CINTA YANG BERBAHAYA

CINTA YANG BERBAHAYA
Chapter 39


__ADS_3

"Emang pekerjaan apa yang kau lakukan disana?" celetuk Dena penasaran, karena setahunnya Olivia dokter spesialis anak.


"Senior Tom malah menyuruhku mengawasi sebuah mesin. Aku tidak tahu apa kegunaan mesin itu." seru Olivia berbisik pelan.


Dena langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan sahabatnya. Bagaimana mungkin Olivia berganti profesi menjadi seorang satpam wanita.


Oliva cemberut melihat Dena tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya.


"Aku berkata jujur Dena. Aku cukup malas kembali kesana kalau hanya dijadikan sebagai penjaga. Senior Tom benar-benar menyebalkan!" dengus Olivia sedikit kesal.


Tak ada angin dan tak ada hujan, tiba-tiba seorang wanita masuk ke ruangan ganti dan menampar Dena di depan Olivia. Olivia benar-benar terkejut melihat tindakan berani wanita itu.


"Apa yang kau lakukan!!!" teriak Olivia mendorong tubuh wanita itu menjauh dari Dena. Olivia sangat terkejut melihat Katherine berani-beraninya menampar wajah cantik sahabatnya.


Olivia menatap kedua pipi Dena dengan teliti. Ia melihat kedua kulit pipi Dena membentuk cap lima jari berwarna merah.


"Apa tamparan Katherine menyakitimu? aku rasa pipimu akan bengkak dan bekas cap lima jari Katherine akan terlihat jelas di kedua pipimu." ujar Oliva cukup khawatir.


Dena menundukkan kepalanya, diam tak bergeming mendengar pertanyaan Olivia. Hingga membuat Olivia marah. Olivia membalikkan tubuhnya menatap tajam kearah Katherine. "Apa kau sudah gila!!!" teriak Olivia membuat orang-orang diluar sana langsung berlari menghampiri asal suara.


"Aku tidak gila! aku hanya memperingatkannya, agar menjauhi Meyer. Karena kami sebentar lagi akan menikah! aku sudah berulangkali mengatakan ini! apa kau tidak malu terus-menerus menjalin kasih dengan tunangan orang lain!" ketus Katherine.


"Kalau kau tidak mau menjauhi Meyer, maka aku akan membuatmu menyesal!" ancam Katherine mendorong kuat bahu Dena hingga Ia terdorong kebelakang. Dena merasa kepalanya berkunang-kunang saat kepalanya tanpa sengaja membentur kaca panjang di ruang ganti.


Olivia lagi-lagi terkejut melihat tindakan diluar batas Katherine. Ia langsung membantu Dena, ketika melihat Dena memegang kepalanya.


"Katherine minta maaf sekarang juga kepada Denada!!" bentak Olivia tak mampu menahan amarahnya. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan tangannya agar tidak membalas tamparan Katherine di kedua pipi sahabatnya.


"Aku tidak mau minta maaf kepada wanita rendahan sepertinya!" sinis Katherine menatap tajam kearah Dena. Perkataan yang keluar dari mulut Katherine tentu saja menantang Olivia.


"Wanita rendahan?"


"Kau yang wanita rendahan!!!" teriak Olivia


PLAK


PLAK


"Ini balasan dari tamparan mu tadi! jika Dena tidak mau membalas tamparanmu, maka aku yang akan membalasnya!" ucap Olivia tersenyum puas menatap wajah merah padam Katherine.

__ADS_1


"Kau--"


Namun pertanyaan seorang pria matang tiba-tiba menghentikan ucapan Katherine.


"Apa yang kalian lakukan!!" tanya direktur utama perusahaan itu tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ganti.


Wanita itu tersenyum menyeringai mendengar suara direktur utama perusahaan fashion tempat mereka bekerja.


Katherine mengadu hal yang tidak-tidak kepada pria bernama Diego Gomez itu. "Apa itu benar Dena? Olivia?" tanya Diego menatap Dena dan Olivia berganti. Diego tidak akan berani memarahi Dena, karena wanita itu merupakan kekasih Meyer. Pemilik saham terbesar di perusahan itu. Bisa-bisa Dena mengadu kepada Meyer dan menyuruh pria itu memecatnya sebagai direktur utama.


"Apa Anda tidak melihat kedua pipi sahabat saya bengkak dan memerah?" sindir Olivia menatap sinis kearah Diego dan Katherine.


"Mentang-mentang sering tidur sama, kesannya malah membela yang salah!" sambung Olivia menyindir Diego. Membuat suasana di ruangan itu semakin menegangkan.


Diego cukup terkejut mendengar perkataan modelnya. Olivia ternyata sudah berani menyindirnya secara langsung.


Sementara para karyawan perusahaan diluar sana saling berbisik-bisik mendengar perkataan Olivia.


Suara benda jatuh menghentikan obrolan mereka dari situasi menegangkan itu.


"Kau--" suara benda jatuh menghentikan ucapan Diego.


"Dena!!" teriak Olivia melihat Dena tiba-tiba pingsan jatuh ke lantai.


"Tolong angkat tubuh Dena ke mobilku!!" teriak Olivia dengan suara bergetar.


Fotografer yang biasa memotret mereka tiba-tiba masuk ke dalam melewati karyawan yang lain. Pria itu langsung mengangkat tubuh Dena ala bridal style menuju mobil Olivia.


"Aku akan membalas mu Katherine!!" ancam Olivia sebelum keluar dari ruangan itu.


Di luar ruangan


Gina cukup terkejut melihat fotografer profesional perusahaan itu mengendong tubuh Dena ala bridal style.


"Oliv! apa yang terjadi? mengapa Dena tiba-tiba digendong keluar?" tanya Gina cukup khawatir.


"Dena pingsan karena didorong Katherine. Kepala belakang Dena sepertinya terbentur kaca panjang yang ada di ruangan ganti." celetuk Olivia dengan mata berkaca-kaca.


"Saya mau membawa Dena ke rumah sakit. Tolong pemotretan hari ini diundur sampai Dena sembuh." sambung Olivia meninggalkan keterkejutan Gina.

__ADS_1


#


#


Di rumah sakit


Dena langsung dimasukkan ke unit gawat darurat setibanya di rumah sakit. Dokter langsung memeriksa Denada. Tidak lupa mereka juga melakukan scan X-ray kepala Dena. Karena sebelum masuk ke ruangan pemeriksaan. Olivia terlebih dulu menceritakan mengapa Dena bisa pingsan.


"Olivia!" panggil seorang pria mendekati kursi tunggu.


"Mengapa kau kemari?" tanya Olivia tanpa menatap kearah kekasih Dena.


"Bagiamana keadaan Dena?" tanya Meyer menghiraukan pertanyaan Olivia.


"Apa kau belum puas menyakiti Dena?" tanya Olivia tiba-tiba berdiri dari duduknya. Ia menatap Meyer dengan tajam.


"Jika kau ingin Dena bahagia! maka menjauh lah dari hidupnya!" bentak Olivia menatap sinis Meyer.


"Aku tidak akan pergi dari hidup Dena! hanya aku satu-satunya pria yang bisa membahagiakannya!"


Tak beberapa lama seorang dokter keluar dari UGD. Olivia langsung melangkah mendekati dokter itu, menanyakan bagaimana keadaan Denada.


"Dokter! bagaimana keadaan Denada?" tanya Olivia ingin tahu.


"Pasien tidak apa-apa. Hanya saja pingsannya pasien karena sedang mengandung dua bulan. Saya ucapkan selamat untuk Anda Tuan." terang dokter itu.


Oliva tertegun mendengar perkataan dokter yang bertanggung jawab memeriksa kondisi Dena.


"Perawat akan memindahkan pasien ke ruangan rawat inap. Saya sarankan, Anda memeriksa kandungan istri Anda ke dokter kandungan." sambung dokter itu kepada Meyer sebelum berlalu dari sana.


"Cih! aku takut Dena akan tertekan mengetahui kehamilannya. Kau tahu sendiri seberapa besar usahanya hingga mencapai cita-citanya." sindir Olivia berlalu dari sana meninggalkan Meyer.


Oliva berlalu ke kantin rumah sakit membeli air putih.


Tak beberapa lama Olivia kembali menuju ruangan Dena. Namun, Olivia terdiam lama berdiri di luar pintu menatap keadaan di kamar rawat Dena melalui sela-sela kaca di pintu. Ia cukup sungkan menganggu kebersamaan sepasang kekasih itu. Apa lagi sekarang Dena sang sahabat sedang mengandung anak Meyer.


Olivia memundurkan langkahnya berlalu dari lorong ruangan Dena.


" Besok pagi saja menjenguk Dena." gumam Olivia keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2