
Perkataan cemas ajak buahnya membuyarkan lamunan Dean. "Bos di depan ada badai besar, apa yang harus kita lakukan." ucap anak buahnya sembari menatap pulau kecil yang akan mereka kunjungi dari jarak jauh.
"Biarkan aku melihatnya." ucap Dean. Pria itu lalu menggunakan teleskop yang sebelumnya sudah di gunakan anak buahnya.
Mata Dean melotot melihat apa yang dilihatnya di depan sana.
"Putar arah kapal. Kita tidak mungkin bisa menembus badai sebesar itu!" ujar Dean tanpa melepas pandangannya dari pengamatan teleskop yang digunakannya.
Pria itu melihat badai besar mengarah ke arah kapal yang mereka tumpangi. Belum lagi gelombang ombak yang semakin lama semakin terlihat besar. Itu tentu akan membuat kapal yang mereka tumpangi tenggelam ke dasar laut.
"Baik bos." ujar anak buahnya sembari berlari menuju awak kapal.
"Putar arah kapal ke kiri. Kita tidak bisa menembus badai yang terlalu besar dari arah timur." ujar pria itu kepada nahkoda kapal.
#
#
Sementara Olivia merasa heran ketika melihat seorang awak kapal berlari menuju nahkoda kapal.
"Apa terjadi sesuatu?" monolognya sembari mengamati sekitarnya.
Ia melihat Dean menggunakan teleskop yang mengarah ke bagian timur kapal.
"Mengapa arah kapal berpindah berlayar ke arah utara?" batinnya.
Ia melihat angin kencang mulai berjalan ke arah kapal yang mereka tumpangi. Teriakan para awak kapal membuyarkan pandangan Olivia.
Ia berlari dengan cepat menuju asal suara para awak kapal. Tanpa sadar guncangan kuat dari ombak laut membuat tubuh kurusnya tidak seimbang hingga terjatuh ke dalam air laut.
Sementara perasaan Dean tiba-tiba dilingkupi rasa khawatir saat mengingat keberadaan istrinya yang belum dia lihat sedari tadi. "Kemana dia?"batinnya. Pria itu lalu melangkah ke sekeliling kapal mencari-cari keberadaan istri yang belum genap 24 jam dinikahinya.
"Menyusahkan!" kesalnya. Pria itu berjalan pelan sembari mengenggam tiang penyangga agar tidak terjatuh kedalam air.
"Bos!!"
"Sepertinya badai dari arah timur benar-benar tidak bisa kita atasi! gelombang air laut terlihat semakin lama semakin besar! kemungkinan kapal yang kita tumpangi akan terbalik akibat perubahan ombak yang semakin lama semakin membesar." teriak anak buah Dean sembari menggenggam tiang penyangga.
"Bos kita harus pakai pelampung untuk berjaga-jaga!" sambung anak buah Dean. Ia berteriak kencang agar Dean mudah mendengar ucapannya.
"Apa kau melihat istriku?" teriak Dean kepada anak buahnya. Pria itu tidak menggubris sama sekali perkataan anak buahnya.
Badai bercampur angin kencang semakin dekat kearah kapal yang mereka tumpangi. Di tambah gelombang air laut semakin lama semakin besar hingga membuat kapal bergoyang ke kiri dan ke kanan.
"Bos! Pakailah pelampung terlebih dahulu. Saya yang akan mencari nyonya muda!" teriak anak buahnya lagi.
__ADS_1
Namun Dean tetap fokus mencari keberadaan Olivia di sekitar kapal. Pria itu harus kecewa ketika tidak mendapati keberadaan Olivia ada di atas kapal.
"Apa wanita itu berniat bunuh diri karena sudah diperkosa?" gumam Dean berpikir yang tidak-tidak.
"Tapi wanita itu tidak mungkin berubah menjadi wanita bodoh hanya karena hal sepele seperti itu!" ujarnya lagi membuang pikiran negatifnya.
"Apa mungkin wanita itu berniat kabur?"
"Tapi dia tidak mungkin mampu menyebrang ulang menuju pelabuhan. Sedangkan kapal sudah berlayar sejauh ini." dengus nya membuang kemungkinan-kemungkinan di pikiran-pikirannya.
.
Dean lalu mengalihkan pandangannya kearah air laut. Dari kejauhan Dean melihat benda seperti baju yang mengambang di atas air. Pria itu perlahan melangkah mendekati baju mengambang itu.
"Bos!!"
"Pikirkan keselamatan Anda!!!" teriak anak buah Dean berusaha mengikuti langkah Dean.
Dean terus melanjutkan langkahnya mendekati pakaian yang terapung di atas permukaan air. Pria itu menghiraukan teriakan anak buahnya. Semakin dekat dengan baju mengambang itu. Pandangan Dean semakin jelas melihat tubuh Olivia sudah mengambang di atas permukaan air. Dengan cepat pria itu melompat kedalam air tanpa memperdulikan badai semakin dekat dengan kapal yang mereka tumpangi.
"Olivia!!! Olivia!!! bangun!!!" teriak Dean menepuk-nepuk pelan pipi dingin dan pucat istrinya. Pria itu meletakkan telunjuknya di bawah lubang hidung Olivia.
"Hah...." leganya menghembuskan napas mengetahui Olivia masih bernapas walaupun kedua matanya terpejam.
Dean menarik tubuh istrinya untuk berenang mendekati kapal.Gelombang air semakin tinggi membuat Dean kesulitan untuk berenang mendekat ke arah kapal. Tiba-tiba Dean merasa kakinya sedikit keram saat mencoba naik ke atas kapal.
Byur
"Kenapa tiba-tiba begini." kesalnya. Pria itu tidak mampu membopong tubuh Olivia ikut naik ke atas kapal.
Gelombang laut besar tiba-tiba menyapu tubuh mereka menjauh dari kapal.
"Aku tidak sanggup lagi." monolog Dean menatap wajah pucat istrinya. Tubuh Dean tiba-tiba melemah dan tidak sanggup lagi membawa tubuh Olivia naik ke atas kapal. Gelombang besar air laut menyapu tubuh sepasang suami istri itu hingga menjauh dari kapal.
"Bos!!" teriak anak buah Dean melihat tubuh sepasang suami istri itu semakin menghilang dari penglihatannya dibawa gelombang air laut.
"Sial!!" teriaknya.
"Apa yang harus aku lakukan?" batinnya
Pria itu terduduk di lantai kapal menatap nanar lurus ke arah laut lepas.
"Tuan apa dengan berdiam diri disini, tuan anda akan selamat? kita harus memutar balik arah kapal kembali ke kota Valencia kalau ingin selamat!" teriak seorang pria menyadarkan pria itu dari tatapannya.
"Benar!"
__ADS_1
"Aku harus mencari keberadaan tuan dan nyonya setelah ini!" tegasnya bangkit dari duduknya.
#
#
4 jam kemudian
Di sebuah pulau
Seorang pria dan wanita tergeletak di pesisir pantai dalam keadaan basah kuyup. Tak beberapa lama Dean meringis kecil memulihkan kesadarannya.
"Ah...."
"Dimana ini?"
Dean mendudukkan tubuhnya di atas pasir lalu mengamati daerah sekitar
"Pesisir pantai" batinnya
Pandangannya kemudian beralih ke samping kanannya. Pria itu melihat istrinya belum sadar dari pingsannya.
"Olivia.... Olivia.... Apa kau bisa mendengar suaraku?" panggilnya menggoyang-goyangkan tubuh istrinya. Namun tak ada sahutan dari Olivia. Mata wanita juga itu masih terpejam.
Dean kemudian memeriksa denyut nadi istrinya, pria itu dapat merasakan detak nadi istrinya.
"Hah.... Syukurlah." monolognya.
Dean kemudian meletakkan kepala istrinya di atas pangkuannya. Tanpa ada keraguan sedikitpun ,pria itu kemudian menjepit pelan hidung istrinya, dan mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya. Selanjutnya Dean memberikan napas bantuan berulangkali ke rongga mulut istrinya sampai sadar.
Tak beberapa lama Olivia terbatuk-batuk mengeluarkan banyak air dari mulut dan hidungnya, setelah mendapatkan napas bantuan dari suaminya.
Wajahnya yang tadinya pucat seperti mayat mulai bewarna kembali.
Dean bernapas lega melihat istrinya sudah sadar.
"Kita ada dimana?" tanya Olivia sembari mengumpulkan kesadarannya. Wanita itu mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum mereka terdampar di tempat itu. Olivia mengingat terakhir kali Ia terjatuh ke dalam air.
Dean menghiraukan pertanyaan istrinya. Ia lalu melangkah mengawasi daerah sekitar. Tak beberapa lama Dean melihat sebuah gubuk kayu kecil di bawah pohon kelapa.
"Kemungkinan itu tempat orang berteduh saat sedang memancing." monolognya
Dean kembali melangkah ke tempat semula "Berdirilah, ikut aku." ujar Dean dingin tanpa berniat menatap istrinya sedetikpun.
...***Bersambung***...
__ADS_1