
Seminggu kemudian
Olivia melihat Greyson dan putranya sedang berjemur. Dengan semangat empat lima, Olivia melangkah mendekati mereka.
"Tuan anda jangan terlalu lama di bawah terik matahari. Itu akan membuat kulit anda menjadi sensitif" ujar Olivia memperhatikan wajah tampan Greyson.
"Kau tidak perlu mengingatkanku. Cukup kau kerjakan pekerjaan yang sudah Klan King tugaskan" sahut Greyson tanpa mengalihkan pandangannya dari putranya.
Olivia juga bisa merasakan tatapan sinis putra Greyson. Bayi mungil itu sepertinya tidak suka dengan keberadaan Olivia.
Sementara seorang pria muda juga melihat tingkah genit Olivia. Ia benar-benar tidak suka dengan gadis yang memiliki sikap agresif seperti Olivia. Padahal apa yang dikatakan Olivia memang benar. Kulit pria itu cukup sensitif jika berlama-lama di bawa sinar matahari. Apa lagi Greyson baru saja melakukan cangkok kulit.
"Pergilah kerjakan tugasmu, Istriku sudah bangun dari komanya. Sekarang tugasmu bukan lagi merawat dan memeriksa keadaannya." seru Greyson membuat Olivia tersenyum lebar.
Dia tersenyum karena sebentar lagi Olivia bisa mengambil cuti pulang ke Indonesia. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Dena. Apa lagi kedua orang tua Olivia juga ingin bertemu dengan Dena.
"Yes! akhirnya aku bisa liburan lagi." seru Olivia melompat.
Beberapa orang pria terpesona melihat tawa lepas Olivia.
"Bukankah dokter itu sangat cantik saat tertawa lepas seperti itu?" tanya seorang anggota klan king kepada rekannya.
"Ya! kau benar. Dia terlihat seperti gadis pribumi. Dan menurut kedua orang tuaku.... gadis pribumi itu cantik-cantik. Mereka memiliki kulit eksotis yang membuat beberapa orang eropa seperti kita terpikat." sahut rekan pria itu membuat telinga seorang pria berdenging.
Ia terlihat tidak suka pria lain memuji Olivia. Karena selama ini Dena memanggil Olivia dengan panggilan gadis udik.
"Apa kalian akan terus menggosipkan hal yang tidak bermutu seperti itu?" ketus Dean membuat Jack berusaha menahan tawanya. Ia merasa terhibur dengan sifat aneh sahabatnya itu.
__ADS_1
Dan benar saja, seminggu kemudian Olivia berangkat ke Jakarta setelah melihat kondisi Stevi sudah lebih baik.
Di Bandara Soekarno Hatta
Pesawat yang di tumpangi Olivia baru saja mendarat di Bandara Internasional ibukota Jakarta. Wanita itu datang menggunakan pakaian seksi dan ketat sehingga tercetak jelas tubuh ramping dan tingginya. Tak lupa dia menggunakan kaca mata dan topi untuk menutupi identitasnya.
"Kita mau ke mana nona?" tanya seorang pria kepada Olivia. Pria itu merupakan supir pribadi yang biasa di utus kedua orangtuanya menjemputnya.
"Ke hotel Royal" seru Olivia dengan cepat.
Sementara seorang wanita yang duduk di samping Olivia masih sibuk men-scroll beranda media sosial Instagram nya. Beberapa saat kemudian dia menutup layar handphone nya. "Akhirnya kau datang ke Indonesia Greyson. Kali ini aku tidak akan menyerah" gumamnya sembari mengamati jalanan ibu kota Jakarta.
"Mengapa kau berucap seperti itu?" tanya Olivia cukup curiga dengan rencana Denada.
"Aku hanya ingin meminta tolong padanya agar menjauhkan ku dari Meyer. Aku cukup lelah hidup seperti ini." ujar Denada dengan tenang.
"Dia sudah memiliki istri. Jadi jangan coba-coba mengganggunya."kata Olivia penuh peringatan.
"Bagaimana dengan Richardo? apa kau tidak kasihan meninggalkannya bersama Meyer?" tanya Olivia membuat Dena terdiam. Bibir wanita itu seakan kelu untuk menjawab pertanyaan Olivia.
Tak beberapa lama mobil yang di tumpangi mereka sampai juga di depan lobi hotel Royal. Supir yang mengantarkannya juga membantu mengangkat koper Olivia dan Denada.
"Apa anda tidak akan kembali ke rumah nona muda?" tanya supir pribadi keluarga Olivia sembari menunggu prosedur check-in di hotel Royal.
"Tidak, aku akan menginap beberapa hari disini"kata Olivia memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar pintu masuk hotel Royal.
2 menit kemudian resepsionis hotel memberikan Id Card kamar ke kepada Olivia. Mereka pun melangkah menuju lift yang tidak terlalu jauh dari meja resepsionis itu. Sementara Dena ijin ke toilet terlebih dahulu.
__ADS_1
Ting
"Silahkan nona.." ujar seorang pria yang baru saja masuk ke dalam lift mendahului Olivia dan supir pribadinya. Olivia tidak mengindahkan ucapan pria itu namun dia tetap masuk ke dalam lift. Ia benar-benar mengenal pria itu. Pria menyebalkan yang selama ini mengusiknya dan mengatainya gadis udik.
"Cih..." decak pria itu mengubah raut wajahnya menjadi datar
Drettt
"Lo dimana?" tanya seorang pria di seberang sana.
"Masih di lift Rain" ujar pria itu sembari melirik ke arah Olivia yang sedari tadi hanya diam dengan wajah angkuhnya. Tak beberapa lama pria itu kemudian mengakhiri panggilannya. Pria itu merasa sangat familiar dengan bentuk dagu Olivia.
Tak beberapa lama mereka tiba di lantai yang sama. Karena terburu-buru, pria itu mendahului wanita itu melangkah ke arah sebuah kamar.
Wanita itu hanya menatap jengah ke arah pria itu,
"Aish.. tidak sopan!!" decak Olivia kesal.
"Pak kopernya letakkan di dalam saja, setelah itu bapak boleh langsung kembali ke rumah" ujar Olivia lalu menutup pintu kamar hotel setelah melihat supirnya berlalu keluar. Karena terlalu lelah seharian mengudara. Olivia membaringkan tubuhnya di atas kasur sembari menunggu Denada.
"Kenapa aku harus bertemu dengan pria menyebalkan itu." dengus Olivia cukup kesal. Namun tak beberapa lama senyum manis terbit di wajah putihnya.
Cklek
"Ayo kenapa kamu senyum-senyum."goda Denada menatap Olivia.
"Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan sesuatu." ujar Olivia mengubah ekspresi nya menjadi biasa.
__ADS_1
Denada membaringkan tubuhnya di samping Olivia. Wanita itu tidak tahu tujuan Olivia membawanya ke Indonesia kecuali liburan bersama.
...***Bersambung***...