membawa 2 ekor ikan laut yang sudah Ia bersihkan sebelumnya.
"Dari mana kau mendapatkan ikan ini?" tanya Olivia menatap ikan yang di bawa suaminya.
Dean menghiraukan pertanyaan Olivia. Pria itu melanjutkan langkahnya menuju dapur yang ada di gubuk itu.
Tak beberapa lama Dean kembali dengan 2 ekor ikan bakar
"Makanlah." ujarnya datar
Karena terlalu lapar Olivia memakan makanan yang di letakkan Dean di depannya. Meskipun makanan itu terasa sedikit hambar namun Olivia tetap memasukkan daging ikan itu ke dalam mulutnya.
Olivia menatap suaminya yang sedari tadi hanya diam, tak bergeming sembari menatap keluar gubuk.
"Apa kau tidak lapar?" tanya Olivia.
Dean menghiraukan pertanyaan Istrinya. Pria itu sedari tadi hanya sibuk dengan pikirannya.
__ADS_1
Tanpa pria itu duga, istrinya melangkah mendekatinya dan mengarahkan suapan tangannya ke depan mulut-nya.
Dean menatap lama daging ikan yang mau disuapkan istrinya ke dalam mulutnya
"Aku tidak lapar." jawab Dean berusaha menolak suapan Olivia.
"Kita tidak punya makanan selain ikan ini. Kau akan kelaparan jika tidak makan semalaman. Langit juga sudah mulai terlihat gelap. Kita tidak mungkin mencari makanan lain selain ikan ini." ujar Olivia. Istrinya tetap kekeuh memaksa Dean untuk makan.
"Aku sudah bilang tidak lapar!!" bentak Dean menatap tajam Olivia.
"Jangan bertingkat seakan-akan kau adalah isteri yang baik. Ingat kita menikah tanpa cinta. Jangan bertingkat seakan-akan kau peduli dengan keadaanku!" sambung Dean menepis kasar tangan Olivia.
Olivia terdiam lama mendengar perkataan Dean. Ia meresapi kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut pria yang sudah resmi menjadi suaminya. Tanpa dipersilahkan setetes air mata terjatuh dari ujung kelopak matanya.
Olivia melangkah mundur kebelakang, Ia kemudian melangkah keluar dari gubuk itu. Rasa laparnya seketika hilang mendengar perkataan Dean. Olivia berjalan di sepanjang pesisir pantai. Air mata menetes deras dari kedua matanya. Tepisan dan ucapkan suaminya tentu saja menyakiti hatinya. Olivia terlalu bergelut dengan pikirannya tanpa Ia sadari, Ia semakin melangkah jauh dari gubuk yang mereka tempati sebelumnya.
"Aku tidak akan menyerah dan aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku!" monolognya terus berjalan mengikuti pesisir pantai.
Karena terlalu lelah berjalan, Olivia kemudian mendudukan tubuhnya di atas pasir sembari menatap senja yang mulai tenggelam. Wanita itu menikmati pemandangan pantai hingga menjelang malam. Hembusan angin sejuk pantai membuat bulu-bulu halus di kulitnya berdiri.
"Ternyata sudah mulai dingin." monolognya. Ia kemudian berdiri dari duduknya. Ia menatap bingung daerah yang dikunjunginya
"Aku ada dimana?" batinnya menatap sekelilingnya.
#
#
Setelah melihat istrinya pergi, Dean menatap lama ikan bakar yang sebelumnya dimakan istrinya. Dean membungkus ulang ikan itu dengan dauh lebar yang sebelumnya Ia ambil di sekitar gubuk. Ia tidak mungkin mengonsumsi ikan itu, karena itu hanya akan membahayakan hidupnya.
Dean termenung lama di dekat jendela gubuk sembari menatap ke arah laut. Ia melihat matahari semakin tenggelam. Sejam, dua jam dan tiga jam telah berlalu namun Olivia belum juga kembali ke gubuk. Hal itu tentu saja membuat Dean sedikit kesal.
"Merepotkan!" kesalnya sembari melangkah keluar dari gubuk.
Dean melangkah mengikuti jejak kaki yang masih terlihat jelas di sepanjang pesisir pantai. Sejam kemudian Dean sampai di jejak kaki ya terakhir.
"Dimana dia?" monolognya sembari mengamati daerah sekelilingnya.
Pendengarannya terpaku pada suara tangis seorang perempuan
" Apa itu kuntilanak?" batinnya mengelus pelan tengkuknya.
#
#
__ADS_1
Hiks hiks hiks
Suara tangisan seorang perempuan membuat bulu-bulu halus di kulitnya seketika berdiri. Di tambah hembusan angin di pantai di malam hari semakin malam semakin dingin.
Dengan takut-takut Dean mendekati suara tangisan yang pria itu dengar.
"Siapa disana?"
"Apa ada orang disitu? apa anda manusia? atau makhluk jadi-jadian?" ujar Dena mencengkeram kuat kedua tangannya melangkah mendekati asal suara.
Hiks hiks hiks
Olivia menutup kedua matanya menahan rasa sakit dan perih di kakinya. Ia bisa mendengar suara suaminya namun Ia masih kesal dengan penolakan Dean sebelumnya.
Dari kejauhan Dean melihat Olivia terduduk di bawah pohon kelapa sembari menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.
"Ayo kembali." ucap Dean tanpa mau membantu Istrinya
Olivia tidak bergeming sama sekali mendengar perkataan suaminya.
"Apa kau tidak mendengar perkataan ku?" tanya Dean menatap tajam ke arah Oliva. Namun Olivia menghiraukan pertanyaan suaminya. Ia berusaha menahan rasa sakit dan perih akibat luka di telapak kakinya.
"Kalau kau tidak mau berdiri. Aku akan meninggalkan mu sendirian disini." ancam Dean berniat melanjutkan langkahnya. Namun perkataan istrinya mengehentikan langkahnya.
"Kakiku terluka." ujar Olivia dengan suara serak. Olivia menatap Dean dengan mata sembab sembari menghapus sisa-sisa air matanya dengan punggung tangannya. Saat berniat kembali ke gubuk. Tanpa sengaja Olivia menginjak cangkang kerang laut hingga membuat kakinya terluka.
Tanpa berkata sepatah katapun, Dean melangkah mendekati istrinya. Tanpa Olivia duga suaminya langsung mengangkat tubuhnya. Dean menggendong istrinya kembali pulang menuju gubuk.
#
#
Sejam kemudian mereka tiba di gubuk, Dean mendudukan tubuh istrinya di tempat tidur yang terbuat dari kayu.
Sepintas Dean melihat luka dan tetesan darah keluar dari telapak kaki istrinya.
"Terima kasih" ujar Olivia kepada suaminya.
Dean lagi-lagi menghiraukan ucapan istrinya. Pria itu kemudian melangkah keluar sembari membawa batok kelapa.
Dean mengitari rumput-rumput lebat di sekitar gubuk, mencari rumput liar yang biasa digunakan untuk menutup bekas luka. Lama tinggal di hutan bersama Greyson dan anggota klan king lainnya, membuat Dean tahu mana rumput hijau yang bisa dijadikan obat herbal.
Tak beberapa lama Dean datang dengan daun hijau yang sudah Pria itu halus. Dean lalu keluar lagi membawa dua batok kelapa. Ia melangkah menuju pantai mengambil sedikit air membersihkan luka di kaki istrinya.
...***Bersambung***...
__ADS_1